
Aku tak bisa mundur ketika takdir sudah menentukan nasib ku. Tuhan selalu tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik atau mana yang tidak. menyesal pun tak ada gunanya karena semua nya sudah terjadi.
Valarie
...💦...
Aku bukan laki laki brengsek yang tak bertangung jawab ketika sudah mengambil apa yang sudah kau jaga dari dulu. Aku akan bertangung jawab bagaimana pun cara. Cinta akan tumbuh dengan seiring waktu.
Zac
...💦💦...
Pov Author
Pagi ini semuanya masih terlelap dengan mimpi mereka masing masing. Abhi yang pagi ini harus segera menghadap kepala komandan nya karena harus ada yang mereka bahas. Sedangkan Aiden masih tertidur dengan wanita yang menjadi teman calon tunangan nya. Aiden yang terbawa suasana mabuk nya tak sadar apa yang dia lakukan semalam. Sedangkan Valarie dan Zac masih saling mendekap penuh kehangatan, setelah pertempuran semalam mereka langsung terlelap dalam tidur nya, tertidur dengan lelap di dalam dekapan laki laki gondrong yang sudah mengambil sesuatu yang dia jaga selama ini.
Valarie bergerak ketika merasakan perutnya ada yang bergejolak memuntahkan sesuatu, dia membuka mata nya, menatap sekelilingnya yang terasa asing di mata cantik nya, rasa pusing seakan hinggap di kepala wanita cantik itu. Kelopak mata nya menatap laki laki yang dari tadi mendekapnya, mata nya seakan melotot tak percaya ketika melihat laki laki yang bertelanjang dada di sebelahnya. Valarie mengingat kembali kejadian semalam, dia mengutuk dirinya yang bodoh karena ingin mengikuti laki laki brengse* itu membuat nya harus berakhir di ranjang laki laki asing, tapi tunggu?, pikiran dan mata nya menangkap wajah tampan bagaikan dewa ini.
" Laki laki ini yang menolong ku satu minggu yang lalu..." Wajahnya memerah ketika bayangan waktu itu kini menjadi kenyataan. Dia berada di dalam dekapan laki laki yang satu minggu kemarin dia pikirkan dan dia bayangkan bahwa akan nyaman berada di dalam dekapannya, dan benar rasa itu nyata ada nya.
__ADS_1
Dia sedikit membuka selimut yang menutupi tubuhnya, tubuhnya polos tanpa mengunakan apapun, pikirannya meraba apa yang terjadi semalam dan apa yang mereka lakukan semalam. " Sia*..." Bibir itu mengumpat ketika dia mengingat semua apa yang terjadi. Menyesal tak ada gunanya karena tak akan mengubah apapun. Ini gara gara calon tunangan nya yang membuatnya seperti ini.
" Ah..." Rintihan kesakitan ketika dia mencoba berdiri dari duduk nya. Dia meringis karena memang pangkalan paha nya terasa sakit dan perih.
" Kau mau kemana?" Suara serak laki laki itu yang dari arah punggung nya membuat nya tak bisa bergerak sama sekali. Malu dan rasa sakit menjadi satu.
" Istirahatlah dulu, kepala mu pasti masih pusing, bagian tubuh bawah mu juga pasti masih perih..." Perkataan nya yang lembut membuat wanita yang memugunginya wajah nya langsung memerah seketika.
" Aku hanya ingin ke kamar mandi, aku tak nyaman dengan rasa lengket ini..." Lagi lagi dia harus meringis kesakitan ketika mencoba berdiri tapi perih itu masih ada di bawah sana.
Sial, apa harus sesakit ini. Aku tak akan mau melakukan nya jika sakit seperti ini. Batin Valarie dengan memejamkan mata nya.
"Auw..." Dia setengah berteriak ketika tubuhnya melayang di gendong oleh laki laki gondrong yang membawa nya masuk ke dalam kamar mandi.
" Berendam lah untuk merenggangkan otot otot mu yang tegang..." Zac menurunkan tubuh polos wanita itu ke dalam bath tub agar wanita yang di turunkan bisa merilekskan tubuhnya karena pertempuran panas mereka.
" Aku akan pesankan makanan dan obat pereda sakit kepala..." Val hanya menunduk karena rasa malu nya. " Apa tubuh mu itu masih sakit?" Val hanya mengangguk malu, kali ini wajah nya memerah karena laki laki di depan nya bersikap manis kepada nya. " Aku akan belikan obat juga agar tak terasa sakit lagi..." Sebuah kecupan manis yang dia layangkan di kening wanita itu menambah memerah wajah wanita tersebut. Jantung nya terasa akan lompat dari tubuhnya, semua perilaku manis ini dia dapatkan dari sosok laki laki yang tak dia kenal.
__ADS_1
Kali ini Val malah tak bisa berkutik ketika laki laki itu dengan sengaja mandi di belakang nya, rasa malu serta rasa ingin melihat nya seakan menjadi satu di benak nya, dengan susah payah Valarie menahan semua yang ada di benak nya. Zac menyadari bahwa wanita itu hanya menunduk tak berani bergerak menyudahi mandi nya dengan cepat agar wanita itu bisa menikmati berendam nya.
Hampir satu jam Valarie menyelesaikan ritual mandi nya, dia bingung karena pakaiannya dia tak punya, dia terpaksa memakai kimono putih serta handuk yang melilit di rambut nya karena basah.
" Astaga..." Dia tak percaya bahwa di leher nya serta di dada nya ada banyak sekali tanda kepemilikan bertaburan di sana, bahkan sangat jelas meskipun dari jarak jauh sekali pun.
" Kau sudah selesai?, aku baru saja memesan makanan untuk kita..." Zac masih fokus ke layar ponsel nya, dia tak menatap wanita yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan wajah yang marah.
" Kau kenapa membuat tanda sebanyak ini, aku ada pemotretan besok, tak mungkin tanda ini hilang bukan, jika media melihat nya mereka akan membicarakan ku..."Zac akhirnya menatap wanita yang mengomel panjang lebar di ambang pintu.
Jadi dia model. Batin nya dengan meletakan ponsel milik nya.
Zac berdiri melangkahkan kaki nya menuju wanita yang berdiri di ambang pintu, bersandar di pintu yang sudah tertutup.
" Kau marah karena aku membuat tanda sebanyak ini..." Katanya dengan menunjuk leher jenjang yang sengaja di perlihatkan oleh wanita itu. " Aku tak marah kau membuat nya juga di leher ku dan di dada ku..." Val yang dari tadi tak menatap laki laki itu kini mata nya menatap leher serta dada nya yang juga banyak tanda seperti miliknya.
__ADS_1
" Ah... maaf..." Ucapnya tergagap ketika bibir laki laki itu mendaratkan cumbuannya di lehernya, bukan nya menolak Valarie malah meremas lengan Zac dengan kuat.
Zac semakin memanggut leher jenjang wanita itu, menekan tubuhnya ke arah wanita itu, Valarie hanya bisa meremas lengan nya ketika sentuhan pada leher nya semakin membuat desiran lain pada tubuh nya. Val melenguh ketika sebuah sentuhan tekanan mengenai miliknya dengan tepat. Mata mereka saling berpandangan dengan mata yang berkabut gairah, Zac menggapai bibir nya, meluma* nya dengan lembut, menerobos masuk ke dalam bibir sang wanita, mengajak menari lida* nya di dalam sana.