
Kini Jennifer dan Steve berada di dalam satu mobil yang sama dengan mereka sama sama duduk di belakang sedangkan yang ada di depan sang supir dan satu pengawal untuk mereka berdua. Jennifer bahkan tak berani membuka suaranya ataupun menatap laki laki yang ada di depannya itu, sedangkan Steve kini sibuk dengan ponselnya dia mendapatkan email dari seseorang. Dia tersenyum sinis ketika membaca emil yang masuk di dalam ponselnya itu.
" Kenapa kau jadi pendiam sekali?" Suara Steve mengejutkan Jennifer dari lamunannya. Dia terlalu keras berpikir hingga dirinya terkejut dengan langsung menatap laki laki yang ada di samping itu.
Wajah Steve begitu dekat hingga hembusan nafas itu seakan menyapu wajah Jennifer. Jantungnya terpacu lagi dengan cepat, aliran darah itu begitu cepat mendesir dari ujung kepalanya. Dia langsung kembali menatap ke depan, dengan cepat menguasai dirinya yang ingin melompat menggapai bibir laki laki itu. Untung akal sehatnya segera menyadarkan dirinya dengan cepat.
" Tidak, aku hanya sedang tak enak badan. Mungkin cidera punggung ku harus aku periksa ke dokter..." Elaknya dengan mencari alasan.
" Kita ke rumah sakit sekarang..." Jennifer terkejut ketika sebuah tangan menyentuh punggung nya. Dia gugup seketika. Matanya kembali menatap laki laki itu yang juga menatapnya dengan tatapan serius.
" Tidak.. aku tidak apa apa..." Jawabnya dengan gugup.
Steve tersenyum tipis ketika mendengar wanita itu berucap dengan gugup bukan main. Jennifer lagi lagi menelan ludah kasarnya ketika tangan laki laki itu memang dengan sengaja memberikan sedikit pijatan di punggung nya.
" Tuan Steve aku tak apa..." Tolaknya dengan menyentuh tangan laki laki itu.
" Apa jantung mu juga bermasalah?"
" Ha?, apa?" Jennifer mencoba menahan malu nya ketika Steve dengan sengaja bertanya tentang hal itu.
" Jantung mu bermasalah?, apa kita perlu ke dokter lebih dahulu..." Tawarnya dengan cepat.
" Tidak perlu..." Tolaknya dengan cepat. " Sejak di banting kemarin jantung ku memang tak normal tapi tak apa..." Sambungnya dengan mengatakan dengan cepat.
Steve hanya menahan tersenyum nya ketika melihat wajah wanita itu memerah menahan rasa malu nya itu. Steve tersenyum kecut dengan apa yang dia lihat itu.
Steve juga tak bisa menghindar bahwa dirinya juga merasakan jantung yang terpompa begitu cepat, tapi dirinya bisa dengan cepat menguasai dirinya jika ada di depan wanita itu.
__ADS_1
Kini mereka sama sama diam kembali dengan pemikiran mereka masing masing.
Kini mereka sudah keluar dari mobilnya, Steve yang sudah siap membantu wanita itu tak jadi ketika tangan wanita itu mengatakan untuk tidak perlu.
" Saya sudah bisa jalan sendiri Tuan Steve, terima kasih sudah mengkhawatirkan saya..." Tolaknya dengan cepat, padahal dirinya tak ingin berada di dalam bahaya seperti kemarin. Pikiran liarnya yang kemarin membuat dirinya menahan malu hingga kemarin, dia tak ingin hal yang tidak diingkan malah membuat hal semua rencananya berantakan.
" Baiklah kalau begitu..." Jawabnya dengan santai.
Kini mereka masuk ke dalam perusahan di mana perusahan itu bergelut dengan jasa pengacara, Alber yang ada di sana memang menyuruhnya datang untuk mengecek beberapa dokumen yang dia curigai dari salah satu perusahan milik Alex. Albert kini menjadi pengacara dari perusahan Alex yang tiba tiba di tuntun tentang hal penipuan. Mereka mengatakan bahwa saham serta laba yang ada di catatan mereka tak sama dengan dana kas yang ada di perusahan. Salah satu dari penanam saham seakan ingin menjatuhkan Alex dengan memberikan data data palsu, tapi Albert juga perlu bukti bahwa data keuangan itu memang palsu. Tapi jika di lihat dengan seksama tak akan ada yang tahu, tapi jika seseorang Audit yang bekerja, Albert yakin kesalahan sedikit saja bisa di ketahui.
