
Hampir satu dan dua jam perjalanan yang mereka lakukan kini mereka telah tiba di sebuah rumah yang berornamen kayu serta di kelilingi pantai yang indah. Air yang biru serta suara ombak kini menyambut kedatangan mereka semua. Valarie yang dari tadi tidur selama perjalanan membiarkan suaminya fokus pada jalan. Sedangkan di mobil lain Abhi mengerutkan keningnya ketika mereka berhenti di sana. Steve dan Albert kini segera turun dengan mengecek seluruh sekitar area tersebut. Sedangkan yang lain kini juga melihat sekeliling kabin besar itu. Mereka kini ingin lari dan bersembunyi terlebih dahulu karena ada orang yang mungkin masih keadaan berduka. Mereka sebenarnya tak takut tapi untuk menghindari masalah dan menenangkan hati serta pikiran butuh istirahat sejenak sebelum rutinitas mereka menunggu. Di musim dingin tak ada pekerjaan yang terlalu penting.
" Honey bangun kita sudah sampai..." Zac mencium pipi istrinya yang dari tadi tidur. Dia tahu istrinya tidur karena masih enggan bicara dengan nya karena sang istri masih marah padanya.
Valarie hanya menggeliat, dia membuka matanya dengan pelan pelan. Telinga nya menangkap suara desiran ombak yang begitu kencang. Kini Val dengan segera membuka matanya dan menatap sekelilingnya dengan nyawa yang sudah pulih.
" Kita tak kembali ke rumah?" Tanyanya dengan bingung.
Zac yang merasa gemas karena istrinya bertanya dengan wajah bingung nya kini menarik tangan istrinya, mendaratkan ciuman di bibirnya. Meluma* nya dengan kasar, menerobos ke mulut istrinya, meskipun istrinya sedikit memberontak dalam ciuman itu. Zac kini malah menarik lida* sang istri, menghisa* nya dengan segera. Val melenguh karena ciuman kasar yang di berikan suaminya itu.
Val memukul dada Zac dengan keras ketika oksigen tak ada di ciuman itu. " Kau ingin membunuh ku he?" Val marah marah ketika ciuman itu hampir menghilangkan nyawanya.
" Tentu saja tidak sayang, kau tahu aku tak akan membunuh mu..." Jawabnya dengan senyuman manisnya dan tanpa merasa bersalahnya.
" Sudahlah..." Val yang ingin dari mobilnya kini harus tertahan karena mobil itu di kunci oleh sang suami. Valarie menatap suaminya dengan memberikan kode agar suaminya membuka pintu mobil itu.
__ADS_1
" Honey kau tak boleh keluar dulu sebelum mereka mengatakan aman pada kita. Aku tak ingin ambil resiko membahayakan istri ku, musuh ada di mana mana..." Val menghela nafasnya ketika mendengar alasan dari suaminya.
" Inilah resiko menikah dengan Mafia..." Sindirnya dengan halus.
" Tapi kau menyukai mafia ini sayang..." Godanya dengan mencium punggung tangan istrinya yang masih dalam keadaan marah padanya.
hampir tiga puluh menit area itu di periksa dan Steve mengatakan bahwa tempat itu aman serta para pengawalnya kini menyebar dengan mata matai tempat itu dari kejauhan. Tim hantu nya kini bereaksi lagi untuk melindungi bos nya. Para sniper juga tak luput dari memantau dari kejauhan tapi kali ini mereka tak ada di pohon atau di gedung kini mereka hanya mondar mandir di area tersebut.
Kini mereka semua masuk dengan segera, menuju kursi yang ada di depan, sofa panjang untuk menampung beberapa orang yang ada di sana.
" Kakak kau tak apa?" Val yang dari tadi ingin menghampiri kakak nya kini akhirnya bisa memeluk kakaknya lagi meskipun banyak darah di baju serta sedikit wajahnya.
" Aku tak apa, aku baik..." Jawabnya di isak tangis.
