
Bryan yang sadar orang itu tak memberikan respon atau melawannya dia menghentikan aksinya dengan segera mendorong orang itu ke lantai. Orang itu tak berdaya dia pingsan dan tersungkur di lantai dengan cepat.
Sedangkan William masih menghajar orang itu dengan cepat. Orang itu juga belum mau menyerah meskipun ketiga temannya saat ini sudah terkapar tak berdaya di lantai.
William di berikan tendangan yang keras tepat di ulu hatinya yang membuat William mundur terbentur dinding di belakangnya. William kesakitan dengan menyentuh perutnya.
William yang tak bisa melawan lagi melirik sebuah Vas bunga yang ada di sana. Orang itu berlari menghampiri William untuk kembali menyerangnya tapi sedetik kemudian dengan cepat William melempar Vas itu dengan segera.
Orang itu tak sanggup menghindar ketika Vas itu dengan cepat mengenai kepalanya dengan keras. Rasa pusing itu kini langsung berada di kepalanya dan membuat orang itu langsung ambruk ke lantai dengan darah segar di kepalanya.
Bryan yang tadi terduduk di lantai menyentuh hidungnya yang sakit kini mengatur nafasnya yang memburu, William juga langsung terduduk lemas di lantai dengan menyentuh perutnya yang sakit karena tendangan tepat di ulu hatinya yang terasa sakit.
Nafas mereka memburu pertarungan yang tak seimbang untuk kedua pemuda itu. Dua orang musuh empat orang bukanlah hal yang tak mudah di kalahkan. William dan Bryan saling bertatapan dengan wajah yang meringis kesakitan.
Bryan segera bangun dari duduknya dia menghampiri William yang juga masih duduk dengan keringat yang bercucuran.
" Kau tak apa?" Bryan berjongkok di depan sepupunya itu.
" Aku tak apa! kau juga tak apa?" Bryan hanya mengangguk pelan. " Aku yakin kita di jebak Bri."
" Hem! semuanya menjadi teka teki Will. Kedua Daddy kita menyuruh kita menemui mereka di tempat ini! lalu Paman Abhi yang menjemput kita membawa kita ke tempat yang kita tidak tau. Sekarang secara tiba tiba ada yang menyerang kita seperti ini."
" Kau benar ini adalah teka teki yang tak bisa kita tebak dengan muda. Apa kedua Daddy kita sedang di ancam seorang yang ada di sini?"
__ADS_1
" Entahlah Will aku tak tau! apa kita perlu menghubungi Mommy dan mengatakan tentang ini semua."
" Jangan!" Tolaknya dengan cepat.
" Jika kita tak menghubungi Mommy kita tak tahu siapa musuh kita saat ini. Kita saat ini bisa melawan keempat orang itu, tapi kita tak tau apa yang sedang menunggu kita di depan sana Will."
William berpikir apa yang di katakan oleh sepupunya itu benar adanya. Saat ini mereka bisa bertahan tapi dia tak tahu seperti apa kekuatan mereka saat ini yang sudah menunggu di depan sana.
" Aku tak ingin mati konyol di sini Will. Jika kita tak segera mendapatkan bantuan maka tak akan ada yang tau jika kita mati di sini."
" Kau benar. Tempat ini jauh dari kota, tak ada yang tau jika kita berada di sini. Dan juga tak ada yang tau bahaya apa yang menunggu kita dan para Daddy kita. Baiklah hubungi Mommy mu dan ceritakan semuanya."
Keputusan yang tepat batin mereka berdua. Bryan segera ingin menghubungi Mommy nya dan akan mengatakan semuanya dengan segera, tapi.
Ceklek!! sebelum Bryan berhasil mengambil ponselnya dari sakunya ada sebuah suara pintu yang terbuka dengan pelan. Kedua mata mereka segera menoleh ke arah orang yang berjalan pelan keluar dari sana.
Bryan membantu William yang bangun dari duduknya tadi. Mata mereka melotot sempurna ketika melihat orang itu keluar. Orang yang menutupi wajahnya dengan topeng, menyembunyikan wajahnya di balik topeng.
" Siapa kalian semua, kenapa kalian tiba tiba menyerang kami? padahal kami di bawah Paman Abhi..." Teriak nya dengan kencang.
Orang itu tak menjawabnya melainkan hanya gerakan tangannya yang untuk maju melawannya. Kedua pemuda itu hanya saling bertatapan tanpa memberikan respon apapun. Sedangkan orang itu kini malah dengan segera berlari melawan mereka.
Orang itu ingin menendang mereka tapi mereka dengan cepat segera menghindar hingga hanya dinding yang mengenai kakinya itu. Bryan malah menendang punggung orang itu hingga tubuhnya juga terbentur dinding.
__ADS_1
Orang itu dengan cepat berbalik arah, William yang ingin membalasnya dengan tendangan kini malah menjadi petaka untuk dirinya, orang itu mencekal kakinya, memberikan siku untuk dihantamkan ke kaki nya untuk berulang kali.
Teriakan kesakitan dari William begitu terdengar keras, Bryan menghantamkan kepala orang itu ke dinding berulang kali hingga membuat orang itu melepaskannya kaki William.
William merasakan kesakitan yang begitu sangat, dia merintih tapi dia masih bisa menahannya ketika melihat sepupunya di serang bertubi tubi oleh orang itu. William dan Bryan kini membalas serangan demi serangan, menendang apapun yang bisa di tendang oleh mereka.
Lemparan Vas itu dapat di hindari oleh orang itu dengan cepat. Bug!! Orang itu memukul Bryan dengan cepat, mengenai pipi nya dari samping hingga membuat Bryan tersungkur di lantai dengan cepat.
Bryan kini sadar darah itu keluar dari mulutnya dengan cepat. Bryan tersungkur dengan rasa sakit yang teramat sangat. Orang itu kini kembali menyerang William memojokan William ke tembok menghajarnya dengan memberikan pada perutnya berulang kali.
Bryan yang melihat sepupunya di hajar berulang kali kini berdiri dengan segera berlari menghampirinya. Bryan memengang tangan orang itu dengan kuat membawanya mundur dengan segera.
William yang melihatnya dengan segera menghajar orang itu dengan memukul nya dengan menyerang perut orang itu dengan keras. Orang itu meringkuk ketika pukulan demi pukulan telah di bersarang di perutnya.
Orang itu secara tiba tiba melompat pelan meluruskan kedua kakinya ke arah depan dan menendang perut William dengan kasar. William mundur dengan keras ketika punggungnya terbentur dinding dan langsung meringsut duduk di lantai.
Orang itu kini menunduk dengan cepat punggungnya seakan di angkat dengan cepat membuat Bryan terangkat ke depan dengan cepat melemparkan Bryan ke depan dengan membantingnya dengan keras.
Bryan merasakan begitu sakit pada punggungnya dia hanya bisa berguling di lantai dengan merasakan sakit pada punggungnya yang terasa panas. Sedangkan William juga merasakan sakit pada punggungnya yang juga amat sangat sakit.
Orang itu yang menutupi wajahnya dengan topeng kini segera membuka topeng itu ketika melihat kedua anak pemuda itu terkapar dengan rasa sakit pada punggung nya.
Kedua pemuda itu dengan rasa terkejutnya melihat siapa orang yang berdiri di depan nya dengan melepaskan topeng dengan tersenyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
William dan Bryan saling bertatapan dengan rasa terkejut. Mereka tak menyangka siapa yang sedang membuat mereka terkapar lemas dengan rasa sakit.