
" *Tak akan terjadi apapun, aku akan melindungi kalian. Aku juga akan memberikan pengawalan untuk istri mu juga..." Adelio mungkin saat ini bisa bernafas lega karena ada seseorang yang bisa membantu nya saat ini. Dan dia yakin bahwa Jonathan pasti bisa melindungi keluarga nya itu.
" Jo jika terjadi apa apa dengan ku, tolong jaga keluarga ku, jangan usik hidup anak ku yang menjadi police. Aku tak ingin Abhi menangkap orang orang mu. Aku tak ingin Abhi menjadi musuh mu."
" Lio Abhi juga anak ku, aku tak akan menganggu nya, tapi kau jangan berkata seperti itu, tak akan terjadi apapun kepada kalian, aku janji itu..." Kedua laki laki itu akhirnya mengakhiri obrolan itu.
Pembicaraan itu yang bersifat rahasia tak ada yang mengetahui nya hanya Adelio dan Jonathan yang mengetahui nya. Jonathan kini mulai mengatur keamanan dari sahabat nya itu. Lima pengawal yang tak lepas dari nya, kemana pun dia pergi kedua pengawal itu selalu ada si sampingnya serta yang ketiga pengawal kini menjadi bayangan dari jarak jauh yang memantau dari kejauhan.
Dua hari tak ada pergerakan dari musuh nya, tapi di hari ketiga ada sebuah sepeda motor yang sengaja berhenti di galery nya dengan menabrak pintu depan nya dengan keras dan sang pengandara itu menerobos masuk dengan membuat kerusakan di sana.
Bruak!!! Tabrakan yang keras dari sepeda motor itu merusak pintu depan galery milik dari Adelio Phelix. Suara knalpot yang sengaja di setel di sana dengan keras semakin membuat semua pegawai yang ada di galery itu ketakutan bukan main, karena ini untuk pertama kalinya mereka di serang seperti ini.
Blush !! Lemparan pisau yang di layangkan oleh pengawal bayangan itu mengenai punggung laki laki yang sengaja memainkan gas sepeda nya itu. Laki laki itu jatuh tersungkur di lantai dengan segera. Kedua pengawal itu menghampiri laki laki itu, membuka dengan cepat helm yang dia kenakan. Seorang anak muda yang mungkin seumuran dengan Abhi saat itu.
" Siapa yang menyuruh mu?" Pengawal itu mencekik leher laki laki yang terbaring di tanah itu.
" Hahahaha, kau pengecut, kau berani membawa pengawal mu untuk melawan ku..." Suara yang terbata bata karena cekikan tangan dari pengawal yang sudah berjongkok di depan nya.
" Bos mu yang pengecut karena mengirim sampah seperti mu..." Desis nya dengan keras.
Ketiga pengawal bayangan tadi langsung mengangkat tubuh laki laki itu, membawa nya ke dalam mobil dengan segera. Sedangkan Adelio tentu mengikuti di mana para pengawal tadi membawa orang yang terluka itu.
" Di mana ini?"
" Ini markas kita tuan, jangan takut, Tuan Jonathan sudah menunggu kita di sana..." Adelio hanya terdiam ketika mengetahui bahwa markas dari orang orang Jonathan ini.
__ADS_1
" Kau tak apa?" Jonathan langsung bertanya kepada sahabatnya itu ketika dia melihat semua orang orang nya turun dari mobil nya.
" Tak apa Jo, jika tak ada bantuan mu, mungkin aku yang di serang oleh orang itu."
" Sebentar lagi kita akan tahu siapa yang mengirimkan mu ancaman seperti itu..." Kini mereka semua berada di ruang interogasi dengan laki laki yang tertusuk pisau tadi duduk di sana dengan ikatan tali yang melilit ketubuhnya dengan kencang.
Krek!! suara pintu terbuka membuat suasana yang sepi itu menjadi nyaring karena suaranya yang begitu keras.
