
Gebrakan pada meja itu membuat minuman dan makanan di sana juga ikut bergetar. Jenni tak terkejut sama sekali dengan apa yang di lakukan oleh laki laki itu. Bahkan Jenni hanya tersenyum tipis di bibirnya dia tak mengatakan apapun kecuali hanya tersenyum mengejek ke arah laki laki yang menatapnya dengan tajam.
" Kau masih berpihak pada nya meskipun kau sudah di buang oleh mereka?" Kini nada baik yang di lontarkan oleh Marco tadi tak ada hanya suara yang tinggi di nada bicara nya itu.
" Aku tak di buang oleh mereka tapi aku sendiri yang ingin tetap berada di CIA. Jika saja aku ingin menetap di sana pun mereka masih ingin memberi ku jabatan sesuai dengan yang aku mau. Mereka menghormati keputusan ku untuk tetap berada di sini jadi kau jangan berkata aku di buang oleh mereka..." Jenni tentu saja mengetakan yang sebenarnya, memang benar Zac menawarkan kedudukan yang tinggi tapi dia tetap ingin bertahan di agen CIA nya.
" Kau berpihak pada nya Jenni, buktinya kau tak ingin mengatakan semua yang dia tanyakan pada mu..." Timpal David dengan memandangi wanita itu dengan tatapan kecewa.
" Harusnya yang kau tangkap itu adalah teman mu itu, kau tau bukan perusahan yang dia ambil itu dari hasil kelicikan nya, dia berbuat semua cara agar dirinya bisa mendapatkan semua yang dia mau, termasuk dengan menghancurkan nya..." Jenni menghentikan ucapan nya itu.
" Dan kau Marco harus nya kau malu karena kau sudah mendapatkan perusahan itu dengan cara licik tapi sekarang kau ingin Mendapatkan seorang investor serta orang orang yang ingin bekerja sama dengan cara licik, harusnya kau tunjukan kau bisa melakukan semua nya dengan cara mu..." Kini Marco tak bisa menjawab nya. " Tapi jika keahlian mu adalah merebut semua nya dengan cara licik aku juga tak tau, hanya itu yang kau bisa..." Sambungnya lagi dengan menatap jijik kearah laki laki yang menatap kearah nya dengan tatapan tajam nya itu.
" Hentikan omong kosong mu itu..." Kini Marco menunjuk kearah Jenni yang tetap tenang dengan memberikan senyuman tipis itu.
" Katakan apa yang kami tanyakan tadi Jenni, kau harus berada di pihak kami, kamu adalah Agen kami..." Kini timpal David dengan menggebu-gebu.
" Sudah ku katakan bahwa aku akan melawan nya jika aku memakai seragam CIA ku, tapi jika aku melepaskan nya maka aku akan menutupi semua nya. Aku di sini hanya ingin memberi tau mu bahwa aku tak ingin mendengar tawaran tawaran bodoh dari kalian. Keputusan ku tetap menolak bekerja sama menghancurkan mereka..." Jenni kini menekan kata nya, dia berdiri meninggalkan ruangan privat itu. Meninggalkan kedua orang laki laki yang sedang menahan marah pada nya.
David kini juga berdiri mengejar anak buahnya itu, David juga meninggalkan Marco yang wajah nya memerah karena hinaan yang di lontarkan wanita itu dengan beraninya. Semua harapan yang tadi kini seakan hilang lenyap seketika, wanita itu dengan berani nya menentang semua yang dia katakan bahwa dirinya akan menutupi semua nya.
__ADS_1
" Arghhhh..." Teriaknya dengan membanting semua yang ada di meja besar itu. Dada nya naik turun karena menahan amarah yang tak bisa dia lontarkan.
Sedangkan David kini mengejar Jenni yang berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan itu. David kini mengikuti langkah Jenni dengan cepat dengan sesekali memanggil nya berulang kali bahkan Jenni tak peduli dengan panggilan keras yang dari arah belakang.
" Jenni tunggu.. Jenni kita harus bicara.. Jenni..." Teriakan dari David tak membuat langkah wanita itu terhenti.
Tapi Jenni kini malah terhenti ketika matanya berpapasan dengan mata seseorang yang dia kenal. Jantung itu berdetak, tubuh nya kaku seketika, kedua kaki nya tak bisa melangkah, matanya hampir melotot melihat seseorang yang berdiri di sana, tepatnya di depan nya yang hanya berjarak berapa Cm dari dirinya.