" Jangan menangis, kakak baik baik saja. Tak ada yang perlu kau tangisi lagi..." Sang kakak melepaskan pelukan itu, menghapus air mata adiknya. Memeluk adiknya serta menghapus air mata adiknya lagi adalah hal yang membahagiakan untuk dirinya. Kemarin mungkin dia ketakutan untuk tak bisa bersama sang adik tapi berkat bantuan semua orang dia tetap bisa menjalankan tugas sebagai kakaknya.
__ADS_1
" Aku bahagia kakak tak kenapa kenapa, dan aju juga senang ternyata bukan kakak yang berkhianat. Jika kakak berkhianat aku tak akan bisa berdiri di antara dua kubu yang saling bermusuhan lagi..." Abhi mengelus rambut adiknya penuh kasih sayang, semua orang yang melihat adegan itu yakin bahwa Abhi memiliki jiwa penyayang.
" Kakak akan berdiri di sebelah mu meskipun kau berdiri di kobaran api pun kakak akan berdiri di sana bersama mu..." Perkataan Abhi membuat hari Valarie tersentuh bukan hanya Valarie sang adik tapi wanita yang dari tadi menatap adegan seorang kakak bertemu dengan adiknya, mencurahkan kasih sayang kepada adiknya membuat Monica hanya tersenyum dalam hati nya. Bukan hanya Valarie yang senang mengetahui dirinya bukan pengkhianat tapi Monica juga sangat senang mengetahui kenyataan ini.
" Kau istirahat oke, semua masalah sudah selesai..." Val mengangguk dengan senyuman kebahagian. " Bos bisa kah kau membawa adik ku ke kamar nya?, dia butuh istirahat..." Sambungnya dengan bicara kepada adik iparnya itu.
" Jangan memanggil dia bos kakak, dia tetap adik ipar mu jangan lupakan itu..." Jawabnya dengan sinis. Sedangkan orang yang di sana hanya menelan ludah kasarnya mendengar suara bos wanitanya yang dingin, mereka tabu bahwa bos wanita tengah marah kepada Singa nya.
" Ayo honey kita ke kamar..." Zac dengan cepat merengkuh pinggang istrinya. " Kalian istirahat atau kemana pun terserah. Kita di sini untuk berlibur sebentar..." Sambungnya dengan menatap kearah mereka semua.
" Baik bos..." Jawab mereka dengan bersamaan.
Kini Zac dan Val berjalan menuju ke kamar mereka yang berada di paling ujung dengan pemandangan yang langsung ke arah lautan yang begitu indah. Vak tetap memasang wajah marahnya meskipun dia tak menolak perilaku suaminya yang mesra terhadap dirinya.
Zac membuka pintu kamar itu, yang pertama di lihat Val adalah ornamen kayu itu begitu indah, ranjang nya pun juga terbuat dari kayu yang mengantung dengan tirai penutup putih yang menambah kamar ini begitu cantik dan sangat sempurna. Valarie duduk di sana dengan melihat ada kolam renang di ujung dalam kamar itu. Valarie berjalan menuju kolam renang yang berwarna biru tua. Air nya yang hangat membuat semua orang ingin menceburkan dirinya ke dalam sana.
__ADS_1
" Kau masih marah pada ku?, maafkan aku please. Aku tahu aku salah sudah bicara kasar pada mu..." Zac memeluk istrinya dari belakang menyandarkan dagu nya ke bahu istrinya memeluk istrinya dengan erat mengatakan maaf kepada dirinya. " Jangan diamkan aku seperti ini terus, dada ku terasa sesak jika kau seperti ini..." Sambungnya dengan berbisik lembut di telinga nya. Val hanya diam di tak menjawabnya sama sekali.
Val sebenarnya tak terlalu marah ketika dia sudah meminta maaf kemarin tapi laki laki harus di beri pelajaran agar tak muda membentak istrinya begitu saja.