Wanita Nakal

Wanita Nakal
Wanita Nakal Musim3_ Dugaan Yang Benar 1


__ADS_3

Jenni kini di buat terkejut ketika melihat seorang yang berdiri di depan pintu dengan tersenyum tipis di bibirnya. Jenni menelan ludah nya ketika mata itu seakan mengintimidasi dirinya. Kaki nya yang tadi lemas karena adegan panas itu kini kembali lemas karena mendapatkan seseorang yang berdiri di sana.


" Kau terkejut aku di depan apartemen?" Suaranya kini membuat wanita itu meremas tangan nya sendiri. " Sudah ku duga kau di sini, dan kecurigaan ku benar..." Senyum tipis itu membuat Jenni menahan rasa gugup nya.


" Dari mana kau tau jika aku ada di sini?" Tanyanya dengan rasa penasaran yang tak bisa di tahan.


" Kau memiliki tato ternyata?, tak ku sangka kau pandai menutupinya selama ini..." Laki laki itu malah tak menjawab pertanyaan wanita itu, dia malah mengatakan tentang tato yang ada di tubuh wanita itu.


Jenni baru sadar bawa tato itu kini sedikit terlihat oleh orang lain. Jenni menatap kesal kearah laki laki itu.


" Kau sendiri di sini?, di mana pemiliknya?, aku ingin bertemu?" Laki laki itu mendorong tubuh Jenni yang langsung masuk kedalam apartemen itu.


" Keluar, aku bisa jelaskan nanti. Tapi ku mohon keluarlah..." Jenni menghalangi laki laki itu yang sudah masuk ke dalam dan ingin melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dulu.


" Penjelasan apa he?, kau ingin jelaskan tanda tanda merah yang ada di leher mu itu..." Jenni tak bisa berbicara apa apa lagi ketika laki laki itu menyinggung tentang tanda kemerahan yang bertebaran di sana.


" Tak ku sangka kau menjual tubuh mu di sini."


Plak!! Jenni dengan cepat menampar wajah laki laki yang dengan sengaja menghina dirinya seperti itu.


" Tutup mulut mu, kau tak berhak menghina ku. Kau bukan siapa siapa ku jadi jangan ikut campur dalam urusan ku..." Jenni kini wajahnya memerah dia mengatakan semuanya dengan amarah serta jari nya kini menunjuk wajah laki laki itu.


Laki laki itu hanya menyentuh pipinya yang terasa kebas karena tamparan kuat wanita itu. Tak dapat di ragukan meskipun wanita itu terkenal dengan wanita cantik yang selalu menjabat audit tapi kekuatan nya sama saja dengan setengah kekuatan dari laki laki.


" Kau berani menampar ku?" Tangan laki laki itu kini mencekal tangan wanita itu dengan kasar.

__ADS_1


" Bahkan aku bisa menghajar mu di sini, kau pikir aku takut melawan mu he?" Ucapnya dengan sinis.


Laki laki itu kini tertawa dengan sinis menatap wanita itu dan langsung mendorong tubuh wanita itu hingga punggung nya membentur dinding di sana.


" Kau adalah wanita, jika kau bukan wanita aku dengan senang bermain samsak dengan mu..." Ujarnya dengan sinis.


Jenni kini mengibaskan tangan nya dengan kasar matanya menatap tajam kearah laki laki itu.


" Jangan pandang aku wanita lemah, pandang aku wanita yang akan mengkhianati mu..." Laki laki itu mengeras rahang nya ketika wanita itu berucap dengan dingin.


" Kau..."


" Lepaskan tangan mu dari kekasih ku..." Suara dingin dari Steve kini membuat laki laki itu tersenyum kecut. Dia dengan pelan menoleh kearah belakang.


Steve memeluk wanita itu mendaratkan ciuman di pipi wanita itu. Laki laki itu kini dengan tajam menangkap adegan itu yang sengaja mereka lakukan di depan matanya itu. Laki laki itu mengepalkan tangan nya rasa kesal kini menyeruak di tubuhnya.


" Jadi kau sungguh berkhianat di belakang kita..." Ucapnya dengan sinis dan dingin.


" Tak ada yang berkhianat di sini..." Jawab Steve yang juga tak kalah dingin. Senyum sinis dari laki laki itu membuat Steve malah menatap nya dengan datar.


" Kecurigaan ku selama ini benar adanya, bahwa kau ada main di belakang kami..." Laki laki itu masih mengejar sebuah jawaban.


" Sudah ku katakan tak ada yang bermain main di sini. Perasan cinta kami tumbuh seiring nya waktu, apa kau pikir cinta ini datang dengan kata kata pengkhianat?, tidak..." Steve bahkan dengan suara santainya dia bisa menjawab semua pertanyaan laki laki itu.


" Kau mencintai orang yang harusnya kau tangkap dan kau curigai. Kau malah di sini bersama nya..." Laki laki itu tak menyangka bawa cinta menghampiri mereka berdua. Kini laki laki itu sekarang tahu kenapa semuanya seakan di sembunyikan.

__ADS_1


" Jangan salahkan cinta kita, karena cinta kami tulus..." Jawab Jenni dengan menatap kearah Steve yang masih melingkarkan tangan nya di pinggang Jenni.


" Kalian benar benar di butakan oleh cinta. Kau harus memilih antara cinta dan pekerjaan karena kau tak akan bisa membedakan mana cinta dan mana tangung jawab mu, aku yakin kau akan melindungi cinta mu itu."


" Cinta dan pekerjaan tak bisa kami pilih. Karena cinta sudah melekat di hati kami, dan pekerjaan adalah tugas yang harus kami lakukan. Selama ini kami selalu profesional dalam pekerjaan kami."


Laki laki itu mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban dari mereka.


" Kau tahu dia siapa?" Laki laki itu kini menatap kearah laki laki yang tetap santai bahkan terap merengkuh pinggang wanita itu.


" Kau meragukan aku, apa kau pikir aku tak tahu siapa yang ada di lingkaran ku?" Steve di buat tersenyum geli ketika mendengar pertanyaan dari laki laki yang ada di depan nya.


" Kau tak mengatakan apapun pada ku?"


" Tidak ada yang perlu aku katakan pada mu. Ini adalah masalah perasaan jadi kami tak akan mengatakan pada orang yang tak berkepentingan dengan ini semua..." Jawabnya dengan santai. Mereka berdua seakan siap jika semua orang mengetahui mereka memiliki hubungan satu sama lain.


" Kau tak bisa menutupi semuanya seperti ini. Harusnya kau mengatakan bahwa ini semua sudah terbongkar..." Laki laki itu masih menatap tajam kearah kedua orang yang masih dengan santai menjawabnya.


" Dengar sebaiknya kau pergi dari sini, aku tak ingin berdebat dengan mu. Jadi silahkan pergi dari sini..." Usirnya.


" Aku tak akan pergi dari sini sebelum kau mengatakan semuanya pada ku..." Tolaknya dengan cepat.


" Jika kau tak bisa aku usir secara baik, maka aku akan melakukan kasar untuk menyuruh mu pergi dari sini..." Steve kini menatap tajam kearah laki laki itu. Steve kini terasa gatal untuk melampiaskan emosinya itu.


" Kau memiliki hutang penjelasan pada ku, kau harus menjelaskan semuanya ini dengan sejelas jelasnya, aku tak ingin kau menutupinya lagi semuanya..." Laki laki itu malah tak menghiraukan ancaman dari laki laki itu.

__ADS_1


__ADS_2