Wanita Nakal

Wanita Nakal
Wanita Nakal Musim3_ Berbeda 1


__ADS_3

Pagi ini Albert yang sudah tiba di perusahan besar itu, segera masuk ke dalam perusahan dengan menyebarkan senyuman manisnya yang membuat semua mata para wanita akan meleleh, Albert yang selalu tebar pesona itu membuat para wanita yang ada di sana terpaku melihat laki laki tampan berjalan memasuki perusahan besar itu.


" Jangan tebar pesona..." Suara dingin dari arah belakangnya ketika dia menunggu lift membuat laki laki itu hanya santai tak menjawabnya melainkan dia tetap tebar pesona kearah wanita wanita yang sedang menatapnya penuh kekaguman itu.


Ting!! Kini mereka masuk ke dalam lift yang terbuka khusus untuk para petinggi yang menjabat di sana.


Bugh!! Rintihan dari Albert kini terdengar pelan ketika tangan laki laki yang ada di sebelahnya memberikan bogem mentah pada lengan nya itu.


" Lu gila..." Katanya dengan nada tinggi.


" Lu bekerja di sini untuk membantu ku, bukan untuk menebar pesona pada para staf..." Jawab laki laki itu tak kalah bernada tinggi. " Jika kau mengulanginya lagi aku akan melapor pada bos..." Ancaman itu langsung membuat laki laki yang ingin membantah itu langsung terdiam seribu bahasa.


" Baiklah bos aku akan diam. Kau puas."


" Bagus jika kau takut..." Steve berbicara dengan sinis.


Semua orang orang yang ada di sana, semuanya tahu bahwa bukanlah orang yang hangat, tapi orang yang begitu dingin dan kaku. Dia akan lembut jika berhadapan dengan bos nya langsung, tetapi jika sama orang orang nya dia akan dingin dan ketus.


" Bos di mana, kenapa datang sendiri?" Tanyanya ketika mereka keluar dari lift tersebut


" Nona muda lagi gak enak badan, jadi hari ini aku yang mengurusnya, dan kau bantu wanita audit itu..." Albert mengangguk mengerti.


Kini mereka berjalan menuju keruangan Jennifer, karena tadi Jennifer ingin menunjukan pertemuan yang menurutnya sangat banyak.


Ceklek!! Jennifer yang dari tadi menunggu kini langsung berdiri dia melihat kedua laki laki itu masuk ke dalam ruangannya. Matanya langsung terpana oleh senyuman manis yang di berikan oleh Albert itu.

__ADS_1


" Jennifer dia Albert, dia yang akan membantu mu mulai sekarang, mungkin beberapa hari bis gak bisa datang dan pekerjaannya sementara aku yang menghandle. Jadi Albert yang akan berada di samping mu untuk membantu mu memaksa orang orang itu mengakui kejahatan nya..." Steve langsung menjelaskan siapa laki laki yang berdiri di sampingnya itu.


" Baik Tuan Steve..." Ucapnya dengan lembut.



" Hai aku Albert henney senang berkenalan dengan mu..." Albert langsung menyodorkan tangan nya untuk berjabat tangan kepada wanita yang ada di depannya itu.


" Saya Jennifer semoga kita bisa bekerja sama dengan baik Tuan..." Jawabnya dengan melepaskan jabatan tangan itu.


" Albert kau bekerja di sini, bukan untuk tebar pesona. Kau ingat ucapan ku?" Steve lagi lagi memperingati teman nya itu yang memasang wajah nya untuk tersenyum kepada setiap wanita yang ada di depannya itu.


" Iya aku tahu, sana pergi..." Usirnya dengan cepat. Steve terpaksa meninggalkan kedua orang itu, jika saja tak ada pekerjaan lain maka dia akan ada di sana juga untuk melihat mereka berdua bekerja sama.


" Baiklah nona Jennifer mari kita mulai bekerja, dan tunjukan apa yang ingin kau laporkan..." Suara Albert kini berubah menjadi serius ketika temannya itu meninggalkan ruangan yang hanya ada dirinya dan wanita itu.


