
Anna kini yang sampai rumah dia membuka pintu dengan kasar, amarahnya tak terkendalikan. Dia membanting semua vas bunga yang ada di ruang tamu tersebut. Semua orang hanya diam tak ada yang berani bertanya atau mendekat sekalipun. Rambutnya kini acak acakan karena ulah tangan nya yang merasakan pusing kepada kepalanya.
Sang Suami kini yang mendengar teriakan dan suara pecahan kini langsung berlari dan melihat apa yang terjadi di bawah sana. Ardiano kini mengerutkan keningnya ketika melihat siapa yang berbuat seperti itu.
" Ada apa?, kenapa kau seperti ini?" Adriano yang tadi berlari menghampiri sang istri yang histeris kini segera mencekal tangan nya menanyakan apa yang terjadi di sana.
Matanya memerah, matanya begitu meyalang tak karuan. Wajahnya merah menahan amarahnya yang begitu memuncak, rambut yang acak acakan membuat Adriano yakin bawah ada sesuatu yang terjadi.
Anna kini malah mendorong tubuh suaminya dengan keras. " Kau tak tahu apapun yang aku alami jadi jangan sok peduli dengan urusan ku..." Ujarnya dengan sinis.
Anna yang ingin melangkah lagi kini harus di halangi oleh Adriano dia kembali mencekal tangannya hingga mereka bertatapan lagi.
" Aku suami mu, aku berhak tahu apa yang terjadi dengan istri ku..." Adriano kini tak kalah bernada tinggi. Tatapannya kini tak ada yang bisa mengartikannya.
" Mereka menjebak ku, menghancurkan nama baik ku, mereka sengaja membuat ku hancur, mereka mengambil apa yang selama ini aku impikan,mereka mengambilnya dari tangan ku Pa, mereka mengambilnya..." Bukan amarah yang di dapatkan dari istrinya kini malah tangisan yang penuh dengan rasa kecewa serta ketakutan. Kini dia luluh di pelukan suaminya.
__ADS_1
Ardiano kini memeluk istrinya dia segera memeluk istrinya dengan erat, dia masih mencerna setiap apa yang di katakan oleh istrinya, mengambil, menghancurkan dia tak tahu maksud apa yang di katakan oleh sang istri. Tapi dia masih diam dia tak mengatakan apapun setidaknya membiarkan sang istri tenang dulu.
Ardiano kini memeluk sang istri dengan membawanya untuk duduk di kursi ruang tamu itu, dia masih memeluk sang istri yang masih menangis terisak bahkan tubuhnya begitu gemetar. Tangisan yang ditahan dari tadi kini seakan meledak ketika sang suaminya malah memeluk erat tubuhnya.
" Katakan dengan pelan pelan, ada apa sebenarnya?" Tanyanya dengan pelan, dia tak ingin istrinya meledak lagi.
Anna kini menceritakan hasil rapat semalam dan harusnya hari ini dia mendatangani kontrak untuk sebuah Brad ternama yang akan mengadakan acara, dan pagi ini secara tiba tiba dirinya di batalkan dan di gantikan dengan orang yang biasanya sudah menjadi puncak acara. Anna menceritakan semuanya, pertengkaran serta tiba tiba banyak media yang meliput dirinya yang marah marah dan ingin menyerang pemilik agency tersebut.
Sang suami kini mengerti kenapa istrinya begitu marah seperti ini. Pembatalan sebelum tanda tangan itu wajar dan sering kali terjadi di dunia bisnis sekali pun. Tapi mungkin rasa sakit hati dan kecewa itu pasti akan di alami oleh beberapa orang yang secara tiba tiba di batalkan nya.
Anna kini mencurigai sesuatu di antara mereka. " Pa ini tak mungkin terjadi secara bersamaan. Semalam rumah kita di rampok, sekarang pagi ini kita di batalkan secara bersamaan. Ada yang ingin bermain main dengan kita Pa..." Anna kini menghentikan tangisannya dia menatap sang Suami yang kini juga mulai berpikir membenarkan apa yang di katakan oleh sang istri.
" Kau benar, mungkin ada yang ingin bermain main dengan kita. Tapi siapa Ma?, seingat aku. Aku tak memiliki musuh siapapun, dan kau dan aku selama ini baik biak saja,tak pernah ada skandal apapun yang menyeret nama kita ataupun keluarga kita. Siapa yang ingin menghancurkan kita berdua?" Kini pikirannya mencari sosok yang di maksud Istrinya, dia mencari siapa yang ingin bermain main dengan mereka. Siapa yang ingin menghancurkan keluarga mereka.
" Maria, aku yakin ini ulah Maria..." Ucapnya dengan tatapan tajam ke depan.
__ADS_1
" Maria?" Adriano kini mengulangi kata kata Istrinya yang menuduh kepada adiknya yang polos itu. " Tidak mungkin Ma, Maria tak mungkin memiliki link yang begitu tinggi hingga membatalkan ini semua."
" Tapi musuh kita hanya dia, adik mu yang sekarang hidup sendiri."
" Dengarkan aku coba kau pikir sekarang. Gadis itu mana mungkin bisa mengenal pemilik agency di mana kamu bekerja, dia memilihi apa menyuruh pemilik membatalkan semuanya dengan mu. Dan urusan ku bagaimana dia mengenal CEO perusahan asing yang ingin bekerja sama dengan ku, dia hanya gadis polos yang tak tahu apapun. Yang dia tahu hanya bekerja, itu saja...." Perkataan Adriano membuat Anna berpikir ulang ketika ingin menuduh adiknya lagi.
" Kau benar dia tak mungkin memiliki Link yang begitu tinggi untuk membantu nya membalas apapun kepada kita. Jika bukan dia siapa yang melakukan ini kepada kita Pa?, kita tak memiliki musuh..." Kini Anna kembali berpikir mencari tahu siapa dalang di balik ini semua tapi dia tak menemukannya.
" Kau harus mencari tahu Ma, aku yakin orang itu ada di sekitar kita dan aku akan mencari tahu juga siapa dalang dari ini semua. Aku yakin orang orang itu pasti ada di sekitar kita, tak akan jauh dari hidup kita..." Anna kini mengangguk dia mengerti tapi untuk datang kembali ke agency rasanya dia sudah tidak memiliki wajah karena semua orang yang di sana saat ini mungkin sudah membicarakan ini semua.
Sedangkan di agency lain, kini mereka tengah tersenyum puas melihat wajah kehancuran dari Anna Heeney. Jovanka sebenarnya tahu siapa Anna, tapi dia tak ingin berbuat apa apa sebelum ada rencana yang matang. Dan selama ini Anna tak pernah ada di depan, karena dia hanya sebuah model majalah biasa yang tak terlalu penting bagi Jovanka. Tapi kini mereka membawa rencana yang begitu matang maka dari itu kini mereka siap melawan Anna Heeney dengan berbaik cara.
" Selamat bergabung di sini Sayang, aku tak ingin kau mengecewakan kami semua oke. Tapi aku yakin kau bisa melawannya..." Jovanka kini memeluk wanita yang sedang tersenyum di depannya.
" Hal mudah bagi ku..." Katanya dengan sedikit tertawa geli karena kesombongannya itu.
__ADS_1