
Di ruangan lain Alinna sedang sibuk mengerjakan sesuatu di laptop nya dengan bersungguh sungguh.
Zac
Jangan lupa minum vitamin mu Alinna
Alinna yang melihat pesan singkat itu hanya membaca nya dengan wajah datar nya, dan mengambil vitamin yang ada di tas kecil nya.
Alinna
Terima kasih sudah mengingatkan
Balasan dari Alinna membuat Zac tersenyum, karena wanita yang dia kagumi tak memasang jarak di antara mereka.
Alinna
Jika kamu tak sibuk aku ingin mengundang mu makan siang di weekend besok
Zac
Aku akan senang makan gratis di tempat mu
Alinna
Baiklah aku akan menunggu mu
Pesan singkat itupun berakhir dengan perasan Zac yang senang.
" Lu kenapa tersenyum gak jelas dari tadi kayak orang gila.." Jovanka yang baru datang dan kini mendudukkan bokong nya di depan Zac.
" Tidak.. hanya pesan dari grup yang lucu.." Elak nya.
" Hai Natalie sayang, kamu mau kemana, dandan secantik ini.." Zac mengelus rambut panjang wanita kecil yang duduk di sebelah nya.
" Aku dan mommy akan pergi menemui tante cantik.." Jawabnya dengan polos.
" Tante cantik?" Zac mengulangi perkataan wanita kecil itu dengan mengerutkan kening nya.
" Alinna, aku dan dia akan minum kopi bersama.." Jovanka sedikit menjelaskan.
" Orang hamil di larang minum kopi Jovanka.." Katanya dengan tegas.
" Aku tidak hamil Zac."
__ADS_1
" Bukan kamu tapi Alinna."
" Kau mengkhawatirkan Alinna?, dia istri orang, kau harus tahu itu."
" Aku tahu jovanka, aku hanya mengkhawatirkan nya sebagai teman, apa aku salah?"
" Akan ada salah paham jika suami nya tahu Zac, kau harus menempatkan semua nya dengan apik."
" Astaga jovanka aku dan dia hanya berteman."
" Omong kosong, tak ada ketulusan dari kata teman antara laki laki dan wanita.." Jovanka tetap mengatakan bahwa dia tak setuju bahwa Alinna dan dia berteman.
" Aku hanya menganggap semuanya teman, tak ada yang lebih.." Setelah mengatakan nya dia segera pergi meninggalkan Jovanka yang masih mengganjal perasaan nya.
" Anak itu.." Lirik nya dengan kesal. " Sebaiknya nanti aku bicara dengan Alinna.." Sambung nya dengan kemudian bangkit dari duduk nya dan mengandeng tangan mungil putri nya.
" Hai.. maaf aku terlambat.." Jovanka yang baru datang mendaratkan bokong nya ke kursi di depan Alinna.
" Aku juga baru tiba.." Alinna tersenyum kepada teman wanita nya. " Dimana Natalie?" Tanyanya.
" Tadi dia ingin bertemu daddy nya, biasa anak perempuan akan selalu merindukan daddy nya."
Jovanka dan Alinna kini mengobrol ringan, santai. Canda tawa diantara mereka terlihat begitu tulus. Pertemanan yang terjalin dengan tulus pasti akan begitu awet dan menyenangkan.
" Ada apa Jovanka, katakan."
" Apa kau kenal dengan Zac.." Jovanka sangat hati hati bertanya karena takut wanita yang di depan nya tersinggung.
" Zac siapa yang kamu maksud?"
" Laki laki yang kau temui di rumah ku, sewaktu ada pesta anak anak ku."
Alinna sedikit mengingat nya. " Ah.. Zac Kozan maksud mu?" Jovanka hanya mengangguk pelan. " Aku dan dia berteman, karena dia sering menolong ku.." Sambung nya.
" Alinna maksud ku, kau sudah bersuami dan sedang hamil."
" Aku tahu Jovanka, dan aku tak mungkin bermain api. Aku dan dia hanya berteman, aku jamin itu."
" Laki laki dan wanita tak bisa menjadi teman tanpa ada rasa suka di antara mereka, kau tahu maksud ku bukan."
" Aku tahu Jovanka.." Alinna tersenyum tipis.
" Weekend ini aku ingin mengundang nya untuk makan siang, hanya untuk ucapan terima kasih karena sudah menolong ku.." Alinna mengatakan' rencana nya.
__ADS_1
" Alinna bukan nya aku tak percaya pada mu atau mencurigai mu, tapi aku hanya ingin semua nya tak ada yang salah paham di sini."
" Aku tahu sayang, dan terima kasih atas nasehat mu.." Mereka saling tersenyum.
Jovanka sebenarnya tak ingin mengurusi urusan orang lain, tapi ini menyangkut teman nya yang sudah di anggap seperti adik nya, dan ini juga menyangkut Zac, orang yang juga sudah dia kenal dengan apik.
🌹🌹🌹
" Zac duduklah, aku hanya bisa masak ini untuk kita makan.." Zac yang hari ini datang memenuhi undangan nya.
" Tak apa ini terlihat menggoda dan aku yakin ini lezat."
" Makanlah.." Zac dengan pelang mengambil makanan yang di depan mata nya yang begitu menggoda. " Ini enak Alinna.." Zac memuji makanan yang di masak oleh Alinna sendiri.
Bruschetta
Kini mereka telah makan dengan lahap dan tak ada pembicaraan di sana, setalah makan siang selesai kini mereka melanjutkan dengan obrolan ringan di taman belakang, obrolan mereka mengalir begitu saja, tanpa ada yang menanyakan masalah pribadi mereka masing masing, hanya obrolan tentang bisnis mereka masing masing.
" Jadi kamu yang bikin sketsa panti asuhan milik Jovanka?" Zac tak tahu bahwa wanita di depan nya selain Eo juga seorang Arsitek.
" Ape jelek?"
" Tidak, aku pernah melihat sketsa nya dan aku yakin itu akan bagus."
" Kau memuji atau menyindir?"
" Itu sungguh bagus Alinna, aku penasaran bangunan nya akan sebagus apa?"
" Kau berlebihan Zac.." Zac hanya tertawa karena Alinna tak percaya pada nya.
" Al, aku harus ke toilet, aku makan banyak tadi."
" Di ujung sana ada kamar tamu, kamu bisa memakai toilet yang di dalam kamar.." Zac dengan segera berjalan menuju pintu kamar tamu yang di tunjuk pemilik rumah.
Setelah masuk ke dalam kamar, dia segera masuk ke dalam toilet, setelah selesai dengan urusan toilet nya, dia segera keluar.
Mata nya menangkap bingkai foto yang tertutupi bantal, dengan penasaran dia melihat foto yang membuat mata nya melotot tak percaya, tapi senyum tipis di bibir nya.
" Alex.." Gumam nya dengan pelan.
" Kenak kau Amora Clarissa Keddrix, Alinna Kanna.." Senyum nya mengembang, dengan cepat Zac mengambil foto mereka dengan ponsel nya.
__ADS_1