Steve tetap berjalan pelan karena rekan bisnis juga berjalan pelan, dia tahu wanita itu masih menahan rasa sakit tapi dia tetap tak ingin di bantu oleh dirinya. Steve tetap tak menyentuh wanita itu karena tadi dia sudah mengatakan untuk tak perlu di bantu.
Kini mereka masuk ke dalam ruangan Albert, mereka berdua kini duduk di sana dengan pekerjaan mereka masing masing. Albert yang dari tadi sibuk dengan panggilan masuknya kini mondar mandir di sana dengan panggilan telfon.
Sedangkan mereka berdua masih tetap menatap dokumen yang ada di tangan mereka masing masing.
Steve melirik wanita itu yang sedang serius memeriksa dokumen dokumen itu. Steve berpikir keras dengan emil yang di lihat tadi. Tapi dia tak terlalu pusing.
Drt!! Drt!! Drt!! pesan singkat dari ponsel Jennifer membuat wanita itu membukanya dia merasa cemas ketika pesan itu dari bos nya.
*Mr,X
Aku tahu kau ada di gedung pengacara itu, dan pengacara itu sedang keluar. Ini kesempatan mu untuk mencari sesuatu di sana. Jika kau ingin segera menyelesaikan ini semua maka cepat cari yang aku mau*.
Pesan itu membuat wanita itu tak percaya, bosnya seakan menekan dirinya saat ini. Dia tak peduli dengan nyawanya jika di ketahuan saat ini. Yang jelas bos nya bisa menemukan apa yang dia cari.
__ADS_1
Dia mengumpankan aku di sini. Dia tahu dari mana aku ada di sini. Dia memberi mata mata untuk ku, sialan. Batin nya dengan rasa kesal.
Steve yang dari tadi mengawasi nya dari ekor matanya menangkap wajah wanita itu yang tiba tiba cemas dan tiba tiba menjadi kesal.
Steve dari tadi mengawasi semua gerakan wanita itu yang kembali tak tenang duduk di sana. Kadang dia berdiri dan kadang dia duduk dengan kasarnya. Seakan punggungnya sudah tak terasa sakit, atau memang tak dia hiraukan.
" Ada apa dengan mu?, sejak kau membaca pesan kau jadi panik?" Sebuah pertanyaan dari Steve membuat wanita itu langsung menoleh ke arah laki laki itu yang menyandarkan punggung nya.
" Tidak, punggung ku hanya terasa panas..." Lagi lagi wanita itu berbohong, dia tak bisa mengatakan hal yang sejujurnya.
" Kau sungguh tak apa apa?" Steve tentu saja tak percaya dengan apa yang di katakan oleh wanita itu. Mimik wajahnya tak mengatakan dirinya baik baik saja.
" Aku sungguh tak apa, hanya punggung ku terasa panas..." Jawabnya dengan mencoba tersenyum dan kembali duduk di sana.
" Jika ada yang menganggu mu katakan, aku akan membantu mu untuk memukul orang itu..." Steve yang berkata seperti itu langsung mendapatkan tatapan gugup dari wanita itu.
Jennifer langsung berdiri dari duduknya dia panik dengan apa yang di katakan oleh laku laki itu. Steve ikut berdiri mengikuti wanita itu dari belakang, dan Jennifer panik ketika berbalik ternyata Steve berada di belakangnya dengan dekat.
" Siapa diri mu sebenarnya Nona Jennifer?"
Bersambung ya mak 🤭
Selamat Hari Weekend 🤩🤩
Budayakan tinggalkan jempol dan ramaikan kolom komentar dulu dong mak 🤭 Kasih vote dan hadiah nya juga dong buat mince 😁 agar mince tetap semangat nulis 😍😍😍
Ini nomer mince ya mak 081324594302 kalian hubungi mince, kita ngehalu sama sama mak 😂 kalian jika mau hubungi mince pakai sandi ya mak, jawab pertanyaan mince.
__ADS_1
Siapa nama abang mince yang masih ada darah sepupu dengan Jonathan Cristopher?, itu sandi nya para mak mak yang tahu.
Terima kasih buat kalian semua ya 😘😘😘