Wanita Nakal

Wanita Nakal
Season2_ Ex Husband Is Broken_ Sudah Mulai Terbiasa 1


__ADS_3

" Amel kau ingin kemana?" Suara lembut tapi masih terdengar tegas itu kini membuat wanita yang ingin keluar secara diam diam harus menelan ludahnya dengan kasar karena aksinya di ketahui sang kakak.


" Kakak aku hanya ingin keluar sebentar!" Amel adik dari wanita itu langsung menoleh ke arah kakak nya yang sudah berdiri di depan belakangnya.


" Kau tak lihat ini sudah malam? tapi kau malah ingin keluar. Cepat pergi tidur..." Tegasnya dengan memandang adiknya yang beberapa hari ini baru lulus sekolahnya.


" Kak Sarah aku hanya ingin pergi sebentar! aku janji tak akan lama. Aku sudah memiliki janji temu dengan orang lain, tak sopan jika aku tiba tiba membatalkan nya."


" Kau memiliki kencan buta?" Tebaknya.


" Tidak Kakak! aku hanya ingin ke supermarket terdekat. Ada sesuatu yang ingin aku beli..." Amel mencari alasan agar malam ini dia berhasil keluar.


Sang Kakak Sarah menatap adiknya dengan tatapan datarnya, selama ini adiknya tak pernah berbuat aneh aneh untuk membuat dirinya malu. Dan mungkin malam ini adalah malam pertama adiknya keluar malam hari hanya untuk ke supermarket.


" Baiklah tapi cepat kembali. Udara malam hari tak baik untuk mu."


Amel mengangguk dengan cepat, dia segera meninggalkan Kakak nya yang menyetujui dirinya pergi malam ini. Amel segera keluar dari rumahnya sebelum sang Kakak berubah pikiran.


Sarah Amora Salsabila adalah wanita tangguh beberapa tahun ini. Dia membesarkan adiknya seorang diri, mengantikan kedua orang tua nya yang meninggal akibat kecelakaan kerja tujuh tahun yang lalu.


Semenjak kepergian mereka Sarah memutuskan untuk membiayai semua kebutuhan hidupnya dan adiknya. Dia langsung berhenti dari kuliah nya, dia mencari pekerjaan kesana kemari hingga pada akhirnya pelayan sebuah cafe yang bisa memenuhi semua kebutuhan dia dan adiknya.


Amel Amora Salsabila adalah adik tercinta nya saat ini, tak ada yang lebih penting dari dirinya sampai kapan pun. Kebahagian Amel adalah hal yang paling utama untuknya. Sarah selalu mengutamakan semua kebutuhan adiknya dan menyampingkan semua kebutuhannya.


Sarah tak membiarkan sedikit pun Amel merasakan kurang kasih sayang dari sosok orang tua nya. Dia menjadikan dirinya sebagai ibu dan kadang sebagai ayah dan terkadang sebagai kakak untuk Amel.

__ADS_1


Kedua wanita itu kini hidup di rumah peninggalan kedua orang tua nya, hidup yang serba kurang mereka jalani dengan senyuman tanpa ada kata kata mengeluh bagi mereka yang membuat mereka akhirnya menjadikan mereka menjadi wanita tangguh saat ini.


" Sudahlah percaya saja pada Amel lagian selama ini dia tak pernah macam macam atau mengecewakan aku. Mungkin dia memang lagi ke supermarket ujung sana..." Sang Kakak berpikir positif tentang adiknya.


" Astaga aku capek sekali hari ini..." Sarah yang baru pulang dari kerja nya segera menghempaskan tubuhnya ke atas kasurnya.


" Hari ini benar benar melelahkan tapi aku juga dapat tambahan untuk memenuhi kebutuhan aku dan Amel selama beberapa hari..." Ucapnya dengan senyum.


Rasa capek tadi seakan hilang ketika melihat uang yang ada di tangan nya. Hari ini karena pelanggan cukup ramai dan ada pelanggan yang sengaja memberikan uang bonus lebih untuknya.


