Wanita Nakal

Wanita Nakal
Wanita Nakal Musim3_ Matahari Seakan Tenggelam 3


__ADS_3

Cit!!!!!!! suara ban yang di rem mendadak membuat wanita itu menutup kedua telinga nya dengan kedua tangannya, wanita itu kini berjongkok ketika suara ban itu mendekatinya. Seakan dirinya pasrah ketika saja dirinya di tabrak oleh sepeda yang sedang melaju kencang itu. Pengendara sepeda itu kini menatap kesal kearah wanita yang hanya berjongkok dengan menutup kedua telinganya itu.


Orang itu kini turun dari sepeda nya dia langsung menghampiri wanita yang sedang berjongkok itu. Tangan nya kini meraih kedua pundak wanita itu membangunkan dirinya dari jongkok nya.


" Kau ingin mati ha?" Teriaknya dengan membentak. " Jika kau ingin mati jangan jadikan orang sasaran, kau bisa lompat dari gedung atau kau bisa lompat ke lautan. Jika kau tertabrak tadi aku yang repot dan berurusan dengan police..." Sambungnya lagi dengan suara kencangnya.


Wanita itu mengangkat wajahnya menatap orang yang marah marah padanya, kedua mata itu bertatapan dengan rasa sama sama terkejutnya, orang yang mereka tahu sebelum kejadian ini.


" Kau..." Laki laki itu tak menyangka wanita yang ingin bunuh diri kini adalah bariste yang bekerja di klub malamnya.


" Om pemilik klub malam..." Gumamnya dengan lirik pelannya. " Kenapa anda tak menabrak ku saja tadi, aku ingin mati saja, hidup ku hampa tak ada lagi matahari yang menyinari ku lagi om..." Tangisan itu kini kembali pecah, air matanya kini terus saja menetes keluar dari matanya.


" Cih!! kau putus cinta tapi kau sudah seperti kehilangan seluruh jiwa mu..." Ejeknya dengan sinis.


" Aku kehilangan cinta dari sosok ibu ku om, bukan kehilangan cinta dari seorang pria. Wanita yang melahirkan aku kini sudah pergi selama lama nya, dia pergi dengan meninggalkan aku yang hanya sendiri di sini, hiks hiks..." Tubuhnya terguncang hebat, laki laki itu kini mengerti kenapa wanita itu begitu menangisi seseorang yang sudah pergi.


" Kau kehilangan ibumu?" Wanita itu kini mengangguk pelan dengan air mata yang terus saja menetes. Laki laki itu tak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tak biasa menghadapi seseorang yang menangis di depan nya.


" Bro jangan bertengkar di tengah jalan kau menganggu jalan kami, minggir..." Teriakan dari pengendara lain membuat laki laki itu kini langsung menatapnya dengan mengangguk seperti meminta maaf.


" Ajak kekasihmu pergi dari sana, jika kalian bertengkar selesaikan dengan baik baik, tak perlu bertengkar di tengah jalan..." Sambungnya lagi menuduh kedua orang itu adalah sepasang kekasih.

__ADS_1


Merepotkan sekali, ya Tuhan. Jika aku tinggalkan pasti aku akan di bilang brengse*, sial. Umpat laki laki dengan kesal.


" Ayo naik, jangan nangis di sini..." Katanya dengan sinis, Laki laki itu mau tak mau kini harus mengajak wanita itu ikut bersamanya.


Maria yang tak memiliki pikiran yang macam macam kini dia segera naik ke sepeda yang di kendari laki laki itu. Orang itu kini dengan segera melajukan sepeda nya membawa wanita itu ke tempat di mana wanita itu bisa menangis seharian tapi tidak di tempat umum seperti tadi.


Wanita itu kini secara spontan memeluk pinggang laki laki itu ketika dia mengendari sepeda nya dengan kecepatan tingginya. Laki laki itu kini fokus membawa wanita yang berada di belakangnya yang masih merasakan kesedihan. Sedangkan wanita itu kini masih menangis di sana, bahkan baju yang di kenakan oleh laki laki itu kini sedikit basah karena air mata dari nya.


Kedua orang itu kini segera turun ketika sepeda itu berhenti di sebuah pinggiran kedai yang berada di pinggiran pantai yang luas. Wanita itu kini segera berlari menuju kearah pantai yang terbentang luas di depan matanya.


Laki laki itu kini memesankan minuman untuk mereka berdua dan segera menyusul wanita yang sudah berada di depan pantai itu.


