
Kini mereka sama sama berpelukan dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipi mereka, kini mereka sama sama berpelukan untuk terakhir kali nya, mereka berpelukan untuk saling menguatkan satu sama lain, saling memberikan kekuatan yang begitu rapuh. Hati yang awal nya tertata kini menjadi hancur dengan sekali perkataan. Mereka tak bisa memilih karena kedua itu tak bisa untuk di pilih. Tapi pilihan itu harus mereka ambil. Pekerjaan yang harus mereka pilih, membuat hati mereka berdua hancur berkeping keping.
" Suatu saat nanti hati kita akan segera sembuh..." Mereka saling melepaskan pelukan itu dengan berat hati.
" Jaga diri mu, mungkin kita akan bertemu dengan keadaan yang berbeda..." Jenni hanya mengangguk pelan dengan senyum yang tipis di bibirnya.
" Jangan membenci ku jika suatu hari nanti kita bertemu di pertikaian, aku tak mungkin tega melukai mu tapi aku harus lakukan demi tugas..." Steve juga mengangguk mengerti, sebuah tugas memang harus di lakukan, jika di dalam pertempuran tak ada kata kata keluarga, meskipun itu keluarga tapi jika musuh maka mereka harus saling melawan dan saling menyerang. " Jaga dirimu juga Steve, temukan wanita yang lebih pantas untuk mu, temukan wanita yang juga berada di lingkungan mu, agar kamu tak mengalami seperti ini lagi..." Kini mereka saling menguatkan dengan penuh senyuman tipis di bibirnya.
Mata mereka berpandangan dengan luka yang begitu dalam, hati mereka kini hancur berkeping keping. Kebahagian yang kemarin kini di banting ke dasar jurang yang tak bisa mereka ambil untuk mereka satukan. Cinta yang tertata kini rapi kini berantakan tak tersisa. Keputusan yang sulit membuat hati kedua insan itu harus rela untuk saling melepaskan dan saling meninggalkan satu sama lain.
Abhi kini untuk terakhir kalinya menggapai bibir wanita itu, meluma* nya dengan lembut, menyesa* bibir yang akan tak pernah mereka rasakan. Ciuman itu hanya ciuman perpisahan tak ada gaira* hanya ada sebuah air mata yang membasahi nya. Ciuman itu kini di barengi dengan tangisan kesedihan mereka karena perpisahan yang harus mereka alami. Kini mereka saling melepaskan ciuman itu dengan saling memandang satu sama lain, tangan mereka saling terangkat untuk menghapus air mata itu.
__ADS_1
" Aku pergi jaga dirimu Steve."
" Jaga dirimu juga Jenni, aku mencintai mu tapi maaf, cinta ku tak bisa membuat kita bahagia..." Jenni hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya dia kembali memeluk laki laki itu sebentar yang kemudian melepaskan dengan rela.
Jenni kini menyeret koper nya untuk keluar dari kamar itu, dengan berat hati dengan tak rela dia meninggalkan kamar itu, meninggalkan semua nya di dalam sana. Dengan langkah pelan nya dia mencapai pintu itu, Jenni bahkan tak menatap kearah belakang yang ada Steve yang berdiri di ambang pintu kamar mereka. Jenni hanya membuang nafas nya dengan kasar sebelum akhirnya membuka pintu itu dan dirinya benar benar pergi dari apartemen itu.
Sedangkan Steve kini hanya menatap punggung Jenni, dia yang ingin menghentikan langkah kekasihnya tak bisa, dia yang ingin mengatakan agar wanita itu 'tetaplah bertahan di sini' seakan suara nya hilang seketika. Mata nya memerah menahan air mata nya, tapi hatinya rapuh, hati nya terpuruk ketika melihat kekasihnya harus benar benar pergi dan mereka harus berpisah karena pekerjaan mereka yang tak bisa di satukan menjadi satu.
Prank!! prank!! teriakan dan pecahan gelas itu membuat ruangan kamar itu kini berantakan tak karuan, dia tak bisa mempertahankan cinta nya hanya karena sebuah pekerjaan yang tak mengijinkan mereka bersatu.
Sedangkan Zac yang juga baru tiba di rumah nya kini merasa murung, dia juga merasa bersalah karena harus memisahkan cinta asisten nya itu dengan wanita pertama yang dia cintai, tapi apa boleh di kata semuanya harus dia lakukan. Jika tidak sekarang mungkin suatu hari nanti mereka akan berpisah juga.
__ADS_1
" Hubby kau sudah pulang?" Val yang melihat suaminya masuk ke dalam kamar itu dengan wajah murung nya sedikit heran karena ini untuk pertama kalinya sang suami pulang dengan wajah di tekuk.
" Sayang..." Zac menghampiri istrinya yang duduk di sisi ranjang, Zac kini memeluk istrinya dengan erat hatinya terasa sakit, dirinya tak tega tapi dia juga bingung harus melakukan apa kepada sang asisten nya itu.
" Hubby ada apa?, apa ada sesuatu?" Val kini membalas pelukan itu mengusap punggung suaminya seakan memberikan kekuatan kepada sosok suaminya itu.
" Sesuatu selalu datang menimpa ku dan saat ini aku tak tahu apa keputusan ku benar atau tidak. Aku juga tak tahu bahwa apa yang aku lakukan juga benar di mata mereka."
" Ada apa Hubby?" Zac melepaskan pelukan itu menatap istrinya yang juga tengah menatapnya dengan bingung. Val kini menangkap wajah sang suami yang begitu berantakan, mata nya seakan mengatakan bahwa dirinya tengah terluka, laki laki itu seakan rapuh saat ini. Tapi Val juga tak tau apa yang sebenarnya terjadi.
" Steve, kali ini tragedi menimpa Steve..." Val kini mengerutkan keningnya dengan bingung dia tentu saja tak tahu apa yang terjadi pada asisten suaminya itu.
__ADS_1
" Steve, ada apa dengan nya hubby?, dia tak apa bukan?" Val kini juga panik.
" Dia sedang tak baik sayang dan yang membuat dirinya tak baik adalah aku, aku menghancurkan kebahagiannya, aku menghancurkan semua mimpi mimpi nya, aku mengambil paksa semua kebahagian yang mungkin sudah mereka susun dengan indah, aku yang merampas cinta mereka sayang. Tapi aku melakukan itu hanya untuk kebaikan nya, aku tak ingin dia merasakan luka begitu dalam lagi, aku hanya ingin dia tau bahwa hubungan mereka tak bisa mereka satukan apapun yang terjadi, mereka tak bisa di satukan, kecuali ada yang mundur dan memilih cinta itu, aku melakukan itu hanya untuk kebahagian mereka bukan bermaksud untuk sengaja membuat mereka terluka..." Perkataan panjang lebar dari Zac malah membuat sang istri tak tau apa yang terjadi, dia bingung karena memang dia tak tau apa yang terjadi kepada mereka semua.