
Steve kini kembali menjadi banyak diam, semenjak bertemu dengan wanita itu yang sedang bersama laki laki lain yang dia ketahui bahwa David memiliki rasa kini hatinya membara, hati nya terasa panas oleh apa yang dia lihat tadi. Sekuat dia berusaha untuk menyembunyikan luka tapi nyatanya luka itu sangat tergores dalam, perih seakan tersayat hanya itu yang di rasakan oleh Steve saat ini.
Tapi keputusan nya untuk melawan dan saling melupakan bukan lah omong kosong. Pundak nya harus tegap melawan orang orang yang ingin menghancurkan mereka. Hati nya harus tegar untuk melawan para musuh nya meskipun orang yang pernah ada di hati nya.
" Steve kamu baik baik saja bukan?" Monica yang dari tadi berjalan beriringan dengan nya kini mulai membuka suaranya di bertanya dengan pelan, wanita itu tau bagaimana hancurkan karena cinta, berpisah dari orang yang dia cintai sangat menyakitkan bahkan terasa duni hancur menimpah nya.
" Aku baik, terima kasih karena sudah mau pura pura menjadi kekasih ku, setidak nya aku tak menyedihkan di depan mereka berdua..." Steve kini mengulas senyum nya.
Senyum yang menyimpan luka yang dalam, senyum yang menutupi luka yang begitu besar, senyum yang membuat dirinya harus kuat. Monica yang mengetahui hal itu hanya bisa mengusap lengan kekar laki laki itu. Dia tau teman nya kini rapuh dia juga tau seperti apa rasa sakit kehilangan, semua nya membuat seluruh dunia ini menertawakan kesedihan nya. Dia pernah hancur satu kali karena cinta, dan saat ini Steve lah yang juga merasakan kehancuran itu. Tapi karena sebuh profesi dan tuntutan nya kini mereka tetap berdiri di sana, tetap menjadi tameng dan melindung mereka semua.
" Aku yakin lu bisa Steve, semua nya akan berjalan dengan seperti nya. Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untuk mu, dan ingatlah tak ada yang gratis di dunia. Jika kau ingin bahagia maka kau harus bisa melewati krikil kecil yang ada di depan mu..." Monica kini sedikit memberikan semangat untuk laki laki yang ada di samping nya.
" Terima kasih..." Steve kini berjalan dengan cepat meninggalkan Monica yang hanya diam di sana. Dia hanya menghela nafas nya berat karena melihat teman nya rapuh seperti itu.
" Jenni kita akan bertemu lagi dan aku akan menghajar mu lagi..." Gumam nya dengan mengepalkan tangan nya dengan kesal.
Sedangkan di depan kini semua orang sudah menunggu dengan cukup lama membuat semua orang yang di sana ingin menyusul nya tapi mereka sudah melihat Steve dan Monica yang sudah kembali.
__ADS_1
" Di mana Tuan Zac?" Steve segera bertanya ketika tak melihat bos nya duduk di sana lagi.
" Bos kembali ke kamar hotel nya, dia bilang kau pulang atau tidur di sini terserah pada mu..." Kini Andre yang menjawabnya dengan menatap laki laki itu.
" Kau ingin minum di atas?" Kini Albert menawarkan sebuah minuman untuk meringankan sakit hati nya meskipun hanya sedikit.
" Ayo..." Kini mereka semua berjalan menuju sebuah diskotik yang juga ada di lantai atas hotel tersebut. Mereka saling bercanda di dalam langkah mereka tapi langkah mereka terhenti untuk kedua kali nya ketika tanpa sengaja melihat musuh nya juga ada di sana.
" Monica sayang kau di sini juga..." Marco yang tadi ingin berada di diskotik kini menghentikan langkah nya ketika melihat sekelompok orang yang dia kenal bahkan dia juga melihat wanita yang dia cintai itu.
" Dunia ini memang sempit ya, kita bertemu lagi di sini, tak ku sangka kau bersama dengan pecundang ini..." Kini Steve menghina Marco dan David yang berdiri di sana dengan gaya angkuh nya itu.
" Sudah Steve tak perlu kau tanggapi omongan orang ini, ayo masuk..." Kini Albert menarik Steve agar dirinya segera masuk ke dalam diskotik itu.
Sedangkan yang lain masih menatap tajam kearah kedua orang yang masih dengan gaya sombong nya itu.
" Monica mereka sebentar lagi akan hancur, jadi aku akan siap menunggu mu kembali pada ki kapan pun kau mau. Aku siap menunggu mu kembali..." Senyumnya sungguh membuat Abhi kini memukul nya tapi tangan nya itu di tahan oleh istrinya.
__ADS_1
" Kau yang hancur di sini Marco kau, bukan kami..." Monica kini yang berucap dengan sinis dengan menatap nya. " Kami tak melawan mu bukan karena kami takut tapi kami menunggu kau yang menyerang kami, di saat kau menyerang kami kau akan kami hancurkan bahkan kami dengan muda menghancurkan mu hingga ke titik terendah."
" Kau dari dulu sampai sekarang memang selalu bisa membuat ku takut."
" Jika sekali kau maju untuk mengusik kami, kami akan senang menghancurkan mu bahkan menghancurkan mu dari akar akar nya..." Andre kini mendorong tubuh Marco agar menjauh dan itu berhasil membuat Marco hampir terjatuh karena dorongan keras dari Andre.
Kini mereka bertiga masuk ke dalam diskotik, suasana riuh itu segera menyambut kedatang para tamu yang ingin menyenangkan tubuh mereka dan pikiran mereka. Steve dan Albert yang sudah duduk di sana kini melambaikan tangan nya ketika melihat teman nya masuk ke dalam sana. Kini Steve yang sudah memesan minuman yang begitu tinggi alkohol nya langsung meneguk nya dengan cepat, hati nya kacau pikiran nya berantakan membuat dirinya segera ingin tak berdaya di bawah pengaruh alkohol.
" Sudah cukup Steve, kau bisa pingsan jika minum seperti ini..." Andre dan Albert kini merebut paksa botol yang berisi minuman itu.
" Aku bahkan belum meminum semuanya, masih setengah nya saja. Astaga, berikan botol itu..." Steve tentu saja tidak terima jika minuman nya harus di rebut paksa oleh teman teman nya itu.
" Andre berikan minuman ku..." Andre hanya menggeleng pelan ketika teman nya itu malah merengek meminta botol minuman nya.
" Lu bisa minum di gelas, jika lu gak mau gak perlu minum..." Kini Albert yang selalu mengomel jika teman teman nya minum.
" Oke aku minum di gelas kau puas..." Kini mereka semua tertawa karena melihat teman nya itu pasrah, dan pada akhirnya Steve yang memilih untuk meminum di gelas yang ada di sana.
__ADS_1
Suara musik itu semakin malam semakin meriah, suara sorakan dari para tamu menambah kemeriahan suasana di sana. Mereka kini begitu melepaskan beban yang ada di pundak mereka masing masing. Kini Andre yang beranjak dari duduk nya dan menuju ke toilet.
Bruak!! Andre kini menabrak seseorang yang berjalan menuju kearah. " Lu punya mata gak?, kalau jalan hati hati dong Om..." Seketika wanita itu langsung pergi meninggalkan Andre yang masih terpaku dengan seorang yang menyebutnya dengan Om.