Wanita Nakal

Wanita Nakal
Wanita Nakal Musim3_ Akan Aku Rebut


__ADS_3

" Hubby kenapa kau sepertinya memiliki dendam sendiri kepada mereka?, apa kau memiliki masalah pribadi?" Val dan Zac kini yang sudah berada di dalam kamar dengan segera sang istri menanyakan apa yang terjadi kepada suaminya.


" Tidak sayang, aku hanya ingin membantu Maria..." Elaknya dengan cepat.


" Jangan berbohong pada ku Hubby, kau tak bisa membohongi ku, aku bisa melihat jelas kemarahan yang ada di mata mu itu. Katakan ada apa?" Zac kini menghela nafasnya dia tahu betul sang istri tak mungkin bisa di bohongi, dia kini menatap istrinya yang dari tadi menatapnya dengan penuh tanda tanya.


" Lebih tepatnya aku ingin membalas dendam kepada mertua dari kakak Maria. Aku sudah menantikan ini bertahun tahun, menghancurkan nama besarnya, menghancurkan perusahan yang dia ambil dari ku, aku juga akan merebut nama kebesaran yang harusnya menjadi nama mendiang paman ku..." Kilatan kemarahan itu tak bisa terelakan lagi saat ini. Ada dendam yang membara di jiwanya. Dendam yang belum terselesaikan.


" Merebut dari mu?, maksudnya?" Val kini di buat bingung karena dia memang tak tahu apapun yang terjadi di masa lalu.


" Aku akan merebut semuanya yang menjadi hak ku sekarang, aku akan mengambil semuanya. Kau akan lihat sepertinya apa suami ini membalaskan dendam yang bertahun tahun tak bisa dia lakukan..." Val kini yakin masalah bawa masalah suaminya lebih sulit di bayangkan.


Flashback On.


" Paman Yun.. Pama.. kau di mana, aku sudah datang..." Zac Waktu mungkin masih remaja yang dia tak tahu apapun, dia masih remaja yang hanya mengerti tentang bermain dan senang senang.


" Steve sepertinya Paman tak ada..." Zac kini menghempaskan pantatnya ke sofa besar yang ada di ruangan tamu sedangkan Steve adalah teman.


" Benar bos, rumah ini sepi. Mungkin Paman masih berada di kantor nya..." Rumah mewah itu seakan tak berpenghuni, rumah itu menjadi sepi.


" Kau tak bisa berbuat curang seperti ini pada ku Peter, kau tak bisa tiba tiba seperti ini..." Teriakan yang Lantang itu mengejutkan kedua anak remaja yang ada di sana. Suara paman Yun kini seakan bernada tinggi dengan emosi yang benar benar tak tertahan.


" Kenapa tak bisa Yun sayang, ini sudah ada buktinya dan kau harus turun dari kebesaran mu, perusahan itu sekarang menjadi milikku..." Ujar dengan sinis.

__ADS_1


Laki laki tua yang bernama Yun itu kini langsung maju dan mencengkram baju Peter dengan kuat. Matanya memancarkan dendam yang begitu membara.


" Kau penipu, kau mencuri milik ku, kau membohongi ku dengan cara mu yang licik..." Ucapnya dengan penuh penekanan.


Peter menghempaskan tangan keriput serta tubuh yang bergetar itu dengan kencang, Hinga membuat mereka saling berjauhan.


" Kau sudah tua, tak perlu mengurus perusahan besar itu, sekarang giliran aku yang mengurusnya. Kau nikmati saja masa tua mu itu..." Ejeknya dengan membenarkan baju dari Yun.


" Dasar licik, aku akan mengambil kembali apa yang menjadi hak ku, aku akan ambil kembali yang menjadi milik ku yang kau curi itu..." Ujarnya dengan penuh penekanan.


Peter kini tertawa keras dengan dia mengejek penuh kearah Yun. Sedangkan Yun kini malah menatapnya dengan amarah yang tak tertahan. Dia begitu merasakan kecewa kepada Peter, orang terdekatnya yang sengaja memiliki niat Lian.


" Semua pemindahan perusahan mu sudah kau tanda tangani di depan para pengacara juga waktu itu, dan nama mu itu juga pindak menjadi milik ku. Yun Henney, nama ku sekarang adalah Peter Henney..." Ucapnya dengan tertawa penuh kemenangan. Peter kini menang karena dia memiliki semua surat kuasa pemindahan aset aset itu serta nama nya yang sudah berganti itu.


" Jadi kau jangan berani macam macam, karena itu akan percuma. Karena aku akan tetap menang meskipun di pengadilan sekali pun. Kau dengar itu tua Bangka..." Ucapnya dengan mencengkram kedua pipi Yun yang masih tertegun dengan semua masalah yang menimpa nya.


Bruak!!! pintu itu yang di buka paksa membuat suara yang begitu keras, membuat Peter yang ada di dalam terkejut karena dia pikir tak ada siapa pun di dalam rumah itu.


" Zac, Steve..." Liriknya dengan pelan.


" Paman Yun..." Zac segera berlari ke arah pamannya yang sedari tadi hanya terdiam dia masih terkejut dengan ini semua.


" Kau apakan paman Yun he?" Steve kini langsung menarik Peter keluar dia mendorong tubuh Peter dengan kasar.

__ADS_1


" Paman kau tak apa?, buka suaramu ada apa?" Suara keponakannya itu membuat Yun langsung melihat kearahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Paman jangan berkata apa apa, aku sudah mendengarkan semuanya yang di lakukan oleh paman Peter..." Laki laki itu kini langsung memeluk keponakannya itu, hanya Zac yang tahu apa yang terjadi kepada hatinya itu.


" Paman aku akan mengambil kembali apa yang menjadi hak paman..." Ucapnya.


" Akan sulit nak karena dia memiliki dokumen dokumen penting..." Ujarnya dengan merasa begitu sedih.


Bug!!! Steve kini melemparkan tubuh Peter di bawah kaki Yun. Mereka tadi yang sempat bertarung kini di menangkan oleh Steve, laki laki muda yang sudah bisa mengalahkan orang tua seperti Peter.


Kedua orang itu kini merasa terkejut ketika melihat Peter babak belur dan berada di bawa kaki nya.


" Kau minta maaf atau tidak ha?" Bentakan dari Steve membuat Peter hanya tersenyum.


" Lebih baik aku mati di banding harus meminta maaf kepada nya..." Senyum licik itu sungguh tak terelakan di sana.


Peter kini dengan segera bangun dan langsung menggapai Vas bunga dan langsung menyerangnya dengan Melemparkan Vas itu kepada Yun yang mengenai kepalanya.


Peter segera berlari meninggalkan tempat itu letakan mereka pada sibuk dengan Yun yang ambruk dengan luka di dahinya.


" Paman buka matamu, aku mohon..." Zac kini langsung menepuk kedua pipi pamannya ketika sang paman hanya memejamkan matanya.


Yun kini sedikit membuka matanya, dadanya terasa sesak. Jantungnya kini terasa sakit.

__ADS_1


" Zac keponakan paman, kau harus ambil yang menjadi milik paman itu, Peter mencurinya semuanya dari Paman. Perusahan serta identitas Paman. Jangan melawan nya di pengadilan nak karena kau akan kalah,lawan dia dengan cara menyerangnya..." Paman Yun yang setengah menahan rasa sakit kini menatap keponakannya yang sudah penuh kekhawatiran menatap dirinya yang sudah tergeletak di lantai tak berdaya.


__ADS_2