
" Kau naik jabatan karena kau membongkar sindikat ini, tak ku sangka kau juga mengorbankan para tim ku untuk kepentingan pribadi..." Abhi juga menatap jijik kearah komandan Antoni yang sedang di tahan oleh orang orangnya.
" Aku hanya melakukan tugas ku..." Jawabnya. dengan meringis kesakitan.
" Tugas seperti apa yang merelakan tim nya di bakar hidup hidup di sana ha..." Emosi Abhi kini meninggi, ketika dia ingat seperti apa kobaran api yang menghabiskan bangunan itu.
" Jangan bicara pengkhianatan di sini, kau yang lebih pengkhianat di sini. Kau masuk ke dalam mafia karena kau jatuh cinta pada wanita mafia itu..." Laki laki yang di bawah Abhi kini berbicara kembali. Abhi sedikit terkejut bahwa laki laki ini tahu Abhi memiliki rasa kepada wanita itu.
Abhi berjongkok dengan menarik rambut laki laki itu, laki laki merintih kesakitan ketika rambut itu di tarik kebelakang hingga kepalanya juga sedikit tertarik kebelakang.
" Kau tahu semua nya, tapi aku tak heran kau bisa mengetahui semua. Kau memang teman yang baik dari dulu Aiden..." Jawabnya dengan sinis. Rekan komandan Antoni adalah Aiden, teman dari Abhi sendiri. Dialah dalang dari semua ini. Dialah yang membakar ini semua.
Prok!! Prok!! suara tepuk tangan dari seseorang yang masuk ke sana membuyarkan tatapan sengit dari mereka semua. Mereka yang masuk ke dalam sana melihat lawan mereka sudah ter lumpuhkan. Mata Abhi menangkap sosok wanita yang dia rindukan beberapa hari ini. Kilatan kemarahan tadi kini luntur menjadi kilatan penuh cinta serta kerinduan yang mendalam.
Sedangkan wanita itu hanya menatap datar kearah Abhi yang menjambak seseorang yang tergeletak di lantai yang penuh luka.
" Wouw tak ku sangka rekan nya adalah teman mu sendiri..." Zac kini di buat tak percaya bahwa rekan nya adalah orang yang dia tahu sejak dulu, bahkan kemarin dia sempat bekerja sama dengan menanamkan saham di restoran barunya itu. " Sayang lihatlah laki laki yang ingin di jodohkan dengan mu sekarang ingin mati di tangan kakak mu sendiri..." Sambungnya dengan meringkuk pinggang istrinya yang dari tadi hanya diam tak bersuara.
" Ini semua gara gara kamu, jika saja kau tak masuk ke dalam kehidupan Valarie aku tak akan seperti ini, kau juga yang membakar restoran ku. Val dia membakar restoran ku, jika dia tak mengusik hidup ku, aku juga tak mengusik hidupnya..." Aiden kini menatap wanita yang dia cintai itu, tapi sayangnya wanita itu hanya menatap acuh kearahnya.
" Kau lebih baik mati Aiden, gara gara ulahmu kakak ku harus menjadi korban dari ini semua..." Kini Val yang berbicara dengan menatap laki laki itu dengan tatapan benci serta amarah. Jika ini semua tak terjadi kakaknya tak akan di tuduh sebagai pengkhianat oleh suaminya, bahkan kata kata kasar yang terlontar kemarin juga tak mungkin keluar.
" Aku memang membakar restoran mu karena kau ingin mengambil istri ku, kau mencari lawan yang salah. Tapi sekarang aku menyesal telah memberikan saham di restoran baru mu itu. Harusnya aku membiarkan mu menjadi gelandangan agar tak memiliki uang untuk berbuat hal bodoh seperti ini..." Zac kini berucap dengan nada santainya, dia selalu tenang. Keadaan apapun dia selalu tenang.
__ADS_1
" Bos dalam perjanjian saham itu, jika dia meninggal maka restoran itu menjadi milik kita..." Timpal Albert yang dari arah belakang.
" Benarkah?" Senyum licik dari Zac kini dapat di lihat dari wajahnya.
" Apa anda ingin semua aset nya berpindah ke tangan anda?"
