Wanita Nakal

Wanita Nakal
Wanita Nakal Musim3_ Ini Hanya Awal 5


__ADS_3

" Lalu apa yang harus kita lakukan Yah?, aku tak ingin karier ku hancur dan perusahan kalian juga hancur. Aku tak ingin ini semua hancur..." Anna kini merengek dengan menggoyangkan tubuh sang Ayah yang terdiam.


" Kita harus pikirkan langkah kita. Salah sedikit saja, kita akan berurusan dengan ketua mafia itu..." Ucapnya dengan pelan.


" Apa kita perlu datang ke perusahannya untuk mengetahui siapa mereka Yah?"


" Tidak tidak biarkan aku yang memikirkan langkah apa yang harus kita ambil. Jika kita gegabah akan menghancurkan kita..." Kini Peter lebih baik masuk ke dalam kamarnya dia lebih memilih untuk sendiri, memikirkan langkah apa yang akan mereka lakukan.


Kedua orang itu hanya menatap kearah Ayahnya yang masuk kedalam kamarnya.


" Lawan kita bukan sembarangan orang Pa...." Bisik nya.


" Kau benar, Ayah sampai syok mendengar nama wanita itu. Tapi aku penasaran biarkan aku mencari tahu di mana wanita itu..." Anna kini mengangguk membiarkan sang suami pergi meninggalkan rumah untuk mencari tahu siapa wanita itu. Wanita yang dengan sengaja mengambil tender besarnya itu.


Sedangkan Peter kini terdiam dia sedikit tak menyangka bahwa hari di mana perusahan itu hancur akan tiba sekarang. Sahamnya yang turun pun kini adalah faktor utama menghancurkan perusahan itu. Dia masih tertegun, dia tak ingin salah langkah. Jika sedikit saja salah langkah maka urusan ini tak akan hanya satu perusahan yang hancur maka nyawa mereka juga akan melayang.


" Alinna Kanna..." Gumamnya dengan pelan. " Kenapa Alinna kini kembali dengan nama itu?, jika nama itu yang dia pakai dia akan kembali dari fakum nya, atau hanya karena memang ingin merebut tender ini?" Pikirannya mencari jawaban dari yang dia tanyakan sendiri, tapi sepertinya dia tak menemukan jawab itu.


" Alexander, aku rasa tak mungkin laki laki itu yang berada di belakangnya saat ini. Pasti ada seorang yang kuat di belakang nya. Aku tak yakin bahwa wanita itu tidak tahu siapa lawannya..." Desisnya dengan pelan.


Tok!! Tok!! ketukan pintu itu membuat laki laki tua itu kini menatap kearah pintu yang di buka oleh orang itu. "Ayah apa aku boleh masuk?"


" Masuklah..." Suaranya yang dingin membuat Anna sebenarnya takut tapi dia harus menemui ayahnya. Anna kini masuk dengan segera, duduk di sebelah sang Ayah. Mata Anna kini menatap wajah sang Ayah yang begitu banyak kerutan kecemasan.

__ADS_1


" Ayah maafkan aku dan Adriano. Kami tahu kami salah sudah menghancurkan apa yang Ayah jaga selama ini. Tapi kali ini bukan murni kesalahan kami Yah, kami benar benar di jebak dan kami sedang di permainkan oleh orang orang yang sengaja ingin menghancurkan kita..." Anna kini memelankan suaranya dia tak tahu harus berkata apa selain membela dirinya dan menenangkan hati ayahnya.


" Dari dulu kau selalu tak ingin kalah dengan teman mu, kau selalu menjaga nama baik keluarga dan kau selalu bisa membuat Ayah bangga, tapi kenapa sekarang kamu malah seperti ini. Harusnya kau bisa menjaga emosi mu, emosi bisa memperburuk suasana kau mengerti kan?"


" Iya Yah, maafkan Anna..." Dia kini menunduk meminta maaf. Kondisinya saat ini sedang tak baik untuk mengajak Ayahnya berdebat.


