
Zac kembali duduk dengan tenang, membaca sesuatu yang ada di sana, Zac terkejut ketika tangan Alinna tiba tiba meremas tangan nya dengan kencang. " Tak apa ada aku.." Zac berkata dengan membalas genggaman tangan Alinna, meskipun dia merasakan sakit pada tangan nya tapi dia tetap membiarkan Alinna meremas nya.
" Kau wanita hebat, aku yakin ada sesuatu yang kau sembunyikan.." Zac mengelus rambut Alinna begitu lembut. Zac juga meletakan kepala Alinna kepada bahu nya yang lebar.
Alinna yang terlelap dalam tidur nya, membuat Zac akhir nya juga terlelap karena merasa ketularan kantuk. Alinna seperti merasa nyaman memiliki sandaran baru, bahu Zac yang kekar serta genggaman di tangan Alinna membuat nya semakin terlelap.
Alinna yang membuka mata nya ketika merasakan lapar pada perut nya, dengan rasa setengah sadar nya dia merasakan bahwa kepalanya tengah bersandar di bahu seseorang. Zac juga membuka mata nya ketika merasakan ada pergerakan di bahu dan tangan nya.
" Nyonya Alinna maaf.." Zac merasa canggung ketika Alinna melepaskan tautan tangan nya dan menatap nya dengan tatapan tanda tanya.
" Aku yang harus nya minta maaf tuan, bahu anda pasti merasa letih.." Alinna juga merasakan canggung karena ini juga pertama kali nya dia berdekatan dengan laki laki setalah meninggalkan Alex.
" Tidak apa nyoya... saya takut anda merasa lelah.." Zac yang di cap Playboy gak ketulungan dan gak tahu kapan tobat nya untuk pertama kali nya dia malu dan canggung berhadapan dengan wanita hamil di depan nya.
__ADS_1
" Sekali lagi terima kasih tuan Zac.." Senyuman yang manis dan ketulusan yang di lihat kan Alinna mampu menggoyangkan hati Zac saat ini.
' Jika dia bukan istri orang, sudah ku bawah dia pulang ke apartemen dan tak akan ku biarkan dia keluar dari kamar ' Batin nya berdialog sendiri dengan pikiran nya sendiri.
Pesawat mereka akan landas tengah malam, Alinna yang merasa canggung tak berani menatap Zac yang juga ikut merasakan canggung di sana. Zac hanya melirik dari ekor mata nya. Zac kembali memasang kaca mata nya ketika mendengar bahwa penumpang sudah bisa turun.
" Nyonya Alinna pegang tangan ku.." Zac mengulurkan tangan nya agar wanita di sebelah nya berpegangan pada tangan nya.
" Aku sudah tak apa tuan Zac.." Lagi lagi Alinna menolak nya dengan halus.
" Tidak akan terjadi apapun tuan, saya sudah baik baik saja, itu semua berkat anda.." Alinna tetap tak enak hati jika harus terus merepotkan orang lain.
" Anda senang sekali berdebat nyoya Alinna.." Ejek Zac kepada Alinna. " Anda hanya pegang tangan saya lalu kita turun.." Sambung nya dengan memaksa.
__ADS_1
" Tuan jika saya mengandeng tangan anda, reputasi anda akan turun karena akan di kira kita suami istri.." Alinna berusaha mencari alasan agar bisa menolak Zac dengan halus.
" Jika ada orang yang beranggapan seperti itu tak apa, aku senang bisa di lihat sudah memiliki istri, apalagi istri nya anda.." Zac menatap lekat wajah Alinna.
" Ha.." Alinna tak menyangka bahwa Zac akan mengatakan hal itu yang membuat dirinya malu.
" Baiklah sebaik nya kita turun sekarang.." Alinna hanya tersenyum kaku kepada nya. Alinna tak berpegang tangan, tapi Zac tetap berada di depan Alinna, agar Alinna tetap bisa hati hati dan pelan, Zac seakan menjadi pemandu jalan di saat mereka turun dari pesawat.
" Auww.." Liriknya dengan menahan rasa sakit pada perut nya, Alinna juga tanpa sengaja berpegang pada pundak Zac yang berada di depan nya.
Zac menyentuh nya menggenggam tangan Alinna dengan erat, tangan Alinna meremas nya dengan kencang. " Anda tak apa?" Zac merasa panik, tentu saja karena ini pertama kali nya di bersama wanita hamil yang sedang merasakan sakit pada perut nya.
__ADS_1
" Perut ku.." Alinna menahan rasa sakit nya dan Zac yakin bahwa itu sangat yakin karena remasan pada tangan nya begitu erat dan kencang.
" Kita ke rumah sakit.." Zac sangat panik dan takut terjadi apa apa. " Kamu bisa jalan.." Alinna mengangguk ketika tangan Zac merangkul pundak nya.