Albert mengerutkan keningnya bahwa dengan jumlah besar ini mereka tak menyadari bahwa ada sosok yang ingin menggerogoti perusahan itu dari dalam.


" Kau yakin dengan ini jumlahnya?" Albert tak menyangka bahwa hasil akhirnya sebanyak ini, angka yang begitu fantastis.


" Saya yakin Tuan, anda bisa mengeceknya lagi jika anda tak percaya. Tanda merah itu adalah angka yang tidak ada di buku ini..." Albert menatap semuanya dengan teliti, membaca semua pengeluaran serta pemasukan barang yang ada di sana. Dan benar ada beberapa yang tak ada di buku besar nya tapi malah ada di cek cek itu.


" Jadi ini bagian gudang dan bagian keuangan yang ingin bermain main..." Ucapnya dengan meletakan laporan yang di berikan oleh wanita itu.


" Benar tuan, dan ini juga jumlah aset aset mereka selama ini..." Albert menerima laporan keuangan mereka berdua. Albert hanya tersenyum sinis membaca semua laporan itu.

__ADS_1



Tok!tok! ketukan pintu itu membuat kedua orang itu menoleh kearah pintu yang terbuka.


" Nona saya di perintahkan oleh Tuan Steve untuk datang kemari..." Seorang laki laki tua yang masuk kesana membuat mereka berdua bertatapan. " Saya Baron bagian pengiriman..." Laki laki itu langsung memperkenalkan dirinya yang membuat kedua orang itu mengangguk.


" Silahkan duduk tuan Baron, kita tunggu satu orang lagi..." Albert mempersilahkan laki laki itu duduk di sana.


Perasaan laki laki itu menjadi tak karuan ketika melihat siapa orang yang di tunggu dari tadi. Kedua staf itu saling menatap tak percaya bawa mereka telah bertemu di ruangan ini. Sedangkan Albert dan Jennifer hanya saling menatap kedua orang itu dengan melihat ekspresi wajah mereka berdua.


" Kalian tahu kenapa tuan Steve memanggil kalian dan menyuruh kalian datang keruangan ini?" Jennifer kini membuka suaranya, Albert hanya duduk di sana dengan santai.


" Tidak nona..." Kedua orang itu kompak menjawabnya dengan suara yang takut dan bergetar.


" Kalian yakin tak tahu?, atau hanya pura pura tak tahu?, kenapa kalian di sini..." Jennifer masih bersikap tenang karena kedua orang yang ada di sana pura pura tak tahu apa yang sedang terjadi di sana.


" Nona jangan bertele tele dengan kami, jika tak ada yang penting kami pergi, jangan membuat teka teki yang tak kami ketahui ada apa sebenarnya..." Laki laki bagian gudang yang bagian pengiriman itu kini sedikit membentak dengan nada tinggi nya.


Albert merasa geram lalu melempar dua map itu dengan kasar yang mengenai perut laki laki itu.


" Jelaskan pada ku kenapa ada laporan itu di tangan kami..." Kini Albert membuka suaranya dengan nada dingin.


Laki laki itu hanya bisa diam ketika membaca dokumen yang ada di depannya itu. Kini tangannya bergetar hebat serta ketakutan menyelimuti pikirannya.


" Di mana keberanian mu tadi ha?" Albert kini membentaknya membuat kedua laki laki itu ketakutan.

__ADS_1


" Tuan maafkan saya, saya mengaku bersalah, saya akan mengembalikan uang yang sudah saya ambil..." Laki laki bagian keuangan ini langsung mengakui kesalahannya.


" Saya juga akan mengembalikannya tuan, berik kami waktu untuk mengembalikan uang itu. Jika perlu kami akan memberi bunga yang pantas..." Laki laki tua itu kini juga akhirnya mengakui kesalahannya dengan cepat. Mungkin mereka tahu apa yang terjadi jika mereka tak segera mengakui kesalahannya.


__ADS_2