
" Kau tinggal di sini sendiri?" wanita ini kini turun dari sepeda besarnya, tadi setelah berbincang bincang dan menghabiskan minumannya, Andre dengan segera mengantarkan pulang wanita yang ingin bunuh diri mengunakan sepedanya.
" Om gak ingin mampir dulu, tapi rumah ku kecil..." Katanya dengan tersenyum tipis.
" Andre sudah ku katakan kau panggil aku Andre..." Andre merasa kesal karena dirinya selalu di kira sudah tua.
Wanita itu menggaruk tengkuknya yang merasa tak gatal karena dirinya salah bicara kepada lali laki yang menolongnya.
" Maafkan aku Andre..." Andre merasa jengah saat ini, moodnya benar benar hancur.
" Baiklah sana masuk."
" Tapi kita jadikan jalankan rencana tadi?" Maria sudah tak sabar untuk membalaskan dendam kepada kakak iparnya itu.
" Kau kondisikan saja jika sudah siap kau bisa menghubungi ku..." Wanita itu kini mengangguk mengerti. " Baiklah aku pergi, jika kau masih berduka jangan datang ke klub karena kau akan merepotkan jika menangis di tempat kerja."
Marian yang ingin menjawabnya kini tak bisa dirinya hanya memajukan bibirnya karena perkataan laki laki itu. Andre yang sudah melakukan bibirnya kini menatap wanita itu dari kaca spion nya, tanpa Andre sadari laki laki bertato itu kini menyembunyikan senyumannya, ada rasa aneh ketika Andre menatap gadis meskipun dari jarak jauh sekalipun.
Sedangkan di tempat tadi Maria kini segera masuk ke dalam rumahnya, dia membuka pintu itu dengan lambat, hatinya kini seakan ada ribuan pisau yang menancap di hatinya. Dia yang tak ingin masuk ke dalam kini hanya berdiri di ambang pintu, kaki nya terasa berat untuk melangkah. Bagaimana tidak, rumah yang selalu dia tinggali bersama sang ibu, rumah yang selalu menjadi tempat di mana dia dan sang ibu bertemu, bercanda, merasakan kasih sayang dan selalu ramai meskipun rumah itu hanya ada mereka berdua.
__ADS_1
Kini rumah itu menjadi sepi, rumah itu hanyalah rumah yang meninggalkan sejuta kenangan yang ada di dalamnya. Pintu itu pun terbuka lebar memperlihatkan tak ada satu nyawa yang ada di dalamnya, hanya sinar matahari yang masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah itu kini sepi tak ada sambutan selamat datang seperti biasanya dia dengar.
Matanya kini berkaca kaca tapi dia harus kuat. perkataan laki laki tadi seakan menggema di telinganya, dia tahu meskipun dia sesedih apapun tak akan mengubah Takdir yang sudah memanggil ibunya untuk kembali.
Wanita itu kini menghela nafasnya dengan berat, menghapus air matanya yang sudah menetes ketika mengigat ibunya. Kini dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumahnya. Maria kini langsung masuk ke dalam kamarnya, menutup kamar itu dengan rapat rapat, dia masih begitu sangat kehilangan ibunya, meskipun dia mencoba untuk tegar nyatanya kehilangan sosok ibu membuat dirinya tak bisa untuk melupakan meskipun hanya sejenak.
" Ibu mungkin benar apa yang di katakan oleh Om Andre tadi, meskipun aku menangis darah pun tak akan mampu membuat ibu bangun lagi. Tapi kenapa aku susah sekali untuk tidak menangis lagi, aku begitu masih sangat kehilangan mu bu. Kenapa kau begitu tega meninggalkan aku bu?, kenapa bu?, hiks hiks..." Tangisannya kini kembali pecah, dia tak sanggup untuk tidak menangis ketika dirinya mengigat ibunya yang baru berapa jam meninggalkannya untuk selama lamanya.
