
Orang itu hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar ketika melihat wanita yang di akan mengubah hidupnya kini malah ambruk di lantai dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya. Bahkan saat ini ketiga orang yang ada di sana saling bertatapan dengan rasa penyesalan dan tak bisa berkutik lagi.
" Apa yang kau lakukan?" Salah satu dari mereka kini mendorong rekan nya yang dari tadi nampak panik.
" Ini semua ulah kalian..." Dia malah balik marah bahkan mendorong orang itu kembali.
" Yang membuatnya seperti ini siapa hah?, kami atau kamu?, kami salah menolong orang hanyut di sungai waktu itu..." Timpal rekan satu nya yang berusaha bangkit dari ambruk nya tadi.
" Sekarang sebaiknya jangan saling menyalahkan, sekarang bantu aku membereskan ini semua."
" Kau pikir kami akan ikut campur lagi dalam urusan mu, kau selesaikan saja urusan mu. Kami pergi..." Kedua orang itu kini enggan untuk membantu rekan nya untuk menyelesaikan urusan wanita itu.
" Heh jika kalian pergi dari sini ku pastikan kalian yang masuk penjara, aku akan mengatakan kalian di balik ini semua..." Kedua orang itu kini berhenti menatap orang yang telah mengancam nya.
" Kau."
" Sial."
Mau tak mau kini mereka harus menyelesaikan masalah apa yang telah di mereka buat hari ini. Mereka kini sepakat untuk melihat kondisi wanita yang telah tak sadarkan diri dengan darah yang merembes keluar dari kepala belakang nya.
Sedangkan Bryan kini mengamuk di ruangan anak buah nya, dia merasa menjadi pimpinan yang berguna saat ini. Dia merasa lalai dalam menjaga wanita nya. Dia yang tak tau apapun kini baru mendengar apa yang telah dia alami oleh wanita nya.
" Bagaimana bisa kalian tak menjaga nya?" Bryan kini mengamuk di sana, dia memukul semua para penjaga yang ada di sana.
__ADS_1
" Maafkan kami bos, tapi kami tak tau jika dia sedang dalam bahaya. Semua wanita yang cuti dari pekerjaan nya dan kami sudah mengantar nya pulang, itu sudah bukan tangung jawab kami bos. Sebaliknya dengan nona Angel,kami sudah mengikuti nya dan tak ada apapun yang mencurigakan..." Salah satu dari mereka kini membela para penjaga yang ada di sana.
Bug!! Bryan kini memukul perut orang nya dengan kencang membuat orang itu kini melenguh kesakitan merasakan sakit pada perutnya yang teramat.
" Sir maafkan saya tapi apa yang di katakan oleh dia benar. Mereka tak hanya melakukan tugas untuk menjaga Angel, tapi banyak tugas yang harus mereka kerjakan. Tugas kami sebagai para penjaga sudah benar dia kembali ke dalam rumah dengan keadaan baik, setelah mereka pergi jika terjadi apapun mereka juga tak tau, dan itu bukan kewajiban kita Sir. Kita hanya bisa mencari nya saat ini Sir..." Antoni kini membela orang orang nya yang telah di salahkan oleh Bos nya.
" Lalu salah siapa?" Bryan mencengkram baju Antoni dengan wajah yang memerah menahan amarahnya. " Jika bukan William yang memberi tau ku masalah wanita itu aku tak akan tau apa yang terjadi dengan nya..." Bryan mendorong Antoni dengan kasar hingga membuatnya mundur dengan menunduk.
Antoni bahkan tak berani menatap bos nya yang saat ini tengah mengamuk tapi dia juga tak setuju jika semua kesalahan ini di limpahkan kepada orang orang nya juga. Semuanya sudah mereka lakukan dengan baik, dan mereka juga tak mungkin menjaga wanita yang mengambil cuti beberapa hari. Jika di tempat kerja mungkin mereka adalah tangung jawab mereka tapi jika di dalam rumah pribadi mereka bukan sepenuhnya tangung jawab.
