Wanita Nakal

Wanita Nakal
Wanita Nakal Musim3_ Merelakan 1


__ADS_3

Tuhan masih tak ingin untuk mengambil orang yang belum saat nya meninggal,


Manusia hanya bisa berencana tapi tidak bisa menentukan apa yang telah di tetapkan oleh Tuhan.


Angin yang berhembus saja adalah perintah Tuhan,


Apalagi dengan Nyawa manusia yang diciptakan.


Jangan menghendaki apa yang belum Tuhan garis kan untuk mu,


Karena apa yang telah kita jalankan adalah Takdir Tuhan.


Author 🥰🥰


🥀🥀


.


.


.


Lampu yang menyala terang kini mengenai kedua mata Albert dengan cahaya silaunya. Albert menggeliat dalam terbaring nya, dia merasakan cahaya itu begitu silau di mata nya yang dengan perlahan membuka matanya.


Tangannya bergerak ketika rasa kebas ada di telapak tangannya. Albert membuka matanya dengan perlahan. Menatap langit langit kamar yang berwarna putih yang ada di atas nya.


Albert menatap sekelilingnya dengan penuh heran karena merasa asing di matanya, keningnya berkerut ketika dia sadar dia tak tahu di mana dirinya terbaring lemas.


" Albert kamu sudah sadar!" Suara yang tak asing masuk ke telinga nya dia menoleh ke arah samping.


Orang itu tersenyum tapi senyumnya ada air mata yang menetes dari matanya. Rasa lega kini menjadi satu menjadi rasa haru yang begitu tinggi.


" Aku di mana Violet?" Tanyanya dengan bingung.

__ADS_1


" Kamu di rumah sakit Al, apa kamu tidak ingat apa yang terjadi tadi?"


Albert memejamkan matanya dengan sebentar dengan tangannya menyentuh kepalnya yang terasa pusing, perutnya juga terasa sakit ketika dia berusaha untuk bergerak.


Flashback


" James."


" Tidak James."


Dor!! satu tembakan itu melayang dengan cepat ke arah kaki James, peluru bersarang di sana hingga membuat laki laki yang tadi ingin lari ke arah kobaran api kini langsung berhenti dengan menundukkan badannya menyentuh kakinya yang begitu sakit karena ada peluru tersebut.


Gusman dan Albert menatap ke arah suara tembak itu dan di sana ada Baron yang berdiri dengan menodongkan pistol ke arah James. Para pemadam tadi yang menerobos api membuat dia harus ikut kedalam. Niatnya ingin membantu Tuan nya.


Baron langsung meletakkan pistolnya kembali dia dengan cepat berlari menuju ke arah bosnya yang merintih kesakitan di bawah lantai.


" Tuan Albert anda tak apa?" Baron langsung membantu Albert untuk berdiri.


" Selamatkan James juga Baron, jangan biarkan dia mati!" Ujarnya sebelum Albert jatuh ke lantai lagi dengan dia yang tak sadarkan diri.


Rasa sakitnya kali ini sungguh tak bisa di tahan oleh dirinya, darah yang dari tadi keluar banyak membuat dirinya kehilangan banyak darah dan langsung kehilangan kesadaran saat ini.


Baron tentu saja panik dia takut jika terjadi apa apa dengan Bos nya, jika terjadi hal buruk maka dapat di pastikan akan ada murka dari pimpinan nya Singa.


" Tuan Al bangun! Tuan buka mata mu..." Baron menepuk pipi Albert dengan pelan tapi nyatanya tak bisa membuat laki laki itu sadar.


Baron menatap James saat ini sudah di pegangi oleh Kakak nya dan ada orang pemadam yang membantunya. Baron dan satu orang lagi telah membopong Albert yang tak sadarkan diri di sana.


" Albert! apa yang terjadi kepada Albert?" Violet yang lihat kekasihnya keluar dari rumah dengan cara dibopong langsung panik dengan air mata tambah deras.


" Ada apa dengan Tuan Albert?"


" Sepertinya Tuan Al banyak kehilangan darah! kita harus bawah ke rumah sakit."

__ADS_1


Beberapa orang kini panik di tambah melihat kedua orang yang terjebak tadi juga di bantu jalan oleh orang pemadam kebakaran yang ada di sana. Sang dokter yang tadi membantu Albert masuk ke dalam mobil kini juga melihat James yang berjalan tertatih.


" Ayo masuk kenapa kau hanya diam di sana?, kau ingin menyelamatkan dia di banding bos mu?, kau ingin di bunuh oleh Singa jika terjadi apa apa dengan Tuan Albert!" Suara Baron begitu tegas dan sedikit membentak.


Dokter wanita itu kini langsung masuk ke dalam mobil meninggalkan pasiennya yang saat ini juga butuh pertolongannya.


" Kau lihat ini semua karena ulah mu! jika kau lebih menurunkan ego mu ini semua tak akan terjadi..." Sang Dokter mengomel dia meluapkan kembali kekesalannya ke arah Violet yang hanya bisa menangis.


" Jika kau tak datang maka semuanya tak akan begini, kau lihat karena keras kepala mu itu!" Sambungnya lagi dengan membuka perban yang telah berganti warna menjadi merah darah.


Violet tak menjawabnya dia hanya bisa diam dengan air mata yang terus menetes. Dia sadar ini semua adalah kesalahannya dan itu membuat dia tak berani melawannya.


" Mama, apa yang terjadi dengan Paman Al?"


" Tak apa sayang! Paman Al hanya lelah dia butuh tidur sebentar oke!" Jawab sang Dokter.


Sang Dokter melirik sinis ke arah Violet yang menunduk dengan memeluk putrinya Angel. Dia tak bisa menjawab apa yang telah di katakan oleh wanita itu, karena apa yang telah di katakan adalah benar. Keras kepalanya membuat kekacauan sebesar ini.


Sang Dokter hanya geleng geleng kepala ketika melihat jahitan nya yang sudah banyak yang terbuka, jahitannya terbuka lebar.


" Jika terjadi apa apa dengan Tuan Albert maka kau yang harus menjelaskan kepada Bos Singa! jangan hanya kau besarkan keras kepala mu dan kau menangis saja bisa nya! kau lihat sendiri sekarang akibatnya seperti apa!"


Sang Dokter nampaknya masih belum puas dengan rasa kecewa nya kepada Violet dia masih saja marah dengan Violet yang hanya membesarkan keras kepalanya dan tak memikirkan akibatnya.


Jika semuanya bisa di pikirkan kekacauan sebesar ini tak akan terjadi, kekacauan yang mengakibatkan kedua korban yang saat ini butuh penanganan cepat. Dan perang tak akan terjadi.


Singa juga tak akan marah kepada mereka di tambah nanti melihat kondisi orangnya yang kritis saat ini. Kemarahan Singa tak akan bisa di bantah. Saat ini mereka hanya bisa saling berdoa agar semuanya bisa selamat dan tak ada korban di pertengkaran tadi.


Violet masih setia dengan memengang tangan Albert dengan erat. Matanya masih terpejam karena dirinya memang tak bisa untuk melawan rasa sakit pada tubuhnya. Rasa sakit yang menyerang tubuhnya saat ini tak mampu membuat Albert sadar.


Tapi dia berjuang menyelamatkan orang yang menganggapnya musuh sebelum dia dalam keadaan kritisnya saat ini. Sedangkan James saat ini juga meringis kesakitan ketika peluru yang ada di dalam kakinya masih belum di keluarkan. Mereka masih berada di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit dengan mobil yang berbeda tapi kedua mobil itu sama sama membawa orang terluka.


Flashback Of

__ADS_1


__ADS_2