" Sepertinya menarik jika aku mengurus semua aset miliknya..." Jawaban dari bos nya membuat Albert dengan segera menyiapkan dokumen yang selalu dia bawah kemana pun jika ada hal yang seperti ini. Semua aset yang berurusan dengan mafianya harus di relakan di ambil paksa oleh mereka semua.
" Berikan cap jempol mu..." Albert kini membentaknya ketika di berjongkok di sana.
" Tidak.. aku tidak akan memberikan cap jempol ku..." Tolak Aiden dengan kencang. Kilatan amarah dari mata Aiden dapat terlihat jelas.
Orang orang yang di sana membangunkan laki laki itu dengan kasar hingga membuat Aiden berdiri di sana. " Berikan cap jempol mu dengan suka rela atau harus kami paksa..." Albert juga tak kalah memaksa untuk mendapatkan cap jempol itu.
" Tidak..." Tolaknya dengan kencang.
Albert mengeluarkan sebuah pisau lipat yang selalu berada di saku nya. Tangan Aiden kini di letakkan di depannya, Albert kini menatap Aiden dengan senyum yang menakutkan.
" Apa yang ingin kau lakukan?" Suara Aiden kini gemetar ketika pisau itu di buka oleh Albert.
" Memotong jari mu untuk cap jempol. Kau tak ingin melakukan dengan suka rela jadi aku siap membantu mu melakukan ini..." Senyum tipis dari Albert membuat Abhi yang berada di dekat Aiden juga ikut merinding ketakutan.
Sedangkan Val yang melihatnya tak tega kini dia malah bersembunyi di ceruk leher suaminya, hal ini terlalu mengerikan bagi dirinya, dia baru pertama kalinya melihat hal yang mengerikan seperti ini.
__ADS_1
" Kau gila ingin memotong jempol ku ha..." Aiden berteriak kencang di depan Albert.
" Sekali lagi aku beri kau kesempatan. Kau suka rela atau ku paksa..." Albert kali ini bersungguh sungguh tak ada wajah bercanda.
" Tapi jika pun dia menolak nya, dia tak akan cacat Al, karena dia akan tetap mati di tangan ku..." Timpal Abhi.
" Jadi lebih baik aku memotong jempolnya?"
" Iya karena dia tak berguna. Kau harus merelakan jempol mu itu..."Albert siap mengarahkan pisau itu kepada jempol Aiden.
" Aku akan lakukan apa yang kalian suruh, aku akan berikan cap jempol ku..." Aiden segera menahan Albert yang ingin memotong jempol laki laki itu. Aiden dengan cepat memberikan cap jempol serta tanda tangan di atas dokumen itu.
Albert tersenyum penuh kemangan ketika dia selesai dengan tugas nya itu. Albert menepuk pipi laki laki itu dengan pelan serta tangan nya sedikit memberikan ciuman perpisahan.
" Kalian tak hanya mafia tapi kalian juga perampok..." Teriaknya.
Bug!! Abhi memukul Aiden dengan kencang ketika dia mengatai mereka semua. Sedangkan komandan Antoni kini sudah pingsan karena darah yang keluar dari kaki nya begitu banyak.
" Kami memang perampok..." Timpal Andre dengan dingin. " Kami sangat senang merampok aset aset mu, kami akan mengurusnya dan tetap memberikan uang untuk masa tua kedua orang tua mu yang sedang berada di Belanda..." Sambungnya lagi, Andre dari tadi diam karena mencari tahu siapa saja keluarga lawannya itu.
" Jangan kau sentuh mereka. Jika kau menyentuh mereka ku pastikan aku akan menghantui kalian semua..." Teriaknya, Aiden tak menyangka bawa mereka tahu keberadaan kedua orangnya tua nya itu. Padahal dia menyembunyikan kedua orang tuanya jauh sebelum peperangan ini terjadi.
" Sebelum dia mati aku ingin mendengar semua rencananya..." Zac kini kembali membuka suaranya.
__ADS_1
" Ceritakan kepada kami semuanya..." Abhi kini mencengkram lengan Aiden dengan keras membuat laki laki itu menatap kearahnya dengan tatapan bencinya.