
Kedua wanita itu kini berhenti di depan gerbang sebuah taman permainan yang sudah mulai rame dengan kedatangan para orang yang akan mengunjungi taman hiburan yang ada di sana.
Kedua mata kakak beradik itu kini saling bertatapan dengan sedikit tersenyum dengan wajah yang sedikit terkena sinar matahari menambah kesan tambah cantik bagi kedua wanita itu.
Kedua wanita itu kini sedikit berlari dengan saling bergandengan tangan, mencari wahana apa yang ingin mereka naiki untuk pertama kalinya. Kedua wanita itu sama sama mencari wahana.
" Kau ingin naik apa Amel?" Tanyanya sang kakak yang matanya masih berada di depan sebuah kertas yang menjelaskan semua wahana yang ada di sana.
" Entahlah kakak aku bingung, sebenarnya aku ingin naik semuanya tapi sekarang nyali ku terasa menciut setelah tiba di sini..." Jawabnya sang adik yang malah membuat sang kakak tertawa.
Sarah menatap adiknya yang saat ini wajahnya sudah berubah menjadi pucat, semua wahana yang ada di sana membuat wanita itu takut, semuanya tinggi, yang membuat darahnya terasa mengalir cepat dari ujung rambut.
" Kau sungguh takut?" Sarah baru sadar bahwa apa yang di katakan oleh adiknya tak bercanda.
" Tidak! aku takut kak, aku tidak mau naik semuanya terlalu tinggi dan menakutkan."
Sarah menyentuh tangan adiknya yang sudah keringat dingin membasahi telapak tangan nya. Jantungnya kini berdebar tak karuan, keringat dingin dari dahinya begitu besar keluar. Nafasnya tak beraturan saat ini.
Sarah langsung memeluk adiknya mengelus punggung nya dengan lembut. Dia baru ingat jika adiknya mengalami trauma dengan hal yang tinggi. Dia memiliki ketakutan sejak kecil tentang ketinggian.
" Maafkan aku, kakak lupa kau tak bisa berada di sini karena takut ketinggian..." Sarah kini merasa bersalah karena dia baru ingat jika adiknya memang takut ketinggian.
Amel tak menjawab apapun dia hanya bisa memejamkan matanya menikmati pelukan sang kakak yang sangat melindungi dirinya dari apapun saat ini.
" Kita pulang saja, tak usah pergi kemana mana..." Ajaknya dan di angguki oleh sang adik.
Sarah segera membawa pergi adiknya ketika nafasnya semakin tak karuan saat ini. Jika mereka tetap di sana dapat di pastikan adiknya akan merasakan sesak dan jatuh pingsan di sana karena ketakutan dirinya yang tak bisa di kontrol oleh nya.
Sarah yang tetap memeluk adiknya kini berjalan perlahan keluar dari sana. wajah yang berseri tadi kini hilang menjadi wajah pusat dan wajah bersalah dari sang kakak.
__ADS_1
Kenapa bisa aku melupakan hal penting seperti ini bodoh. Batin sang kakak ketika mereka sudah berada di dalam mobil yang telah di pesan oleh nya.
Amel masih berada di pelukan sang kakak merasakan kenyamanan memiliki pelindung yang sangat ingin melindungi nya dari apapun. Amel memejamkan matanya mencoba membayangkan yang indah indah agar semua rasa takut yang ada di depan matanya itu kini hilang. Nafasnya masih tak beraturan ada rasa sesak di hatinya.
" Sayang jangan pikirkan hal itu lagi, kamu harus rileks,bayangkan yang membuat mu bahagia..." Sarah menyentuh tangan adiknya mengelusnya dengan pelan agar tangan adiknya yang dingin menjadi hangat.
Amel mencoba melakukannya membayangkan apa saja yang membuatnya tersenyum. Kini malah bayangan laki laki yang mengusik hatinya terlintas di pikirannya yang tersenyum manis di depan matanya.