" Sudah jangan menangis lagi, jika kau terus menangis ibu mu akan merasa sedih karena melihat putrinya menangisi kepergiannya..." Laki laki itu kini bersuara dengan lembut membuat wanita itu menoleh kearahnya dengan langsung.


Laki laki itu kini membuang nafasnya dengan kasar dia menatap ke depan dengan sedikit mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu yang membawa nya harus berlari mencari perlindungan.


" Kau salah, aku kehilangan kedua orang tua ki semenjak aku kecil, bahkan aku harus menjadi kakak tunggal dari adik ku wanita yang suka dengan bahaya, bahkan hidup kami lebih susah dari yang kau bayangkan. Kami harus berlari kesana kemari, mencari uang dengan mencuri, mencari makan dengan mencuri, aku dan adik ku berlari lari ke sana kemari hanya untuk bersembunyi dan mencari perlindungan dari orang orang yang mengejar kami. Hingga suatu hari kami bertemu bos ku dan mengangkat aku seperti sekarang. Hidup ku juga tak mulus seperti yang kau kira, hidup ku lebih kejam dari yang kau bayangkan..." Secara tidak langsung laki laki itu menceritakan nasib masa lalu nya dia ingat betul bawa dia harus menyembunyikan adiknya yang selalu menjadi buronan police itu. Hidupnya tak mulus seperti orang kira, dia sampai di titik ini pun juga perlu perjuangan yang tak muda.


" Maafkan aku..." Wanita itu menyesal ketika dia tadi mengatakan bawa laki laki itu tak pernah merasakan kesedihan dan duka. " Masa lala mu lebih kejam dari ku rupanya..." Senyumnya kini tipis.


Laki laki itu kini hanya membalasnya dengan senyum tipis di bibirnya, mereka kini menatap kearah depan dengan pemikiran mereka masing masing.

__ADS_1


" Jangan tangisi orang yang sudah pergi, karena itu percuma. Sekali pun kau menangis hingga air mata mu berubah menjadi darah maka tak akan mampu membuat orang itu bangun, mereka akan tetap berbaring di sana dan air matamu tak mengubah Takdir..." Wanita itu kini diam apa yang dikatakan nya benar, air mata itu akan percuma akan menyiksa dirinya sendiri. " Mungkin merasa sedih itu wajar tapi tak perlu berlarut larut karena tak ada gunanya..." Sambungnya lagi dengan menatap sekilas wanita itu.


" Kau benar sekali om..." Katanya dengan tersenyum dan berjalan menuju kedai yang ada di belakangnya.


" He jangan panggil aku om, aku masih muda dan tak terlalu tua..." Teriaknya dengan protes menyusul wanita yang sudah berjalan menuju kedai.


" Maria..." Wanita itu menyodorkan tangannya untuk berkenalan.


" Andre..." Kini mereka saling berjabat ketika mereka sudah duduk di kedai itu dengan saling tersenyum.



" Kau lihat model ini begitu cantik dan tak hanya hatinya yang cantik tapi hatinya juga..." Seorang wanita yang sedang duduk di sebelah mereka yang sedang memengang ponselnya melihatkan sebuah foto model cantik yang sedang ramai di sosial media itu.


" Hmm.. aku pernah bertemu dengannya, nona Anna memang baik hati..." Jawab temannya.


" Cih!! baik, dia hanya baik di depan kamera, tapi busuk di belakang kamera."


" Kau mengenal model yang mereka maksud?" Maria kini mengangguk, dia tanpa sengaja menceritakan semua yang terjadi di pemakaman tadi mengatakan semuanya tanpa ada yang dia tutupi.


" Kau memiliki rencana untuk memberikan hadiah kepada kakak ipar ku itu?" Andre hanya diam dengan seribu rencana yang ada di otaknya, kini mereka berdua saling tersenyum dengan tipis.

__ADS_1


Bersambung ya mak 🤭 lanjutin besok 😁 yang punya telegram juga bisa chat mince ya 😁 mince juga ada di sana 🥰 mince cuma bisa up tiga bab untuk sementara karena lembaran ini masuk ke bar Crazy Up 3 bab saja 🙏 dan itu berkat kalian semua 😘😘 makasih buat para pembaca yang masih setia di sini 😘 dan masih menyanyangi mince dan masih mendukung mince sampai detik ini 😘🤗 sekali lagi terima kasih banyak 🤗😘😘


Mampir juga di Serpihan Hati ya beri dukungan juga buat mince 🤗🤗


__ADS_2