" Dimana suami mu, kenapa kau sendiri datang ke kamar Ayah?" Mata laki laki tua itu kini mencari sosok menantunya, harusnya dia juga datang untuk meminta maaf kepadanya.


" Dia penasaran dengan wanita tadi, dia ingin menemuinya..." Peter kini malah di buat geram karena menantunya itu malah datang untuk mencari masalah.


" Dasar bodoh, sudah ku katakan jangan menemuinya dengan gegabah. Dia bukan lawan yang mudah di kalahkan..." Ucapnya dengan geram. " Hubungi suami mu dan katakan untuk kembali, masalah ini pasti akan tambah panjang karena suamimu itu. Tak hanya perusahan yang akan di ambang kehancuran tapi nyawa kita pasti akan melayang sia-sia jika melawannya tanpa tahu kelemahannya..." Anna kini yang mendengar apa yang di katakan oleh sang Ayah kini dengan segera menghubungi suaminya tapi ponselnya tak bisa di hubungi.


Berulang kali panggilan itu tak bisa menyambung dan itu membuat Anna panik bukan main. " Ayah tak bisa..." Peter kini dengan langkah cepat dia mencari keberadaan menantunya, dia tak ingin hal buruk terjadi.


" Kalian benar benar gila..." Umpat Alex dengan kesal, dia begitu kesal kepada teman temannya itu. Bagaimana tak kesal Zac menghubunginya malam hari dan mengatakan bahwa ada tender besar yang harus di ikuti oleh Allina dan dia harus menyelesaikan desain sebelum pagi.


" Lu tahu ini begitu mendesak dan buru buru."


" Untung waktunya keburu, jika tidak habislah aku dapat amukan dari Singa kalian itu..." Timpal Allina.


" Kapan kau bertemu dengan mereka?"


" Sebentar lagi kita akan bertemu dan tanda tangan kontrak langsung. Jadi kalian tenang saja oke, tender ini sudah ada di depan kita..." Allinna kini tersenyum dengan senang.

__ADS_1


Andriano kini melihat seorang yang dia kenal, CEO dari perusahan asing yang tiba tiba membatalkan kerja sama itu kini ada di depan cafe. Andriano kini dengan segera mendatangi CEO itu dengan segera.


" Selamat sore Tuan Li..." Andriano dengan cepat menyapa CEO itu ketika dia ingin masuk bersama sang asistennya.


" Tuan Adriano..." Li kini langsung menyambut tangan nya untuk berjabat tangan.


" Tuan Li sepertinya kita harus bicara, Ada hal yang ingin saya tanyakan."


" Saya tidak bisa, maafkan saya. Hari ini saya harus menemui Madam Allina untuk mengajukan kontrak. Sekali lagi maafkan saya...." Li kini dengan cepat masuk ke dalam cafe itu meninggalkan Adriano yang termenung itu.


Andriano kini hanya melihat kejauhan siapa sosok yang di maksud itu, dia tak mungkin mendekat karena dia takut reputasinya jelek di depan klien besarnya. Cukup lama Tuan Li berbincang bincang dengan wanita itu. Dan dadanya kini bergemuruh karena wanita itu mendatangani kontrak yang harusnya dia lakukan.


Tangannya mengepal dengan kuat dia tidak terima dengan semua ini. Rahangnya begitu mengeras ketika impiannya di rebut oleh orang lain. Dia di kalahkan oleh sosok wanita.


" Baiklah Madam terima kasih, saya harap ini akan menjadi kerja sama yang sama sama menguntungkan."


" Saya janji ini akan menguntungkan bagi kita..." Mereka saling tersenyum dengan saling berjabat tangan.


Semua orang hanya mengawasi Aliina dari kejauhan tak ada yang mendekat meskipun Alex sekalipun.


" Jadi kau yang merebut tender besar ini?, kau memiliki nyali yang cukup besar ternyata Nona..." Suara dingin dari belakang punggung Allinna kini membuat Allina langsung menatapnya dengan memicingkan matanya.


Ada yang kangen gak sih sama bang Alex dan Neng Allina 🤭 nama samaran sewaktu mereka berpisah 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2