
" kau masih ingin mengelak dengan semua bukti bukti itu?, kau pikir kami datang kemari tak membawa rencana yang matang?" Jennifer kini berucap dengan nada mengejeknya.
Jeremi hanya bisa menunduk tak berdaya, dia sungguh tak bisa berkutik kali ini. Semua bukti ada di Bawah kakinya, percuma jika dia berbohong ataupun membela dirinya saat ini. Tapi dirinya tak ingin hancur seperti ini karena dirinya tahu nasib apa yang akan menimpah dirinya jika tertangkap basah seperti ini.
" Tuan Steve ini tak seperti yang anda kira, aku bisa jelaskan ini semua. Aku memang sering bersenang senang dengan wanita penghibur tapi aku mengunakan uang ku sendiri-"
" Uang yang kau curi dari perusahan Tuan Zac Kozan..." Jennifer memotong ucapan laki laki itu dengan menekan kata katanya.
" Kau tak akan bisa mengelak lagi Tuan Jeremi, sebaiknya kau akui sebelum kami memaksa anda dengan kasar..." Steve kini menatap laki laki tua itu yang dari tadi masih mengelak perbuatannya.
" Kau cukup berani mencuri ini semua, bahkan angka nya cukup fantastik jika di lihat dari beberapa orang yang telah aku bongkar selama ini..." Jennifer kini menambahi kata katanya dia tersenyum sinis. Jennifer berdiri dan berjalan menuju kearah laki laki itu yang dari tadi hanya menunduk.
" Diam lah wanita sampah. Kau wanita sampah yang tak berguna..." Jeremi kini langsung mengatai Jennifer dengan nada marahnya itu. Jeremi menatap Jennifer dengan kilatan tatapan amarah yang tak bisa di tahan.
Jennifer tertawa di sana menatap orang itu dengan sisa tawanya yang lucu.
" Sampah?, kau mengatakan aku sampah?" Ulanginya dengan tawa penuh mengejek.
" Kau yang sampah tak tahu di untung. Kau sudah mencuri uang perusahan dengan nilai fantastis tapi kau masih tak ingin mengakui nya dan kau malah mengatakan aku sampah?, aku sampah yang bisa membuang sampah seperti mu..." Ucapnya dengan menatap laki laki itu di depannya.
__ADS_1
" Jika kau bukan orang audit kau akan mau jika aku belikan semua yang kau mau, dasar Bi*ch..." Tangan laki laki itu mendorong tubuh Jennifer hingga membuat dirinya terhuyung kebelakang untung dengan sigap Steve menangkap tubuh wanita itu hingga membuat dirinya tak terjatuh ke lantai keras itu.
Kedua mata mereka bertatapan, mata Steve kini terpancar kekhawatiran untung dirinya cepat menangkap tubuh wanita itu.
Steve segera membantu Jennifer berdiri tegap lagi, menatap Jeremi dengan tatapan yang benar benar menakutkan bagi orang yang melihatnya.
" Tuan saya tidak sengaja, saya di bawah emosi..." Ujarnya dengan panik ketika mata Steve terpancarkan kilatan kemarahan.
Plak!! satu tamparan yang di layangkan Steve dengan kasar membuat wanita tua itu langsung terjatuh ke lantai dengan segera. Jeremi menyentuh pipi nya yang terasa sakit serta panas itu.
" Harusnya kau mengakui kesalahan mu dan sadar tentang semuanya, bukannya malah berbuat kasar pada wanita ha..." Nada nya kini tinggi seakan suaranya menggema di setiap sudut sana.
" Ampuni saya tuan, ampuni saya..." Nada penuh permohonan dengan menyentuh kaki Steve yang ada di bawahnya.
" Itu balasan untuk orang yang kasar kepada wanita, kau dengar..." Ucapnya dengan sinis. Jeremi kini mengangguk mengerti.
