
" Dari mana kau baru pulang?" Suara tegas dari sang kakak hampir membuat wanita itu menjerit karena ketakutan. Tapi dia yang pandai menyembunyikan rasa takutnya dia kini hanya membuang nafasnya dengan kasar.
" Kak Sarah selamat pagi!" Ucapnya dengan memasang senyumnya.
" Dari mana kau baru pulang? kau semalam tidak pulang kan? buktinya kau masih memakai baju yang sama seperti semalam!"
Amel hanya menelan ludahnya dengan kasar dia menyembunyikan rasa gugupnya yang dari tadi ada di dalam hatinya.
" Astaga kakak hanya aku memakai baju yang sama pagi ini dan kakak mengira aku tak pulang semalam..." Jawabnya dengan menggeleng kepalanya.
" Jadi?"
" Kakak ku sayang! aku pagi ini sengaja keluar karena ingin membeli sarapan untuk kita. Semalam aku datang kakak sudah tidur jadi aku tak membangunkan kakak. Masalah baju ini aku gak sempat ganti baju karena aku terburu buru habis sarapan bubur..." Amel hanya tersenyum dengan memperlihatkan bungkusan yang telah di bawah oleh nya.
" Astaga Amel harusnya kamu jangan pergi pagi pagi buta. Di luar sangat dingin, nanti kau bisa sakit..." Sarah sang kakak selalu percaya dengan apa yang di katakan oleh adiknya.
" Tak masalah kakak ayo kita sarapan! aku sudah lapar."
" Baiklah ayo."
Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah dengan segera sarapan dengan bubur yang telah di bawah oleh sang adik. Amel merasakan sakit yang begitu dalam pada hatinya, dia yang membohongi kakak nya hanya untuk menutupi apa yang dia lakukan di luar sana.
Amel termenung menatap sang kakak dengan dia yang pura pura tersenyum ketika kakak nya kembali menatapnya penuh dengan cinta. Rasa itu tak bisa di bohongi bahwa dia begitu tak berdaya dengan apa yang telah dia lakukan. Bagiamana mungkin sang adik yang begitu dia sayangi bisa membohonginya seperti ini. Hati amel bergejolak tak karuan, ada rasa sedih dan ada rasa terpaksa.
Awal kebohongan akan membawa mu dalam kebohongan selanjutnya. Akan ada kebohongan yang akan terus berlanjut setelah ini.
Amel kamu harus siap dalam segala sesuatunya setelah ini. Kamu harus siap berbohong setiap hari setelah ini. Batin Amel untuk menguatkan dirinya sendiri.
" Kakak aku sudah lulus, dan aku ingin membantu mu mencari uang, aku ingin bekerja setelah ini."
" Amel kau harus meneruskan kuliah, masalah uang biarkan kakak yang mencari nya yang terpenting kamu harus rajin belajar dan kami harus mengejar cita cita mu yang ingin menjadi dokter itu..." Tolaknya sang kakak.
__ADS_1
" Tidak kakak! aku ingin bekerja saja. Aku ingin membantu kakak mencari uang saja."
" Amel kau harus kuliah, kakak tidak mau tahu lagi tentang semua ini..." Ucapnya dengan tegas.
" Kakak aku tidak mau! aku ingin bekerja saja..." Amel langsung berdiri meninggalkan kakak nya yang tertegun duduk di kursi.
Sarah yang menginginkan adik nya mengejar cita cita kini hanya bisa terdiam ketika adiknya dengan sisi keras nya untuk bekerja. Sarah menyandarkan punggung dengan masih tertegun dengan apa yang di katakan oleh adiknya. Dia masih terkejut ketika adiknya untuk pertama kalinya membantah apa yang di katakan oleh dirinya.
" Apa aku terlalu keras kepada Amel?, apa aku yang mendidiknya salah hingga dia tak ingin meneruskan kuliah nya?" Ucapnya dengan lirik sedihnya.
Sarah mengusap wajah nya dengan kasar dia tak tahu kenapa adiknya tiba tiba mengatakan seperti ini.