" Jika saja kakak datang mungkin ini tak akan terjadi bu, mungkin saat ini ibu masih ada di sebelah ku. Kau lihat saja ibli* wanita kau akan habis di tangan ku, kau akan hancur di tangan ku..." Katanya dengan penuh penekanan. Dia kini yakin akan membalaskan dendam yang membara kepada kedua kakak nya itu. Andaikan saja kakaknya lebih mementingkan ibunya mungkin sang ibu masih ada bersamanya.
" Tunggu saja balasan ku..." Gumamnya dengan lirik sungguh sungguh. Kini tekad nya sudah tak bisa di bantah lagi, dia yakin dengan apa yang akan dia lakukan, seorang laki laki bertato bernama Andre tadi seakan siap membantu balas dendamnya dan itu malah membuat wanita ini yakin untuk melawan orang yang membuat dirinya dan sang ibu berpisah.
Sedangkan Andre kini sedang memantau sebuah rumah mewah yang begitu megah. Dia melihatnya dari kejauhan dia menatap semua kondisi yang ada di sana. Andre kini kembali melajukan sepeda nya dia mengendari sepeda dengan kecepatan tingginya. Andre kini sudah memiliki rencana untuk menghancurkan mereka.
" Andre selamat datang, kau ingin bertemu dengan Zac?" Valarie kini menyambut kedatangan temannya yang secara tiba tiba datang ke rumahnya.
" Terima kasih Bos, apa Bos Singa ada di dalam?" Meskipun Andre memiliki jiwa yang keras dan kejam dia akan selalu sopan kepada para bosnya. Dia memiliki kesopanan yang tinggi, hanya saja profesinya yang mengharuskan jiwanya yang kejam.
__ADS_1
" Masuklah..." Andre kini mengikuti langkah bos wanitanya, dia memberikan kode menyapa untuk para penjaga yang ada di sana. Penjagaan di rumah itu begitu ketat, Cctv pun bersebaran di setiap sudut rumah itu.
" Duduklah aku akan memanggilnya..." Andre kini mengangguk dia kini duduk di sofa itu dengan menunggu bos nya menemuinya.
Andre kini mengambil ponselnya dia mengetikan sebuah nama, sebuah foto model yang sedang dia incar kini terpampang di bagian depan berada online yang sedang di baca. Andre kini membaca sekilas, ada sebuah rasa marah ketika membaca berita online yang sedang ramai itu.
" Kau mengenal Anna Heney?" Suara lembut dari bos wanitanya mengejutkan dirinya yang sedang membaca artikel artikel tersebut. " Zac masih ada meeting sebentar, setelah selesai dia akan turun. Ada hubungan apa dengan nya?"
" Tidak bos..." Andre secara gugup langsung menutup ponsel itu dia gugup jika setiap kali berurusan dengan bos wanitanya.
" Jangan berbohong pada ku Ndre?" Kini Valarie menatap laki laki itu penuh selidik. Andre yang di tatap intens seperti itu merasa takut bawa bos laki laki nya tahu maka habislah dia.
" Tidak bos, saya hanya penasaran kenapa setiap iklan sekarang memperlihatkan wajahnya, padahal dia tak terlalu cantik, wajahnya biasanya. Bahkan tadi waktu saya meminum kopi seorang pelanggan juga mengagumi kecantikan nya, jadi saya penasaran..." Ujarnya dengan berbohong, alasan utamanya adalah bukan hal ini, tapi ada hal yang lain yang tak bisa di katakan.
Valarie hanya mengangguk, setiap laki laki pasti akan penasaran dengan wajah wanita yang sedang naik daun di kalangan permodelan.
" Kau benar dia memang sedang naik daun, tapi jika saja aku masih bekerja di Agency dia tak akan laku. Dari dulu dia adalah saingan ku tapi selalu aku yang menang, tapi..." Valarie memberikan jeda kalimatnya. " Jangan berurusan dengannya,selain dia sombong dia juga sudah menikah."
" Iya bos saya tidak mungkin ada rasa dengannya, saja hanya penasaran tadi..." Andre kini berkata jujur tak mungkin dirinya menyukai orang yang tak menghargai sebuah keluarganya.
__ADS_1