
Tak butuh waktu lama Andre dengan cepat menyerang markas dari Lucas Borve itu, pertempuran di sana tak terhindari lagi, bahkan suara tembakan sangat banyak di dengar, suara teriakan kesakitan juga terdengar di sana. Para anjing serta singa milik Jonathan kini dengan senang mencabik lawan nya menjadikan tubuh manusia itu santapan yang paling mengenakan.
Satu jam perlawanan itu terjadi, kini musuhnya di pukul mundur oleh kelompok yang di pimpin oleh Andre sendiri. Para mayat tergeletak tak bernyawa di sana, semua musuh tunduk di kaki Andre kali ini, dan Lucas Borve pimpinan itu kini juga terduduk memohon ampun dengan luka tembak di lengan nya.
" Jadi hanya segini kekuatan mu, memalukan..." Andre Mencibirnya dengan nada meremehkan.
" Ampuni kami bos, ampuni kami. Tapi saya tidak tahu apa kenapa anda tiba tiba menyerang markas kami..." Kini Lucas yang berbicara dengan nada memohon ampunan.
" Bos ku ingin bertemu dengan mu, tapi jika kau berbohong jika di tanya bos ku, akan ku roboh mulut sampah mu itu..." Ancam nya dengan memainkan pisau di wajah laki laki yang tertunduk ketakutan.
Lucas hanya menelan ludah kasarnya dia berfikir siapa yang sedang menyerang mereka kenapa kekuatan mereka tak ada tandingan nya sama sekali dengan kekuatan orang orang nya.
" Andre..." Bariton itu membuat Andre berdiri dengan cepat.
" Bos saya sudah melumpuhkan lawan kita."
" Aku kira akan butuh waktu lama tapi hanya sebentar, kopi ku saja belum habis..." Nada kecewa dari Jonathan kini di tangkap oleh orang orang nya.
" Kau yang bernama Lucas Borve?" Laki laki itu mengangguk, dia mengingat dengan keras apa ada laki laki yang dia ingin bunuh beberapa hari ini, tapi dia tak menemukan wajah laki laki itu.
" Aku tak ingin bertele tele siapa yang menyuruh mu membunuh saudara ku?"
" Siapa saudara anda?"
" Adelio Phelix..." Lucas nampak terkejut ketika Jonathan mengatakan nama itu. " Kau tahu nama itu?, katakan siapa yang menyuruh mu?" Sambungnya lagi.
Lucas terdiam dia tak mungkin mengatakan siapa yang menyuruhnya tapi dia juga takut jika dia berbohong ataupun tak mengatakan nya.
__ADS_1
" Katakan atau ku robek mulut mu itu..." Nada geram dari Andre mengejutkan Lucas seketika.
" Kau tak ingin menjawabnya?, kau memilik di robek mulut mu dengan orang orang ku?"
" Tidak, jangan lakukan. Aku hanya melakukan apa yang di suruh orang itu. Aku tak tahu bahwa Adelio Phelix adalah saudara kalian."
" Jangan bertele tele, katakan siapa yang menyuruh mu. Aku hanya butuh nama nya tidak butuh ocehan mu..." Nada penekan dari Jonathan membuat rasa kesal karena laki laki itu.
" Tuan Simon Arce..." Jonathan tak percaya dengan nama yang di ucapkan oleh laki laki itu.
" Kau yakin dengan nama itu?"
" Saya yakin Tuan, karena tuan Simon sendiri yang datang kemari."
Sayatan di pipi Lucas membuatnya merintih kesakitan tapi dia tak berani berteriak sama sekali. " Katakan pada simon bahwa kau mundur dari misi nya, jika aku masih melihat orang mu mendekati saudara ku, tak hanya kau saja yang aku kejar, tapi anak serta cucu mu juga aku kejar, kau ingat itu..." Lucas mengangguk mengerti dengan apa yang di katakan orang di depan nya itu.
" Bereskan aku akan pergi..." Andre mengangguk mengerti.