Sedangkan Jennifer merasa tersentuh ketika ada seorang laki laki membela nya seperti itu. bahkan dia tak pernah merasakan hatinya tersanjung seperti sekarang. Jennifer terdiam dia merasa sangat tersentuh karena dia di bela seperti itu. Meskipun dia tahu bahwa hal itu wajar di lakukan bos nya tapi entah kenapa perasaan nya menghangat ketika tersentuh oleh perilaku Steve.
" Jika sekali lagi kau berani menyentuh wanita itu, ku pastikan tangan mu akan ku lepas dari tubuh mu. Kau paham..." Bentaknya lagi.
" Saya tahu Tuan, maafkan saya..." Ucapnya dengan mencoba berdiri kembali.
__ADS_1
Jennifer kini terdiam ketika mendengar apa yang di katakan kembali oleh laki laki dingin itu, Jennifer benar benar tersanjung di perlakukan seperti itu, bahkan merasa dirinya sangat di lindungi oleh asisten bos nya itu. Pikirannya kacau kali ini, dia kembali tak fokus dengan sikap Steve seperti ini.
Tak berselang lama kini Andre dan Abhi yang biasa melakukan pekerjaan selanjutnya kini membawa laki laki itu dengan satu bentakan yang membuat dirinya takut jika tak segera ikut mereka.
" Baiklah aku akan ikut mereka, tapi saya mohon jangan sentuh keluarga ku, biarkan aku yang menjalani hukuman ini, jangan keluarga ku yang tak tahu apapun..." Nadanya penuh dengan permohonan kepada Steve sebelum dirinya di bawah oleh kedua laki laki itu.
" Jika kau mau bekerja sama dengan mereka, kami janji tak akan menyentuh keluarga mu dan bahkan akan melindungi keluarga mu..." Ucap Steve dengan sungguh sungguh.
" Baiklah..." Akhirnya Jeremi kini mengikuti langkah kedua laki laki itu yang membawa dirinya dengan baik baik. Kali ini Jeremi tak bisa berkutik ketika di bawah oleh kedua laki laki itu.
Sedangkan Jennifer hanya diam, dia tak bisa fokus dengan semuanya. Steve kini membereskan kekacauan yang ada di sana karena ulahnya tadi. Hanya sebentar Steve bisa mengembalikan ruangan itu menjadi rapi. Jennifer yang hanya duduk memperhatikan Steve yang dari tadi tak diam di sana.
" Tunggu sebentar di sini, aku akan memberikan pengumuman kepada staf yang lain..." Jennifer hanya mengangguk mengerti.
Tak lama Steve yang sudah menyelesaikan pengumuman itu kini dia kembali lagi keruangan yang di mana ada wanita Audit yang menunggunya.
" Kita akan kembali ke perusahan, aku harus segera melapor kepada Tuan Zac..." Jennifer kini kembali mengangguk. " Ayo aku bantu berjalan lagi..." Sambungnya dengan segera membantu wanita itu berdiri.
Memang dari tadi Steve membantu wanita itu berjalan dan duduk di sana, karena Steve tahu bagaimana rasa sakit punggungnya di tambah dia tahu siapa yang melakukan itu. Dan tak dapat di ragukan bahwa Suhu yang melakukan dapat di pastikan itu akan butuh waktu lama untuk menyembuhkan nya.
Wajah mereka yang begitu dekat, serta tubuh mereka yang begitu dekat membuat mereka sama sama tercium aroma parfum mereka yang begitu saja membaur di hidung mereka masing masing. Jantung Jennifer kini sudah tak karuan berdetak, bahkan tangan nya yang bersentuhan seperti itu membuat pikirannya terhenti, pikirannya kosong, yang hanya dia pikirkan adalah ingin menyentuh kulit yang ada di balik kemeja milik laki laki itu.
__ADS_1
Sial. Umpatnya dalam hati.
Sedangkan Steve yang merasa acuh sebenarnya juga merasakan hal yang sama tapi dirinya terlalu pandai untuk menutupi semuanya, menutupi apa yang terjadi pada jantungnya.