Ras lelah itu kini menjadi rasa kantuk yang tiba tiba menyerangnya. Dia meletakkan uangnya di bawah bantal nya. Memiringkan badannya memejamkan mata sebentar.


" Memejamkan mata sebentar tak salah bukan. Nanti pasti ketika Amel datang aku akan bangun dan mandi..." Ucapnya dengan memejamkan matanya. Dia memejamkan matanya berharap sang adik nanti datang dan membangunkan nya.


Amel menoleh ke belakang dia takut Kakak nya mengikuti langkah nya. Jika Kakak nya mengikutinya maka semua rencana nya akan gagal untuk menemui orang yang akan memberikan dia pekerjaan malam ini.


" Kau Nona Amel?" Seorang laki laki berjas rapi menghampiri Amel yang dirinya saat berdiri seperti menunggu seorang.


" Hmm.. Saya Amel. Anda yang akan menjemput saya?"


" Mari ikut saya Nona! apa anda di ikuti orang? kenapa anda dari tadi saya perhatikan seperti panik?"


Amel lagi lagi menelan ludahnya dengan kasar. " Saya takut Kakak saya mengikuti saya."


" Tapi sepertinya tak ada yang mengikuti anda dari tadi Nona..." Amel bernafas lega ketika mendengar apa yang di katakan orang yang menjemputnya.

__ADS_1


Amel dan orang itu segera masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke suatu tempat. Jantung Amel berdetak tak karuan ketika dia berada di dalam mobil dengan kedua laki laki rapi yang duduk di depan nya.


Amel menatap ke luar jendela mobil, pikirannya tak tahu ini salah atau tidak tapi yang jelas hari ini dia sudah mengambil keputusan terbesarnya yang tak ada seorang pun yang tahu apa yang telah di ambil sebagai keputusan terbesarnya.


" Nona kita sudah tiba..." Suara orang itu mengejutkan dia dari lamunannya.


Amel menatap tempat di mana dia akan berkerja. Jantungnya kembali tak karuan, nafasnya begitu memburu, ada rasa takut serta ada rasa bimbang setelah tahu tempat di mana dia akan bekerja.


" Nona jika anda tak yakin maka jangan masuk anda bisa kembali sekarang."


Amel diam cukup lama untuk menyakinkan dirinya yang begitu bimbang. Semuanya berputar putar di otaknya. Senyum Kakak nya tiba tiba ada di depannya, tapi sedetik kemudian wajah susah sang Kakak untuk bekerja juga ada di depan matanya.


Amel mengambil nafasnya lalu membuang nya dengan cepat, membuka matanya dan menatap ke arah depan. " Saya yakin Tuan."


" Jika anda sudah masuk ke dalam anda tak bisa mundur lagi. Anda akan selama nya ada di sana. Jika anda masih perlu memikirkan ini semua maka pikirkan dan segera pergi dari sini jika anda ingin mundur."


" Saya tahu! saya tidak akan mundur lagi. Saya akan mengikuti semuanya."


" Anda yakin?"


" Saya yakin..." Keputusannya tak bisa di ubah lagi. Dia kini yakin bahwa masuk ke dalam sana akan membantu Kakak nya untuk mendapatkan uang lebih cepat.


Dia yang hari ini tak sengaja melihat Kakak nya bekerja di cafe yang di marahi oleh pelanggan nya menjadikan dia merasa iba dan sejak saat itu dia memiliki tekad yang kuat untuk membantu Kakak nya meringankan beban di pundak sang Kakak.


Aku tahu ini adalah keputusan yang salah tapi tidak ada jalan lagi selain aku harus tetap melanjutkan apa yang aku lakukan. Membantu Kakak adalah hal yang tak salah bukan, meskipun aku harus menjual tubuh ku kepada laki laki yang ada di sana. Batinnya ketika dia keluar dari mobil tersebut.

__ADS_1


__ADS_2