Wanita Nakal

Wanita Nakal
Wanita Nakal Musim3_ Memberinya Kesempatan


__ADS_3

Andre yang dari tadi berlari mencari adik tiri nya kini menemukan adiknya yang terduduk di lantai dengan tubuh yang gemetar. Andre berlari menghampiri adiknya dengan juga duduk di lantai dengan menyentuh pundak adiknya itu.


" Monica..." Liriknya dengan pelan.


Wanita itu kini menatap kakak nya yang juga duduk di depan nya, Monica menghapus air mata nya dia mencoba tegar dengan menghapus air mata nya itu.


" Kau tak apa?" Sebuah pertanyaan sederhana dari Andre membuat wanita itu kini semakin berkaca kaca kembali tapi senyuman itu tetap terpancar di sana.


" Aku tak apa..." Jawabnya dengan mencoba tersenyum.


" Kau bertemu dengan nya?, dia mengatakan bahwa dia yang menghubungi police itu?" Seakan hatinya di remas ketika dia harus mengingat pertemuan terakhir nya, dia tak sempat bertanya apapun. Monica hanya geleng geleng kepala dia merasa bersalah karena tak sempat bertanya hal lain.


" Jangan pikirkan lagi, kita harus segera pergi dari. Markas kita akan segera di kepung lagi oleh para police mungkin FBI, maka dari itu kita harus segera meninggalkan tempat ini..." Perkataan Andre membuat dirinya sadar bahwa tim nya saat ini sedang dalam keadaan bahaya. Harusnya dia tak memikirkan masalah hatinya yang terluka.


Monica dengan segera bangun dari duduknya dia menghapus air mata nya yang dari tadi sudah keluar terus menerus. Monica mengangguk dan Andre segera menarik tangan wanita itu dan kini mereka berlari kencang keluar dari markas itu. Kini mereka berlari kencang keluar dari markas itu melewati pintu belakang.


" Cepat..." Steve kini berteriak ketika melihat kedua orang nya itu berlari dengan kencang. Steve yang melajukan mobilnya dengan pelan dan membuka pintu nya dengan segera membuat kedua orang itu segera masuk ke dalam mobil yang di kendari oleh Steve.


Sedangkan Zac dan Val kini sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mereka telah meninggalkan markas itu dengan segera sebelum pihak police dan FBI datang ke tempat itu.

__ADS_1



Kini mereka sudah keluar dari area perhutanan yang sekeliling nya di tumbuhi oleh pohon trembesi, pohon yang sudah ribuan tahun ada di sana kini telah mereka lewati dengan perasaan yang lega karena sudah melewati nya dengan segera.



Valarie terdiam dengan pemikiran nya yang merasa kacau, kenapa harus kakaknya yang dia lawan, kenapa harus kakaknya yang mengacau di sana. Valarie memejamkan matanya mengingat wajah kakaknya yang tegang tadi. Zac menggenggam tangan istrinya, Val membuka matanya menatap suaminya yang duduk di samping dengan mengemudi.


Mereka saling tersenyum meskipun senyuman itu ada kegetiran di sana, senyuman itu ada kegelisahan tapi kedua orang itu pandai menutupi nya. Zac sebenarnya juga berharap bahwa laki laki police datang menemuinya dengan membawa pelaku siapa dalang di pengepungan tersebut.



Mobil yang paling belakang kini mulai terlihat, pikiran nya tambah tenang ketika mobil yang di bawah Steve terlihat dari jarak jauh. Kini Zac dengan cepat mengendari mobil itu dengan kecepatan tinggi, mobil yang ada di belakang itu kini juga mengikuti mobil milik nya.


Satu jam perjalanan mereka tak membuat kedua orang yang ada di dalam mobil membuka suaranya. Valarie diam dengan pemikirannya sedangkan Zac fokus ke jalan dengan melirik kejalan untuk lebih waspada.