" Dia tak membuka siapa yang menyuruh nya bos..." Kris yang melihat siapa yang masuk kini langsung menjelaskan semuanya.
" Dia terlalu setia juga rupa nya..." Desis nya dengan berdiri di depan nya.
" Siapa yang menyuruh mu untuk menyerang laki laki di sebelah ku?" Jonathan langsung bertanya dengan nada tinggi nya. Tapi laki laki itu bungkam, seakan ada ribuan pelekat yang menempel di bibirnya hingga dia tak bisa membuka mulutnya itu.
" Katakan siapa yang menyuruh mu..." Bentaknya.
" Kau tak ingin buka suara?, kau lebih memilih mati melindungi bos mu itu..." Tekanan pada pisau itu semakin dalam dan suara teriakan laki laki itu semakin keras di dengar.
" Aku.. hanya di suruh bos aku, dan aku tak tahu siapa yang menyuruh bos ku..." Katanya tertahan.
" Siapa bos mu itu?"
" Lucas Borve..." Katanya dengan gugup, dia terpaksa membuka siapa bos nya karena tusukan itu semakin sakit di kaki nya.
" Sudah ku tebak kau pembunuh bayaran, tapi tak ku sangka bahwa Lucas Borve adalah orang bodoh karena mengirimkan orang untuk membunuh keluarga ku..." Desis nya.
__ADS_1
" Lepaskan ini sakit..." Dia merintih kesakitan bahkan darah sudah merembes keluar membasahi celana nya saat ini.
" Bagaimana aku bisa menemui Lucas Borve itu?"
" Bos tak muda di temui tuan, kecuali dia datang ke markas kita..." Nafas nya memburu karena tusukan itu begitu sakit.
" Kapan dia akan datang di markas mu?"
" Setiap hari minggu, dia akan datang untuk berlatih..." Jonathan melepaskan tangan nya di pisau itu membuat laki laki itu bernafas lega, meskipun masih sakit tapi setidaknya tak sesakit sewaktu di tekan tadi.
" Kris hubungi Andre katakan untuk menemukan Lucas Borve itu..." Kris dengan cepat mengangguk dan mengerjakan apa yang di katakan bos nya itu.
" Kalian lakukan seperti biasa..." Para orang orang itu mengerti apa yang di maksud oleh bos nya itu. " Ayo pergi..." Adelio mengikuti langkah sahabatnya yang keluar dari ruangan itu. Tak berselang lama suara teriakan menyayat hati terdengar begitu nyaring di telinga semua penghuni markas itu.
Tapi hanya lima menit suara itu menghilang dan suara tepuk tangan yang mengantikan suara teriakan itu.
" Jonathan."
" Jangan dengarkan mereka, anggap saja kau tak mendengar apapun..." Jonathan langsung menjawab apa yang ingin di tanyakan oleh teman nya itu.
" Mereka membunuh nya?, jangan di bunuh mereka pasti memiliki keluarga Jo."
" Jika kita tak membunuhnya maka kau yang akan di bunuh mereka. Kau tahu simbol bahwa kau harus berlumuran darah musuh mu, di banding kau yang berlumuran darah mu. Artinya kau harus mau membunuh musuh mu dibanding kau yang di bunuh musuh mu."
" Simbol dari mana itu Jo, aku baru tahu dan baru mendengar nya?"
__ADS_1
" Dunia gelap Lio, dunia gelap. Kau tak akan tahu kejam nya dunia gelap. Mereka rela meminum darah musuh nya dari pada darahnya yang di minum oleh musuh nya, jadi kau harus berani membunuh musuh mu di banding kau yang di bunuh musuh mu, oke..." Adelio hanya mengangguk, perkataan sahabatnya itu membuatnya takut serta ngeri sendiri. Membayangkan menjadi mafia saja dia tak pernah tapi untuk melindungi keluarga nya dia harus lakukan apapun. Seorang suami dan seorang ayah harus menjadi pahlawan bukan untuk keluarga kecil nya, itu yang di pikirkan nya saat ini*.