Sedangkan di tempat lain Bryan menatap William yang hanya terdiam duduk di kursi besarnya.
" Apa kau adalah masalah?"
" Tidak!"
" Aku terkadang berpikir keras ketika ada seorang wanita yang berada di lingkungan kita, kenapa mereka terjebak di dalam lingkaran yang salah? lalu bagaimana mereka keluar dalam lingkungan yang membuat mereka berada di situasi yang sulit ini. Kita saja yang memiliki kekuasan tak bisa berkutik dan tak bisa keluar dari situasi yang ini."
Bryan mengerutkan keningnya ketika mendengar apa yang di katakan oleh sepupunya.
" Sebenarnya apa yang ingin kau katakan kepada ku? jangan basa basi Will, aku tahu kau sedang menyimpan sebuah rahasia besar dari ku."
" Tidak! aku tak pernah menyembunyikan apapun dari mu. Mungkin aku baru pertama masuk dalam lingkaran malam yang membuat aku berpikir tentang semua itu. Apa kau tak berpikir bahwa sebenarnya mereka hanya terjebak dalam situasi yang sulit bagi nya."
Bryan menghela nafasnya dengan berat, dia menatap ke arah sepupunya dengan tatapan yang tak bisa di artikan oleh sepupunya sendiri.
" Aku tahu bahwa apa yang kau katakan itu adalah kebenaran. Mereka mungkin saat ini terjebak dalam situasi yang tak bisa di katakan benar, mereka yang berada di zona yang salah tapi kita hanya bisa membantu mereka yang saat ini mungkin salah. Tapi sebenarnya bukan hanya dia yang salah kita yang memang sengaja menyediakan tempat itu juga salah. Tapi kita dan mereka sama sama saling membutuhkan."
__ADS_1
" Kau benar kita saling membutuhkan tapi apa kita tak bisa membebaskan mereka dari zona salah ini Bryan?"
" Kita mungkin bisa membebaskan mereka dari Zona kita ini, tapi apa kita bisa jamin bahwa mereka bisa keluar dari keadaan ini?, di luar sana yang sama dengan kita tak hanya satu Will, yang menyediakan tempat kerja seperti kita juga tak hanya di sini. Lihatlah di luar sana bahwa ada ribuan tempat kerja yang seperti kita."
William membuang nafasnya dengan kasar dia mengusap wajahnya dengan kasar juga. Apa yang di katakan oleh sepupunya adalah kebenaran, di dunia ini tak hanya satu tempat yang menyediakan pekerjaan kotor.
" Sebenarnya apa yang ingin kau katakan kepada ku? aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu yang tak aku tahu. Katakan ada apa? siapa tahu aku bisa membantu mu."
" Tidak ada Bryan! aku hanya berpikir tentang apa yang aku katakan tadi..." Elaknya.
" Baiklah jika kau tak ingin mengatakan apa yang kau pikirkan."
" Jika aku ingin menebus seorang yang bekerja di sana berapa uang yang aku keluarkan untuk hal itu?"
Bryan tersenyum tipis di bibirnya, dia tak tahu apa yang di katakan oleh sepupunya itu.
" Siapa yang ingin kau bebaskan dari tempat kita?, tunggu biar aku menebak nya."
" Jangan suka mengarang Bryan. Aku hanya bertanya tapi aku tak bermaksud apa apa dari pertanyaan ku itu."
" Baiklah kalau begitu aku tak akan menjawabnya..." Bryan langsung berdiri.
" Kau ingin kemana?"
" Tak perlu tahu aku ingin kemana..." Bryan langsung keluar dari ruangan sepupunya yang menyimpan teka teki dari tadi.
Sedangkan William hanya merasa kesal karena sepupunya tak menjawab apa yang ingin dia ketahui.
-------
__ADS_1
Setiap orang memiliki cara masing masing untuk mendidik adiknya ataupun anak nya. Jadi setiap orang juga memiliki sikap dan sifat yang berbeda. Jangan pernah membandingkan cara mendidik orang lain dengan cara mendidik kalian.