
" Apa yang sebenarnya kau rencanakan Jenni?" Bariton sinis dari Steve membuat wanita yang tadi mencari sesuatu di ruangan nya kini terhenti. Tapi Jenni hanya melihatnya sekilas kearah Steve yang berada di ambang pintu itu.
Jenni tak mengatakan apapun dia sungguh ingin menyudahi ini semua. Dia tak menemukan apa yang dia cari, pikiran nya tiba tiba tak fokus karena laki laki itu menatapnya dengan tatapan dingin. Jenni yang ingin keluar itu harus tertahan ketika Steve malah masuk ke dalam ruangan nya dan mengunci pintu itu. Jenni menatap nya dengan tatapan melotot karena dia tak menyangka bahwa Steve melakukan ini.
" Minggir Steve aku harus kembali..." Jenni kini mengatakan nya dengan sedikit mendorong laki laki itu tapi nyatanya laki laki itu tak bergerak dari tempatnya berdiri.
" Jelaskan apa maksud ini semua, kenapa kau malah datang kemari dan ingin menangkap Tuan Zac?" Steve tentu saja mengejar sebuah jawaban yang ingin dia dengar. Steve tentu saja tak habis pikir dengan mantan nya itu, dia juga tak tau bahwa wanita itu akan datang dengan surat perintah itu.
" Ini adalah tugas ku, dan aku harus menjalankan tugas ku. Kau pikir aku di sini untuk apa kalau bukan untuk memata-matai ini semua, di saat semua nya terbongkar aku harus melakukan nya, aku harus menyeret bos mu itu..." Jenni mengatakan dengan santai, Steve yang mendengar jawaban itu kini bertambah tak mengerti dengan apa yang dia dengar itu.
" Kau kemarin dan sekarang berkata dengan berbeda, kau mengatakan tak ingin menyangkut pautkan ini semua dengan bos mu itu. Dan kau akan mengatakan bahwa perusahan ini tak ada yang harus mereka curigai..." Steve masih bertanya dengan hal yang tak di mengerti.
" Aku berubah pikiran Steve, jika saya kau tak menghalangi kami tadi, dan kau juga tak mendatangkan mereka saat ini mungkin aku sudah naik jabatan dan aku bisa melakukan apapun ketika jabatan ku tinggi..." Steve di buat tak menyangka bahwa wanita itu melakukan ini semua hanya demi sebuah jabatan, dia tak memikirkan bagaimana tentang rapuh nya sosok Steve saat ini.
__ADS_1
" Jabatan?, kau mementingkan jabatan dan mengorbankan bos ku?" Steve menyipitkan matanya menatap wajah wanita itu yang begitu tenang dan santai di sana.
" Apa salah nya aku Steve?, di sini aku hanya menjalankan tugas ku, aku hanya ingin naik jabatan dan aku akan melakukan semua cara agar aku bisa naik jabatan ku termasuk dengan mengorbankan semua nya..." Perkataan Jenni membuat laki laki hati nya hancur kini malah semakin hancur, dia dengan sengaja melawan dirinya hanya untuk sebuah jabatan.
" Kau juga sudah melakukan tugas mu bukan?, kau tadi membela mati matian bos mu itu, bahkan tak ada yang salah. Aku menerima semuanya karena aku tau itu memang tugas mu. Kau sendiri yang mengatakan bahwa kita bisa bersatu karena profesi kita jadi kau dan aku sekarang tau inilah yang menyebabkan kita sungguh tak bisa bersatu."
Steve kini memutari Jenni yang berdiri di sana, bahkan matanya menatap tajam kearah wanita itu.
" Kau pikir aku akan terpuruk hanya karena putus cinta?, kau pikir aku akan menangisi semua nya yang sudah terjadi?, kau pikir di sini aku masih berharap kau kembali?, jawaban nya adalah Tidak..." Jenni kini menekan kata kata nya. " Hidup ku harus berjalan Steve, aku tak mungkin terpaku dengan satu nama yang tak bisa aku gapai. Aku dan kamu adalah hal yang rumit untuk kita gapai. Dan aku sudah mengambil keputusan untuk melupakan semua tentang kita, termasuk menghapus nama mu, dan melawan mu di sini..." Wanita yang semalam dia peluk dengan di barengi air mata kini menjadi wanita yang berdiri dengan melawan nya. Air mata semalam kini tak ada lagi, menjadikan air mata itu sebagai tatapan permusuhan.
" Kau benar kita tak bisa saling menggapai. Aku yang bodoh karena ingin memperjuangkan mu, harusnya aku tau bahwa kau selalu memiliki ambisi dalam karier mu. Aku mungkin masih tak ingin melawan mu secara terbuka tadi, tapi jika kau ingin melawan ku satu kali lagi, ku pastikan aku akan langsung melawan mu..." Steve juga tak kalah sinis nya, dia berusaha dengan kuat agar dirinya bisa mengatakan hal itu, meskipun hatinya berat. Tapi perkataan dari Jennifer membuat hatinya sungguh terluka.
" Kau sudah membuktikan bahwa kau sudah melawan ku Steve."
__ADS_1
" Aku belum melawan mu Jenni, belum sama sekali. Tapi jika satu kali lagi kau ingin menyentuh bos ku, kau akan tau seperti apa aku sebenarnya..." Ucapnya dengan berdiri di belakang wanita itu. " Aku bisa menghancurkan mu beserta tim mu, jika kau ingin mencobanya maka katakan aku siap menghancurkan tim mu kapan pun..." Bisiknya membuat wanita itu memejamkan matanya.
" Kau sudah membuktikan bahwa kau berada di bos mu dan kau membela bos mu meskipun bos mu salah dalam semua hal."
Bug!! Steve kini memukul dinding sebelah tubuh nya membuat Jenni hanya sedikit terkejut.
" Aku tak tahu apa yang terjadi pada mu dalam semalam, tapi yang aku tau saat ini kau melawan ku dan aku juga akan melawan mu. Jika kau sekali lagi mencari masalah dengan kami, aku tak pandang siapa kamu, aku tak peduli dengan kau wanita atau kau adalah orang yang pernah dalam hati ku."
Jenni kini tertawa, tawa nya yang pelan membuat Steve hanya diam dia bingung kenapa wanita itu tiba tiba tertawa seperti hal itu, tak ada kata kata lucu di setiap kata kata nya itu.
" Ku akui kau memang pandai membaca setiap gerak gerik orang, kau juga pandai membaca semua siasat, dan kau selalu bergerak cepat untuk semua nya. Tapi sayangnya kau bodoh tentang perasaan ini..." Jenni dan Steve kini berpandangan dengan sama sama dingin.
" Kau pikir aku sungguh mencintai mu, kau pikir aku terpuruk kehilangan mu?, Tidak. Semua yang di katakan bos mu itu benar, aku mendekati mu hanya karena sebuah misi yang harus aku dapatkan, aku rela mengorbankan tubuh ku hanya untuk kau percaya pada ku bahwa aku memang jatuh cinta pada mu, kau yang bodoh Steve kau yang bodoh karena kau buta karena cinta mu..." Jenni mengatakan hal itu dengan segera membuka kunci pintu itu dan meninggalkan laki laki yang masih terpaku tak percaya dengan apa yang dia dengar dari mantan kekasihnya itu.
__ADS_1