" Jenni tunggu-" David juga terkejut melihat siapa yang berdiri dia temui. Tapi David kembali tenang meskipun sebenarnya dia takut bahwa Marco menyusul nya.
" Tuan Steve, anda di sini juga. Dunia memang sangat sempit. Tadi pagi kita bertemu di perusahan dan sekarang malam nya kita bertemu di sini..." David kini menyapa nya dengan pura pura tersenyum bahkan dia merangkul pundak Jenni yang tiba tiba membuat Jenni menghempaskan secara paksa.
" Dunia memang sempit Tuan David..." Jawabnya dengan tenang. Bahkan Steve tak memandang wajah wanita itu yang dari tadi menatap nya. Semua kata kata dari wanita tadi pagi masih melekat di hati dan pikiran nya, dia berusaha membuangnya maka dia juga harus membuang nya.
" Iya dinner, dan dia sedikit marah karena salah paham, biasa cemburu..." Ucapnya dengan pelan meskipun pelan semua orang bisa mendengarnya.
" David..." Bentaknya.
" Tak apa, mantan kekasih mu ini harus tau bahwa kau sudah melupakan nya..." David kini yakin bahwa kedua orang itu kini tengah mati matian untuk menahan rasa sakit hati nya.
__ADS_1
" Selamat, dan aku akan menunggu undangannya..." Steve yang berucap tenang membuat hati Jenni di remas dengan kencang, tubuhnya terasa berat seperti ada batu besar menimpah nya ketika mendengar ucapan laki laki itu.
" Tentu kami akan mengundang mu, benarkan sayang?" David memang sengaja mencari masalah di sana karena David dan Steve dari dulu saling mengenal nya sewaktu jaman kuliah dan David selalu ingin menyaingi Steve, dan sampai sekarang pun hal itu terjadi.
" Kau datang sendiri, atau sama siapa?" Tanyanya lagi, bahkan Jenni tak membuka suaranya sama sekali, hati nya masih terkejut bahwa laki laki itu kini bersikap santai menghadapi nya.
" Steve dari tadi kau belum kembali dari toilet..." Seorang wanita cantik yang bertato itu menghampiri nya ketika melihat teman nya hanya berdiri di sana.
Kedua wanita itu bertatapan dan Jenni sempat mengingat siapa wanita yang berdiri di sampai Steve dengan menyentuh lengan nya itu.
" Kau.. kau yang menghajar ku dulu?" Jenni kini membuka suaranya dengan nada terkejutnya bahkan matanya menatap Steve seperti meminta penjelasan kenapa mereka saling mengenal nya.
" Kau mengenal nya Steve?" Suhu cantik itu kini malah semakin menyisipkan tangan nya di lengan kekar laki laki itu dan itu berhasil membuat Jenni tak bisa bernafas, rasa sesak itu memenuhi dada nya.
" Tidak sayang, aku hanya mengenal kekasihnya itu, dia David teman aku sewaktu masih kuliah..." Steve segera paham apa yang ingin di lakukan oleh teman nya itu. Mereka berpura pura menjadi sepasang kekasih yang sedang makan malam di sana.
" Ah.. aku Andin kekasih Steve, senang berkenalan dengan anda..." Suhu itu tentu saja tak menyebutkan nama nya. " Sayang ayo kita pergi seperti nya pihak hotel sudah menunggu kita, aku ingin segera menghabiskan malam bersama mu..." Monica merasa malu dengan apa yang dia katakan.
" Tentu sayang, aku sudah merindukan mu..." Steve kini sedikit mencium puncak kepala Monica yang sudah dia anggap sebagai adik nya itu. " Maaf Vid kita harus pergi, dia baru datang dari tugas nya jadi kami ingin melepaskan rindu..." Sambungnya lagi.
__ADS_1
" Kami permisi..." Steve dan Monica kini segera membalikan tubuhnya meninggalkan wanita itu yang kini hampir limbung ke belakang, kaki nya terasa lemas seketika.
Aku bisa, aku pasti bisa. Batin Steve ketika melangkah meninggalkan wanita itu tanpa melihat kearahnya sama sekali.