" Mereka tak menjawab nya Kris, hubungi pengawal mereka..." Kris dengan cepat menghubungi para pengawal mereka.
Wajah Kris langsung berubah panik ketika mengetahui di mana mereka berada. " Kris ada apa?"
" Tuan Adelio serta sang istri sedang makan malam bersama tuan Simon bos."
" Apa?, di mana mereka?, sial.. kita harus cepat Kris." Kris tak peduli malam itu mereka menembus jalanan malam kota tokyo dengan kecepatan tinggi, tempat di mana mereka dan tempat di mana Adelio itu cukup jauh dan membutuhkan waktu yang begitu lama.
Satu jam mereka menembus jalanan kota itu, tapi di persimpangan kota itu ada sebuah mobil yang sudah terguling dengan luka parah di bagian depan nya. Kris memelankan mobil nya dengan mengamati mobil siapa itu.
Jantung Kris serta Jonathan berdegup kencang ketika melihat samar samar korban yang ada di dalam mobil. " Tuan..." Ucapnya dengan gugup.
__ADS_1
Jonathan berlari dengan cepat ketika mobil yang dia naiki kini berhenti. Jonathan menerobos para police yang ada di sana dengan nada kesal nya.
" Lio..Lio bangun..." Jantung Jonathan berdegup tak karuan ketika benar siapa yang dia lihat tadi. " Buka mata mu..." Sambungnya dengan menepuk pipi sahabat nya itu.
" Jonathan.. kau di sini..." Katanya dengan berbatuk darah.
" Aku tahu siapa yang menyerang mu, jangan pergi please..." Katanya dengan panik.
" Istri ku pergi, aku harus pergi..." Matanya menangkap sosok istrinya yang sudah di tutupi oleh kantong jenazah.
" Tuan kita angkat dulu, kita bahwa dulu ke rumah sakit..." Jonathan menjauh dan membiarkan para medis membawa nya ke dalam mobil ambulance.
" Kris aku akan ikut mobil mereka..." Kris mengangguk mengerti, dia memperhatikan bahwa kedua pengawal nya itu juga tak bernyawa saat ini. Entah apa yang terjadi sebenarnya, tapi dia melihat ada busa di mulut kedua pengawal itu.
Mereka di racuni. Batin nya dengan kesal.
" Jonathan mendekat lah..." Jonathan yang sudah duduk di dalam mobil ambulance itu langsung mendekat ketika sahabatnya ingin berbisik kepada nya.
" Aku memiliki seorang putri Jo, jaga dia seperti anak mu sendiri, dan aku menyembunyikan identitas nya sebagai keluarga Phelix, jaga dia, lindungi dia dari musuh musuh ku, jangan usik Abhi Jo, biarkan dia berkembang dengan usahanya, dan jangan biarkan dia mengusik kelompok mu, aku tak ingin kalian bertengkar."
" Kau akan baik baik saja, tetaplah bersama ku, jangan pergi. Aku tak ingin menjaga keluarga mu, kau sendiri yang harus menjaga nya."
" Jaga mereka demi aku Jo..." Hembusan nafas terakhir itu sangat terlihat jelas di mata Jonathan kali ini.
Para medis dengan segera memancing jantung pasien nya ketika mereka kehilangan jantung dari pasien itu. Jonathan meneteskan air mata nya ketika menyadari bahwa sahabatnya itu kini pergi. Rasa bersalah itu tak pudar dari hati dan pikiran nya saat ini.
" Andaikan aku lebih cepat ini tak akan mungkin terjadi, Lio pasti masih hidup sekarang..." Liriknya dengan sedih.
" Tuan maafkan kami..." Tangisan Jonathan kini semakin deras ketika seorang dokter mengatakan bahwa laki laki itu sudah tak bernyawa lagi.
__ADS_1
Simon kau akan menggantinya dengan nyawa mu, kau akan mati di tangan ku setelah ini. Rahang Jonathan mengeras ketika dia tahu siapa dalang dari meninggalnya sahabat itu.