Amel semakin membayangkan nya semakin membuatnya nyaman, semakin membuatnya tenang, semakin membuatnya lebih bisa mengontrol rasa ketakutan tadi yang ada di dada nya. Sarah sedikit lega ketika merasakan nafasnya yang sudah tak memburu lagi saat ini.
Matanya kini terbuka menatap sekeliling nya dan dia kini menatap sang kakak nya yang wajahnya masih terlihat panik di sebelahnya.
" Semuanya baik baik saja kakak jangan terlalu cemas."
" Kamu sudah baik? apa perlu kita kerumah sakit?"
" Tidak! kita pulang saja, kamu harus istirahat, kita bisa lakukan apapun di rumah berdua, tanpa harus pergi kemana mana."
" Tapi kak-"
" Amel kau harus istirahat, aku tak ingin kamu kenapa kenapa oke."
" Kakak maafkan aku! gara gara aku kita tak jadi pergi berlibur, kita harus membatalkannya..." Amel menunduk merasa bersalah karena gara gara rasa trauma itu kini malah membuat rencana nya gagal.
" Tak masalah, di mana ada kamu kakak sudah bahagia. Kamu adalah satu satu nya yang kakak punya jika ada apa apa dengan mu kakak tak bisa memaafkan diri kakak sendiri. Jadi kita pulang saja oke."
Amel akhirnya mengangguk dengan pelan dia sebenarnya juga merasa kecewa karena dia tak bisa berlibur, rencana yang telah mereka susun akhirnya harus batal gara gara rasa ketakutan mereka berdua sendiri.
Mereka tetap saling berpelukan dengan Sarah yang memberikan rasa nyaman kepada adiknya, memberikan perlindungan kepada adik satu satunya yang dia jaga dengan segenap jiwa nya. Apapun akan di lakukan asal mereka bisa tetap saling bersama.
__ADS_1
Sedangkan di mobil lain kedua orang yang dari tadi mengintai mereka dari jauh kini tau kemana arah mereka yang di tuju.
" Laporkan kepada si bos bahwa nona pulang ke rumah nya..." Ucap salah satu orang yang sedang duduk di kursi sebelahnya.
" Apa kita akan menunggu di sini?"
" Tidak, kata si bos kita pulang saja jika nona sudah menuju rumah nya. Jika kita ada di sini mereka berdua akan merasa curiga kepada kita."
" Baiklah."
Sedangkan laki laki yang dari tadi rapat tak memperhatikan ponselnya dia terlalu fokus dengan apa yang telah ada di depannya, dia harus tahu secara rinci semua proyek yang akan dia tangani.
Kedua wanita itu kini segera turun dari mobilnya dan berjalan menuju rumahnya, tapi lagi lagi Sarah dapat melihat ada seorang yang mengikutinya, bahkan sampai depan rumah mereka.
" Masuklah dulu..." Amel hanya mengangguk karena dia yang tertidur dari tidurnya kini masih belum terlalu berpikir.
Sarah menatap tajam ke arah mobil yang sedang menunggu mereka dari kejauhan dia tak tahu siapa yang dari tadi mengikutinya hingga sampai di depan rumahnya. Sarah yang melirik ada sebuah tongkat besar kini segera menggapai nya dan berjalan pelan menuju mobil yang terparkir di sana.
" Dia curiga pada kita, jalan jalan cepat dari pada mobil kita hancur."
Teman nya kini langsung menancap gas nya dengan kecepatan tinggi sebelum semuanya hancur berkeping keping di sana.
" Sialan jangan kabur he..." Sarah berteriak ketika mobil itu melewatinya begitu saja dengan cepat.
Sarah merasa kesal karena niatnya yang ingin menghancurkan mobil itu kini tak jadi karena mobil itu sudah mengetahui rencananya.
Satu bab dulu ya mak 😁 mince harus Basterds karena kandungan mince sedikit lemah 😁 sambung besok lagi ya mak sayang 🥰🥰🥰
__ADS_1