
" Duduk..." William kini membentak kedua orang yang saat ini sedang beradu pandang dengan tatapan sengit nya. " Aku bilang duduk..." Sambungnya lagi dengan nada tinggi.
Bryan menatap William dengan mencubit pipi nya dengan tersenyum. " Aku tak bercanda Bryan, duduk."
" Kau puas..." Bryan kini duduk dengan terpaksa.
Cristian yang juga berdiri dengan emosi tadi kini juga duduk kembali dengan menurunkan emosinya. Dia mencoba untuk tenang agar semuanya tak bertambah berantakan.
" Setelah kita menemukan pelaku nya terserah kalian mau bertengkar, aku tak peduli. Sekarang kalian harus pikirkan cara nya agar menemukan pelaku yang membunuh Amel."
Ketiga orang itu kini berpikir, sedangkan Bryan yang menghidupkan rokoknya dengan menatap ke arah mereka berdua. " Aku sudah menemukan cara memancing para pelaku agar keluar dari tempat persembunyian nya."
Kedua laki laki itu kini menatap ke arah Bryan dengan penuh harapan serta tanda tanya besar tapi yang di tatap hanya tersenyum penuh dengan arti yang hanya dia yang tau.
William dan Cristian saling bertatapan dengan tak mengerti rencana apa yang akan di lakukan oleh Bryan.
" Kalian akan tau nanti rencana apa yang akan aku lakukan, tunggu saja..." Bryan kini malah meninggalkan tempat di mana kedua laki laki itu berencana.
Lagi lagi kedua laki laki yang di tinggalkan di tempat sana hanya bisa saling menatap karena mereka tak tau rencana apa yang akan di susun olehnya.
" Apa yang dia pikirkan Will?" Tanyanya dengan menatap punggung Bryan dari kejauhan.
" Entahlah tapi aku yakin dia sudah memikirkan semuanya dengan matang matang..." William yakin bahwa sepupunya tak akan ceroboh dalam hal apapun, apalagi masalah dengan balas dendam ini.
" Tapi aku takut dia malah menghancurkan misi ini dan para musuh malah mengetahui jika kita memancing mereka keluar..." Khawatirnya dengan menatap ke depan.
" Kita lihat saja apa yang dia lakukan tapi aku yakin dia tak akan berbuat hal yang merugikan kita, aku yakin dia sudah memiliki cara sendiri untuk memancing para pelaku."
__ADS_1
Cristian hanya menghela nafasnya dengan berat dia tak yakin laki laki itu memiliki rencana yang baik untuk mereka semua. Terlihat emosi yang dari tadi tinggi tak mungkin memiliki rencana yang bagus untuk menangkap seseorang.
Sedangkan di cafe Sarah kini kembali bekerja membalut rasa duka nya dengan mencari ke sibukkan nya dengan memulai aktifitas nya kembali. Meskipun masih sangat terlihat jelas raut kesedihan nya tapi dia berusaha untuk tetap melakukan aktifitasnya seperti biasa.
" Sarah kami turut berduka atas kepergian adik mu..." Salah satu teman nya kini mengucapkan rasa duka nya.
" Terima kasih..." Ujarnya dengan pura pura tersenyum.
Senyum yang paling menyakitkan adalah senyum yang berpura pura untuk menutupi rasa sakit di hatinya. Senyum yang menutupi rasa kecewa dengan keadaan yang sangat tak adil bagi nya.
" Sarah jika kamu masih ingin berada di rumah untuk menenangkan hati mu maka aku tak masalah, kami akan menunggu..." Seorang Manager yang ada di sana juga mengatakan dengan rasa dukanya.
Dia tau bahwa apa yang di rasakan oleh Sarah saat ini adalah duka yang sangat mendalam. Kepahitan yang harus di lewatinya adalah berpura pura baik baik saja di depan semua orang.
" Baiklah jika begitu, jika kau merasa masih merasa sedih maka kamu bisa pulang kapan pun..." Sarah kembali mengangguk. " Baiklah ayo sekarang kita bekerja kembali."
