
Anna kini menangis histeris dia begitu terpukul ketika ayahnya harus di bawah paksa seperti itu, tangan nya kini telah diborgal untuk keamanan mereka semua.
" Ayah.. jangan pergi.. jangan bawah Ayah ku..." Anna menanggis tak karuan di sana ketika mobil Police itu kini mulai berjalan pun dia tetap menanggis. Maria yang melihatnya merasakan iba tapi dia tetap tak bisa berbuat apapun.
' Apa ini juga ulah dari mereka?' batin nya karena memang dari awal Maria tidak tahu rencana apa yang di susun untuk kelompok mereka semua. 'Tapi untuk apa menyerang Tuan Peter, bukan kah urusan ku bersama mereka' batinnya lagi yang bergejolak tak karuan itu.
Andriano tak bisa berbuat apa apa kecuali hanya bisa menenangkan istrinya, dia juga tidak tahu masalah apa yang sedang di alami oleh mertuanya yang jelas masalah ini tidak bisa di diamkan karena sudah melibatkan para Police yang tentunya masalah ini sungguh serius.
" Kenapa Tuan Peter harus di bawah oleh mereka?" Maria kini mendekati kakak nya yang sepertinya kesulitan menenangkan istrinya yang masih menanggis.
Anna dan Adriano yang duduk di ruang tamu secara tiba tiba Anna mendekati Maria memeluknya dengan erat, Maria kini terkejut ketika mendapatkan pelukan yang tiba tiba seperti itu, bahkan di dalam pelukan itu Anna masih saja terus menanggis sedangkan tangan Maria enggan untuk terangkat untuk membalas memeluknya.
" Aku tidak tahu apa kesalahan ayah ku dan kenapa mereka membawa ayah ku pergi hiks hiks..." Tangis nya dari tadi membuat semua orang seakan larut kedalam tangisan nya.
__ADS_1
" Hentikan air mata mu..." Maria kini sedikit mendorong tubuh Anna agar melepaskan pelukannya itu tapi sayangnya pelukan yang begitu erat tak mampu membuat pelukan itu terlepas begitu saja.
" Kau lihat ayah ku sudah pergi, dan aku juga tidak tahu apa kesalahan ayah ku di masa lalu. Maka dari itu aku sungguh meminta maaf kepada ku, karena aku tidak memiliki siapa pun lagi kecuali kalian, hanya kalian keluarga ku. Aku janji akan mengubah sikap ku, aku akan menerima mu sebagai adik ku. Maafkan aku Maria..." Isak nya yang membuat ucapannya tak begitu jelas dan itu membuat Maria masih tetap diam.
Anna melepaskan pelukan itu menatap ke arah Maria dengan mata yang memerah karena tangisan nya tak berhenti sama sekali, dia yang dari tadi masih menahan kesedihan kini harus menghadapai tatapan adik iparnya yang datar.
" Aku sekarang merasakan di tinggal keluarga pergi, dan itu aku rasakan sekarang Maria meskipun ayah ku hanya di bawah oleh para Police tapi hati hancur melihat nya, sekarang aku merasakan kehancuran mu yang di tinggal mendiang ibu mertua pergi selama nya, sekarang aku sadar bahwa keluarga adalah yang terpenting bagi kita. Aku di sini sungguh meminta maaf kepada mu, kesalahan ku mungkin tak bisa aku tebus dengan apapun, tapi aku bersungguh sungguh untuk memperbaiki keluarga kita, aku bahkan akan datang ke kuburan Ibu untuk meminta langsung di sana. Tapi aku mohon maafkan aku, aku ingin kita menjadi keluarga seperti keluarga yang lainnya...." Panjang lebar Anna mengatakannya tapi tak mampu membuat mulut Maria membuka suaranya.
Wajah datarnya dan tak mengatakan apapun hanya mampu di balas oleh Adriano dengan hela nafas yang berat. Sang isti kini seakan merendahkan dirinya hanya untuk mengejar kata kata maaf dari adiknya tapi sayang sang adik tak mampu untuk memaafkan nya meskipun sudah ribuan cara yang di lakukan oleh Anna.
Maria tak bisa berkata apa apa selain anggukan pelan yang dia berikan kepada kedua kakaknya itu dan membuat kedua kakaknya tersenyum tipis. Hati gadis itu kini luluh ketika Adriano mengatakan tentang sang ibu. Mungkin balas dendam itu harus dia kubur dan berdamai dengan kakaknya adalah yang diinginkan oleh sang ibu yang sudah tenang di sana.
" Terima kasih kita akan menjadi keluarga yang bahagia sekarang dan aku memiliki adik sekarang..." Pelukan itu kini di balas oleh Maria, air matanya kini menetes pelukan dari kedua kakaknya tak mampu mengerahkan hatinya yang paling dalam. Pelukan yang hangat yang di rasakan di markas kini dia cari di kedua kakaknya tapi hasil dia tak mendapatkan nya. Pelukan dekat itu sama saja seperti ada jarak di antara mereka.
__ADS_1
Sedangkan Zac hanya mampu menatap ke depan dengan tatapan dinginnya, senyum tipis itu menghiasi wajah kaku dari Singa.
" Bos Police sudah membawa Tuan Peter, dan sebentar lagi para media pasti akan ramai dengan berita penangkapan Tuan Peter."
" Apa kita akan tetap memakai rencana awal kita Zac?" Jonathan kini juga ada di sana dia tidak ingin mengambil keputusan karena dia hanya sebagai pendamping keponakannya itu.
" Kita akan meneruskan rencana yang sudah kita susun, jika kita memikirkan yang awal sepertinya tidaka akan terburu karena Peter sudah di tangkap..." Semua orang yang ada di sana hanya mengangguk menyetujui apa yang di katakan oleh bos nya.
" Lalu bagaimana dengan Maria?" Andre sedikit cemas ketika mendengar bahwa kakaknya menginginkan gadis kecil nya itu tinggal di sana.
" Maria biarlah menjadi urusan ku, kau dan Albert jalan kan saja tugas yang lain. Jangan khawatir Maria akan tetap berada di tangan kita, dia adalah kunci awal yang akan meledak di saat yang tepat."
" Tapi bos jika kita tidak segera mengeluarkan Maria di sana aku takut dia akan berubah pikiran untuk tidak melanjutkan misi awal nya."
__ADS_1
" apa sebaiknya aku batalkan rencana balas dendam ini, aku merasakan iba kepada mereka, jika aku terus berjalan dengan dendam mereka akan hancur. Kepergian ayah nya saja sudah hancur apalagi jika aku menghancurkan nya?, apa aku membatalkan saja rencana ini semua?" Maria kini bingung dia tak tahu harus berbuat apa dendam yang dia bawah kini seakan lenyap tak ada di hati ya meskipun hatinya yang paling dalam tetap ingin melanjutkan semua dendam yang membara tersebut.