
Steve kini duduk di tepi ranjang dengan tetap memandangi wanita yang saat ini masih memalingkan muka nya, bukan karena tak ingin melihat Steve tetapi dia tak sanggup menatap mata nya, dia takut apa yang dia pertahankan dari kemarin akan luluh dengan sendirinya.
" Jennifer..." Panggilnya dengan pelan dengan menyentuh tangan nya. " Aku ingin kita bicara?" Jennifer kini menatap laki laki itu dengan tatapan yang tak bisa dia artikan.
" Jika membahas masalah kita, bisakah untuk tidak sekarang, aku masih tak ingin membahasnya. Aku sungguh lelah tenaga ku masih terkuras banyak..." Jenni bukannya tak ingin membahas ini semua tapi dia masih membutuhkan waktu untuk mengembalikan tenaganya dan tak ingin memikirkan hal lain yang berat.
" Baiklah kau istirahat saja dulu..." Steve kini mengalah untuk tidak membahasnya dia tahu hari ini adalah hari yang paling berat untuk mereka, di tambah wanita itu harus melawan orang orang itu.
" Steve apa ada yang terjadi kepada Monica dan Abhi?"
Steve kini sedikit mengembangkan senyumnya ketika wanita itu ingin bicara dengan nya, dan bertanya tentang ini semua.
" Mereka belum sadar, dokter tak berani memberikan vitamin karena dokter tanpa sengaja melihat bekas suntikan di tangan mereka, dokter mengira itu suntikan karena mereka di paksa atau memakai heroi* untuk bertahan hidup satu minggu ini..." Steve kini menjelaskan kepada Jenni yang bertanya tentang kondisi mereka berdua.
" Mereka tak memakai heroi* Steve, mereka di suntikan obat bius oleh Marco, aku sendiri yang melihatnya, selama satu minggu ini mereka sengaja di buat tak sadar karena mereka memiliki rencana."
" Kau yakin itu obat bius bukan narkoba?" Steve kini mencoba menyakinkan wanita yang juga berada di sana.
" Aku yakin, aku sendiri yang membuang semua obat bius itu..." Jenni tentu sangat yakin bahwa itu bukan narkoba melainkan obat bius agar kedua orang itu tak sadar dari pingsan nya.
" Tunggu sebentar..." Steve segera berlari menuju kearah kamar Abhi dan Monica. Mereka masih belum sadar dan sang dokter masih tak berani memberikan vitamin.
Steve kini yang berlari membuat semua orang yang ada di bawah menatapnya dari bawah dan merasa panik, kini mereka juga lari menuju kearah Steve yang juga berlari dengan kencang.
__ADS_1
Andre yang melihatnya juga berlari begitu kencang, kecemasan itu sungguh nampak jelas di wajah Andre, badannya gemetar karena pikiran buruk kepada kondisi adik dan adik iparnya saat ini memenuhi otaknya.
" Dokter mereka sungguh tak pakai narkoba, itu bekas suntikan dari obat bius, Jenni yang mengatakan semuanya pada ku..." Steve yang mengatakan itu semua membuat sang dokter segera berlari mengambil vitamin yang akan di masukin ke tubuhnya agar kedua orang itu segera sadar.
Steve kini nafasnya tersengal dia yang berlari kencang tadi membuat keringat bercucuran dari keningnya. Sedangkan Andre yang tiba tiba masuk ke dalam kamar itu mengejutkan Steve yang ada di sana.
" Steve ada apa?, dokter menyuntikan apa?" Andre kini suaranya panik dia sungguh takut jika terjadi apa apa dengan kedua orang itu.
" Mereka baik baik saja, tadi Jenni mengatakan bahwa mereka di suntikan obat bius bukan narkoba, jadi dokter memberikan vitamin ke tubuh mereka..." Andre yang mendengarkan kini merasa lega, dia lega karena vitamin akhirnya bisa masuk ke dalam tubuh mereka berdua.