Kini mereka kembali bekerja, para pekerja yang lain masih merasa iba kepada Sarah. Meskipun dia terlihat sangat tenang dan beberapa kali tersenyum seperti biasanya tapi semua orang tau bahwa senyum itu masih menyimpan rasa duka kehilangan adik satu satu nya.
" Lio biarkan aku yang mengantarnya, kamu duduk saja..." Sarah mengambil pesanan yang akan di antar oleh temannya.
" Tapi Sar-"
" Tak apa kamu istirahat saja dulu, nanti gantian sama aku..." Sebelum Lio temannya menjawabnya dia sudah mengambil pesanan yang akan di antar oleh nya.
Lio temannya hanya menatapnya dengan rasa sedihnya, dia tau temannya sedang mempersibukkan dirinya agar tak memikirkan hal yang membuatnya sedih.
__ADS_1
Jam terus berputar tak terasa awan yang biru tadi juga mulai berubah menjadi gelap. Gelapnya malam juga sudah memulai merata. Semua orang kini kembali ke rumah masing masing untuk berkumpul keluarganya.
" Astaga aku lelah hari ini..." Terlihat jelas bahwa Sarah sangat merasa letih.
" Lain kali jangan mengambil apa yang bukan tugas mu Sarah, kau akan leleh dan kau bisa sakit..." Lio temannya tadi menghampiri Sarah yang duduk dengan menyenderkan kepalanya kepada dinding.
" Tak masalah Lio, aku kemarin tak bekerja bukan dan aku yakin kalian pasti lelah jadi gantian aku..." Jawabnya dengan tetap menutup matanya.
" Sarah maafkan aku jika aku bertanya ini kepada mu! apa police sudah menemuka-"
" Belum..." Sarah langsung memotong apa yang ingin di tanyakan oleh temannya itu. Sarah kini menatapnya dengan tersenyum.
" Aku tak mau memikirkan hal itu Lio, biarkan pihak police yang menemukannya. Tugas ku hanya menunggu mereka memberi kabar pada ku dengan aku yang tetap berjalan dengan hari hari ku! aku tak mungkin terpaku dengan rasa duka ini..." Sarah kembali tersenyum.
" Aku memang masih berduka, bahkan masih sangat bersedih. Jika di katakan aku masih ingin menyendiri dan meratapi kepergian adik ku, tapi sampai kapan? menangis sekuat hati hingga darah yang keluar, memberontak pun, kecewa dengan Tuhan, terpuruk dengan melukai hati ku akan percuma! karena adik ku tak akan mungkin kembali dengan hidup lagi bukan? jadi aku di sini untuk merelakan semuanya, meneruskan hidup ku. Bagaimana pun aku tak ingin mengakhiri hidup ku dengan sia sia..." Kata kata nya menyimpan makna yang tersimpan begitu besar.
" Kau sungguh kuat Sarah, apapun yang terjadi kepada mu percayalah bahwa Tuhan menjadikan mu orang yang selalu kuat dengan cobaan nya. Kau wanita yang kuat yang pernah aku temui."
" Aku harus kuat Lio, jika bukan aku yang menguatkan diri ku sendiri maka tak ada lagi. Aku tau Tuhan memiliki ku untuk menjadikan aku batu yang awalnya kecil kini menjadi batu yang besar dan akan siap di terjang badai dan ombak sekalian. Dan batu itu akan tetap kuat meskipun ombak besar telah menghantamnya berulang kali."
Lagi lagi mata matanya tersimpan luka dan kecewa dengan keadaan tapi dia dengan berusaha untuk menguatkan hati dan dirinya sendiri. Kehilangan sosok yang di sayangi bukanlah hal yang mudah di terima, tapi terpuruk seburuk apapun tak akan merubah takdir nya. Sedangkan jalan hidupnya harus tetap berjalan.
Jalan nya adalah menerimanya dengan ikhlas menjadikan dirinya sebagai batu yang akan tetap kuat meskipun hujan badai dan ombak besar menerjang nya.
Sambung besok ya mak 🤭 ini bukan tamat cuma lagi bersambung aja 😁
__ADS_1