Sedangkan di rumah yang saat ini sudah sepi, tak ada siapapun di sana hanya ada beberapa police yang masih berjaga di sana. Sarah hanya bisa duduk di sofa memeluk lututnya sendiri berharap adiknya segera pulang.
Dia berulang kali menatap pintu berharap police membawa kabar berita bahwa adiknya di temukan oleh mereka tapi apa yang menjadi harapannya kini telah hampa, semua harapan hanyalah harapan kosong.
Sarah yang meletakkan kepalanya di lutut nya kini hampir memejamkan matanya yang terasa panas, matanya yang merah karena ulahnya yang dari tadi tak ada hentinya menangis.
Kakak tolong, dingin di sini dingin. Bisikan dari Amel membuatnya terbangun.
Tok!! Tok!! Tok!! Sarah merasakan jantungnya berdebar ketika suara adiknya serta suara ketukan pintu mengejutkan dirinya yang hampir terpejam. Sarah menelan ludahnya menatap sekelilingnya.
" Nona Sarah buka pintu nya.. Nona Sarah..." Teriakan dari Police itu akhirnya mengejutkan nya dan membuat Sarah sadar dari suara adiknya yang ternyata tak ada d sana.
Sarah segera turun dari sofa, berjalan sedikit berlari menuju pintu yang di luar sudah berteriak dari tadi. Sarah harap inilah mereka yang menemukan adiknya.
__ADS_1
Ceklek!! Sarah menatap beberapa police yang sudah berdiri di sana dengan wajah yang penuh penyesalan.
" Ada apa? kalian sudah menemukan adik saya, di mana dia sekarang, aku tak sabar melihatnya..." Sarah tersenyum tipis, matanya mencari keberadaan adiknya yang mungkin ada di belakang mereka tapi tak ada siapapun.
Matanya kini malah menatap kantong kuning besar yang tergeletak di sana dengan beberapa police dan juga media yang sudah menunggu Sarah melihat.
" Tidak, jangan katakan dia-"
" Nona maafkan kami tapi anda harus memeriksa nya, kami hanya ingin memastikan dia bukan adik anda atau dia adik anda yang telah kami cari."
Sarah hampir limbung dia tak bisa bersuara apapun, dia hanya bisa terdiam dengan menangis. Kantong kuning besar bukanlah harapan yang dia lihat, tapi dia harus menyakinkan dirinya bahwa itu bukan adiknya yang telah di culik.
" Tidak, adik saya pasti masih hidup, dia hanya butuh pertolongan saat ini. Dia tak mungkin tega pergi meninggalkan aku kakak nya..." Tolaknya ketika para police meminta nya untuk melihat atau memastikan nya.
" Nona saya harap anda tenang tolong bantuannya, jika anda tak bisa memastikan nya kita tak tau siapa wanita yang tergelatak di dekat supermarket depan sana."
Lagi lagi Sarah tertegun dia terkejut ketika mendengar penjelasan dari police yang ada di depannya, tergelatak di depan toko adalah hal yang tak ingin di dengar.
Sarah berjalan dengan mata yang terus menangis, air matanya tak ada hentinya mengeluarkan air matanya. Jantungnya memompa begitu cepat dia berharap ini adalah mimpi dan orang yang ada di dalam kantong itu bukan adiknya.
Sarah memantapkan hatinya, dia harus tegar dia berusaha kuat dia menghapus air matanya dengan pelan. Seorang police menatap Sarah dan Sarah mengangguk pelan. Jantung memompa cepat ketika kantong itu di buka.
Sarah jatuh di sana dia berlutut ketika merasakan kakinya lemas ketika melihat wajah siapa yang saat ini berada di dalam kantong itu dengan mata yang terpejam dan terbaring kaku tak berdaya.
__ADS_1