
Pagi ini Zac yang bangun dari tidurnya mendengar suara istri nya yang berada di dalam kamar mandi, Zac terloncat dari tidurnya, berlari menuju kearah suara istrinya.
Tok!! tok!! tok!!
" Valarie kau tak apa?, apa yang terjadi?, buka pintunya..." Gedoran dari pintu itu tak membuat Valarie bergeming dari sana, dia tetap memuntahkan semua isi perut nya. " Sayang buka pintu nya...." Sambungnya dengan berteriak.
Valarie bahkan tak sanggup untuk beranjak dari sana, tubuhnya terlalu lemas untuk berjalan menggapai pintu itu. Satu langkah yang di paksa kan malah membuat dirinya limbung hingga terjatuh pelan ke bawah.
" Sayang buka atau aku dobrak..." Suaranya penuh dengan khawatir karena istrinya tak menjawab apapun, bahkan suaranya tadi tak terdengar lagi.
Zac kini mendobrak pintu itu dengan tiga kali, dan keempat pintu itu terbuka dengan paksa. Zac masuk segera dengan berlari. Dia langsung menghampiri istrinya yang duduk di lantai dengan menyandarkan kepalanya dengan mata yang terpejam.
" Sayang kamu kenapa?" Zac menepuk pipi istrinya dengan lembut.
" Honey aku lemas, kepala ku pusing..." Katanya dengan pelan.
Zac segera mengendong tubuh istrinya dengan segera, membawa keluar dari kamar mandi. Merebahkan tubuh istrinya dengan lembut ke king bed nya itu.
" Kita ke rumah sakit oke, tunggu sebentar aku akan mandi..." Tanpa menunggu jawaban dari sang istri dia segera masuk ke dalam kamar mandi dengan segera membersihkan tubuhnya.
Zac yang melihat istrinya berbaring lemas dengan memejamkan matanya kini menghampirinya dengan membawahkan baju untuk sang istri. Valarie tadi hanya memakai kimono putih karena dirinya baru selesai mandi.
" Sayang buka mata mu, kamu harus ganti baju dulu..." Suara dan sentuhan yang lembut membuat wanita itu terbangun, mata nya menatap sang suami yang sudah rapi dengan rambut yang di ikat rapi.
Val menatap tajam ke arah suami nya itu, rasa lemas tadi seakan hilang ketika melihat suami nya yang berdandan rapi seperti itu.
" Lepas ikat rambut mu itu."
" Ha?..." Zac hanya melongo mendengar istrinya berucap seperti itu, bahkan suara yang lemas tadi kini seakan tak ada, di gantikan dengan suara ketus serta ingin memakan orang pagi ini.
__ADS_1
" Kau tak mendengar apa yang aku ucapkan?" Valarie mengulangi apa yang dia katakan tadi.
Zac hanya diam tapi tangan nya juga melepaskan ikatan pada rambut nya dengan segera. Val tersenyum ketika melihat rambut suami nya terurai begitu saja. Rasa lemas serta rasa mual yang menerpa tubuhnya seakan lenyap ketika melihat rambut suami nya yang terurai begitu saja.
" Sekarang ayo ganti baju, kita kerumah sakit sekarang, kita periksa keadaan mu..." Zac kini melepaskan kimono itu dengan satu tarikan, melepaskannya dengan lembut dan memasangkan pakaiannya yang dia bawah tadi.
Zac menyisir rambut istrinya dengan pelan membuat Val tersenyum bahagia karena suaminya begitu menyayangi nya dan selalu memperlakukan nya begitu lembut.
Kini mereka berdua keluar dari kamarnya dengan tangan Val di sisipkan di lengan nya, mengandeng tangan suami nya dengan mesra. Wajah ayu itu kini terlihat pucat meskipun dia merasa baik setelah melihat suaminya yang tampan seperti itu.
" Kamu ingin makan?"