Sang dokter kini tinggal menunggu hasil dari vitamin yang masuk ke dalam tubuh mereka, akhirnya mereka lega karena mereka kini hanya menunggu kedua orang itu sadar dari pingsannya.
" Berapa lama mereka akan sadar?" Kini Zac mendekat kearah sang dokter yang selesai menyuntikan vitamin.
" Aku gak bisa memastikan bos, karena obat bius itu mungkin saja masih ada efeknya. Kita tunggu saja sampai besok..." Semua orang akhirnya memilih untuk melanjutkan aktifitas mereka kembali.
" Lu mau kemana?"
" Aku mau cari udara segar..." Steve mengangguk pelan membiarkan teman nya untuk menghirup udara segar di luar sana.
Andre kini segera mengendari sepeda motornya dia mengendari dengan kecepatan sedang. Rasa bahagia nya ini membuat raut wajah dingin nya kini menjadi wajah yang sangat tampan. Senyumnya dari tadi seakan tak luntur menghiasi bibir laki laki bertato itu.
__ADS_1
Citttttt!!!! Sepeda yang di kendari oleh Andre kini secara mendadak harus dia hentikan dengan cepat ketika ada seorang yang tiba tiba berlari dan hampir di tabrak oleh sepeda besar oleh Andre. Orang itu berjongkok dengan menutup kedua telinga nya dan memejamkan matanya, dia pasrah jika saat ini dia di tabrak oleh sepeda motor.
" Itu dia..." Teriakan dari orang yang juga dari arah jauh membuat orang itu segera menatapnya ke arah orang yang berlari ke arahnya.
Orang itu segera berdiri dan menatap kearah Andre yang juga menatapnya dengan tajam.
" Kenapa kau tak menabrak aku saja om, harusnya kau tadi menabrak ku, karena kau tak menabrak ku kau harus menolong ku..." Andre di buat bingung dengan apa yang di lontarkan oleh wanita yang ada di sampingnya.
" Ayo ikut kami, kau menyusahkan saja. Dasar gadis tak tahu di untung..." Kedua laki laki itu menyeret wanita itu yang berdiri di samping Andre.
" Tidak mau lepaskan aku..." Berontaknya dengan tak mau ikut. " Om tolong aku..." Teriaknya dengan menatap kearah Andre.
Tatapan mata dari wanita itu sungguh membuat Andre merasakan ada sesuatu. Tatapan mata itu sungguh penuh permohonan untuk di tolong. Andre kini turun dari sepeda motornya melepaskan helm nya dan melemparkan helm itu kearah punggung laki laki yang menyeret paksa wanita itu.
Orang itu kini merasakan punggungnya sakit karena lemparan helm itu yang secara keras mengenai punggungnya.
" Lepaskan wanita itu..." Katanya dengan dingin.
" Jangan sok jadi pahlawan..." Jawabnya orang itu dengan juga menatap Andre dengan dingin.
" Bukan sok pahlawan tapi aku tak suka dengan laki laki yang kasar kepada wanita, jika kau ada masalah dengan wanita itu, kau bisa mengajaknya baik baik bung, tanpa harus menyeret nya secara paksa."
" Mereka ingin menangkap ku karena ingin menjual ku ke pria tua om..." Wanita itu berteriak agar Andre bisa mendengarnya.
__ADS_1
Andre yang mendengarnya kini merasa geram bagaimana bisa ada orang yang ingin menjual seorang gadis remaja kepada laki laki tua. Meskipun bos nya juga memiliki perdagangan wanita tapi tak ada yang terpaksa para wanita itu sengaja menyodorkan diri mereka.
" Jadi kalian ingin menjual nya?" Andre kini tersenyum sinis kearah kedua orang itu. " Maju, jika kalian menang melawan aku, kalian bisa membawa gadis itu tapi jika tidak kalian jangan ganggu nya?" Tawaran itu membuat kedua orang itu menerima nya dengan tangan terbuka.