Sedangkan ketika orang yang berada di dalam mobil lain juga sama sama diam, mereka fokus dengan jalanan yang ada di depan. Mereka harus lebih waspada sekarang. Rumah kecil itu kini menyambut mereka, rumah di pinggir pantai yang mereka tuju saat ini.


" Bos anda tak apa?" Albert langsung menyambut kedatangan orang orang nya, serta langsung bertanya kondisi bos nya yang mengandeng istrinya.

__ADS_1


" Kami baik..." Jawabnya dengan menatap sekelilingnya. " Sementara kita tinggal di sini untuk bersembunyi..." Sambungnya dengan berbisik pelan ke istrinya, Valarie tersenyum mengangguk. Tak jadi masalah jika mereka harus bersembunyi di mana pun, yang menjadi pikiran wanita cantik itu tak tenang adalah musuhnya sang kakak nya sendiri.


Kini mereka segera masuk ke dalam, Albert yang ingin bertanya di beri kode oleh Steve untuk tak bertanya apapun. Kini Zac dan Val masuk ke dalam kamar mereka.


" Jangan pikirkan hal yang tidak tidak honey..." Zac mengelus rambut panjang istrinya dengan lembut dia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh sang istri.


" Maaf..." Kata singkat itu mampu membuat mata cantik wanita itu berkaca kaca. Dia sudah tak tahan untuk tidak meneteskan air matanya. Gara gara kakaknya mereka harus bersembunyi seperti ini. Dia tak bisa memilih, ini terlalu sulit untuk dia pilih.


" Ssstt... jangan menangis honey, tak ada yang perlu di maafkan. Semuanya akan baik baik saja hem..." Zac memeluk tubuh istrinya yang dari tadi dingin kepadanya, dia pikir istrinya marah padanya tapi nyatanya sang istri sedang menahan kata kata yang mampu membuatnya menangis seperti ini.


" Maafkan kakak ku sayang, aku tak tahu dia bisa bersandiwara seperti ini hiks hiks.. andai aku tahu dari awal aku akan bilang pada nya untuk tak melakukan ini, hiks hiks..." Kini tangisan itu tak bisa di bendung lagi, Valarie kini terisak di depan suaminya. " Aku tak tahu harus meminta maaf bagaimana kepada tim mu, gara gara kak Abhi kalian harus bersembunyi seperti ini..." Sambungnya dengan menahan suara isak tangis itu.


" Sayang bukan kamu yang harus meminta maaf pada kami, tapi kakak mu itu. Tapi aku tak yakin bahwa kakak mu berkhianat, mungkin benar ada seseorang yang mencoba mengikuti mereka sewaktu mereka datang ke markas. Aku memberikan kesempatan kakak ipar untuk mencari tahu semuanya, biarkan kakak ipar mencari tahu sendiri tanpa bantuan dari kami..." Val melepaskan pelukan itu menatap suaminya dengan tak percaya.


" Maksud mu kakak ku masih hidup?, dia belum mati di sana?" Zac malah terkejut mendengar pertanyaan istri nya itu.


" Kau mengira kakak mu mati disana?" Val mengangguk dengan cepat, dia pikir kakaknya meninggal dalam pertempuran tadi, tapi nyatanya sang kakak masih hidup dan mencari tahu siapa dalang dari ini semua.


" Kau percaya pada kakak ku bahwa dia tak mungkin melakukan hal ini?" Suaminya mengangguk dia tak yakin bahwa kakak iparnya ini memberi tahu kesatuan nya karena setiap pergerakan laki laki itu di intai dan pemantauan itu tak menunjukan bahwa laki laki itu bersandiwara.

__ADS_1


" Aku memberi kakak ipar kesempatan satu minggu untuk membawa seseorang yang sudah ingin mengadu domba aku dan kakak ipar, aku rasa dia sudah tahu siapa aku sebenarnya..." Katanya dengan menatap ke arah istrinya. Sang istri kini bisa tersenyum meskipun senyumnya itu hanya sekilas.


__ADS_2