" Tidak, aku tidak lapar. Aku ingin kita makan di luar saja..." Katanya dengan lembut.
" Baiklah, jika nanti kamu lapar katakan pada ku hem..." Zac mencium pipi istri nya dengan penuh cinta.
Kini mereka telah tiba di tempat loby pendaftar pasien, Zac yang berdiri di sana sedangkan Val kini duduk di kursi yang tak jauh dari istrinya.
" Ada yang bisa saya bantu Tuan?"
" Saya ingin memeriksakan istri saya..." Jawabnya dengan pelan. Dia menatap petugas yang bekerja di sana.
" Baik tunggu sebentar..." Zac mengangguk pelan dengan menunggu sang petugas itu. Zac sesekali melihat ke arah istrinya, pikirannya cemas ketika melihat wajah ayunya kini pucat serta tubuhnya begitu lemas.
" Tuan Zac, sedang apa anda di sini?" Seseorang Manager rumah sakit itu kini menghampiri laki laki gondrong itu yang berdiri di tempat pendaftaran.
__ADS_1
" Dari mana saja kau he, aku menghubungi mu dari tadi tapi tak kau jawab, kau ingin aku pecat karena mengabaikan panggilan ku?" Zac langsung mengatakan rasa kesal nya karena ulah sang Manager yang dari tadi mencoba di hubungi oleh nya tapi tak ada jawaban dari tiba tiba ada di depannya itu.
" Tuan maafkan saya..." Nada permohonan kini terucap di sana.
" Istri ku sakit aku ingin mendaftar, cepat urus sebelum aku melempar mu jauh dari negara ini..." Ancamnya dengan tegas.
" Baik Tuan..." Laki laki itu berjalan menuju ke arah Nyonya itu, dengan Zac yang juga menghampirinya.
" Sayang..." Sapanya dengan lembut membuat wanita itu tersenyum manis seperti biasanya.
" Nyonya katakan apa keluhan anda?" Laki laki itu langsung ingin mengetahui apa keluhan yang di alami oleh Nyonya nya itu.
" Saya mual, pusing, badan saya lemas..." Katanya dengan pelan.
" Mari Tuan saya akan mengantar anda ke dokter OBGYN."
" Kenapa harus kesana?" Val kini menjadi bingung ketika laki laki itu mengajaknya untuk memeriksa ke dokter itu.
" Memangnya itu dokter apa?"
" Dokter kandungan Tuan Zac, aku rasa istri anda hamil, tapi saya tidak memastikan lebih lanjut biarkan dokter kandungan yang memeriksanya lebih lanjut..." Penjelasan laki laki itu membuat Zac mencerna kata kata nya dengan sedikit penuh khawatir.
" Honey..." Val mengejutkan Zac yang hanya diam, dia tak percaya dengan apa yang di katakan laki laki itu.
" Baiklah kita periksa ke dokter kandungan lebih dahulu..." Akhirnya mereka bertiga berjalan menuju ke ruangan dokter kandungan yang sedang memeriksa pasien tersebut.
" Tuan tunggu sebentar saya akan menemui dokternya sebentar?" Zac mengangguk pelan dengan dirinya mengajak sang istri duduk di sana dengan tetap mendekap tubuh istrinya itu.
Mereka saling di hantui pikiran yang tidak tidak tentang wanita itu hamil. Tapi untuk berucap mereka seakan membisu, suaranya seakan tersengat cekikan yang tak bisa membuat mereka membuka suaranya. Bahagia dan takut kini memenuhi pikiran dan hati mereka sendiri.
__ADS_1
" Sayang kau tak apa?" Suara Zac membuyarkan sang istri yang dari tadi hanya memejamkan matanya, dia takut dengan sendirinya.
" Zac jika aku hamil apa kau ingin menerima anak ini?" Sebuah pertanyaan bodoh yang terlontar dari mulut istrinya membuat Zac langsung menatap istrinya dengan tanda tanya.