Wanita Nakal

Wanita Nakal
Season4_ Ex Husband Is Broken_ Siapa Laki Laki Ini 6


__ADS_3

Mata mereka kini seakan hampir terlepas dari wajah tampan yang saat ini sudah babak belur. Matanya melotot dengan sempurna, jantung mereka seakan hampir lompat dari tubuh kedua laki laki itu. Wajah mereka merah menjadikan emosi mereka setinggi mungkin.


William yang mungkin tak terlalu sakit pada punggungnya kini menghampiri orang itu dengan darah yang mendidih.


" Apa yang kau lakukan ha?" Bentaknya tapi orang itu tak takut malah dia hanya tersenyum dengan senyum tipis di bibirnya.


" Sebaiknya kau bantu sepupu mu itu berdiri! dari pada bertanya kepada ku!" Ujarnya dengan sinis.


William menahan emosinya dia melihat orang itu dengan tatapan amarah yang sudah tak bisa di tahan lagi. William mundur dengan beberapa langkah dengan tetap menatap orang itu.


William menoleh ke arah sepupunya yang tadi berjuang melawan semua orang yang ada di sana. William membantu Bryan untuk berdiri. Bryan dengan susah payah berdiri dia menahan rasa sakit pada punggung nya yang di banting ke lantai yang keras.


" Kau tak apa?" Tanyanya dengan sungguh sungguh.


" Aku tak apa! hanya punggung ku terasa remuk!" Jawabnya dengan merintih.


William mengelus punggung sepupunya yang di pegang oleh Bryan, dia yang terdorong ke dinding saja rasa sakitnya sangat teramat terasa. Apalagi Bryan yang terang terangan di banting dengan keras oleh orang bertopeng tersebut.


William dan Bryan saat ini menatap orang itu yang malah bersandar di dinding, menyatuhkan kedua tangan nya di dada, menatap mereka dengan tatapan datarnya.


" Apa kalian sudah berlagak seperti banci di sini?" Ujarnya dengan sinis.


" Banci?" Bryan mengulanginya dengan cepat.


" Hmm banci! apa kalian tak sadar kalian seperti banci saat ini?, atau perlu kita mencoba nya dengan pertaruhkan lagi?" Tantangnya.

__ADS_1


" Jika kami banci kami tak akan mengalahkan keempat orang yang terkapar di lantai saat ini..." William yang saat ini emosi tak bisa menahan dirinya.


Orang itu tertawa dengan keras dia tak menyangka laki laki muda yang selalu bersikap lembut kini untuk pertama kalinya bersikap sinis kepadanya. Bahkan tatapan permusuhan saat ini telah di layangkan terang terangan oleh nya.


" Tapi kalian berdua melawan ku saja kalah. Lihatlah aku tak cedera sama sekali, tapi kalian malah kesakitan..." Ejeknya dengan tersenyum tipis di bibirnya.


" Jangan basa basi dengan kita, di mana Daddy kami?, kau menjebak kami atau kalian memang berkhianat di belakang kami?, jelaskan kepada kami!" Bryan tak bisa menahan rasa penasarannya saat ini dia tak bisa untuk tak menanyakan tentang semua teka teki saat ini.


" Daddy? kalian mencari Daddy kalian?" Ulangnya lagi. " Tapi di sini tak ada Daddy kalian, dan saya juga tak mengenal Daddy kalian berdua!" Apa yang dikatakan oleh orang itu nampaknya memancing amarah dari kedua laki laki itu.


" Brengse*..." Umpatnya dengan kesal.


Bryan kini kembali menyerang orang itu dengan memberikan tendangan tapi orang itu dengan cepat menghindar hingga tendangan itu mengenai dinding tadi. Bryan sebenarnya masih merasakan punggungnya tapi dia tak peduli kali ini.


Bug!! orang itu kini kembali menyerang Bryan dengan memberikan bogem mentah kepada wajahnya, Bryan yang tak mau kalah kini juga kembali memberikan bogem mentah tapi tangan nya terhenti tepat di wajah orang itu.


" Sudah Bri cukup..." Cegahnya dengan menahan tubuh Bryan.


Tapi Bryan bukanlah orang yang muda menyerah dia yang sudah di bawah emosi nya dia tak mendengar apa yang dikatakan oleh sepupunya dia memberontak cukup kuat hingga William sendiri kewalahan untuk menahan nya.


Brayan berlari maju dia ingin melawannya kembali, kembali menyerangnya tapi lagi lagi orang itu masih bisa lolos dari tangan Bryan, hanya angin yang terkena pukulan mentah oleh Bryan. Orang itu terlalu pandai membaca setiap gerakan Bryan dari tadi.


Bryan kini menyentuh bajunya mendorong orang itu hingga punggungnya yang terbentur, tangan nya terangkat dengan genggaman yang kuat. Bryan kini sudah melayangkan genggaman yang erat.


Bug!! orang itu memejamkan matanya tapi dia tak merasakan apapun hingga orang itu kembali membuka matanya dengan segera. Mata mereka bertatapan dengan mata Bryan yang merah karena amarah nya. Jantungnya berdegup kencang tak karuan dia merasakan sakit pada tangannya ketika tangan itu malah dipukulkan ke dinding yang ada di sebelah nya.

__ADS_1


Mata merah, dadanya bergemuruh tak karuan, emosinya benar benar memuncak tapi dia tak bisa memukul orang yang dari kecil sudah bersama mereka. Orang itu semakin marah kepada Bryan ketika Bryan tak menghajarnya ketika ada kesempatan.


Orang itu mendorong tubuh Bryan dengan keras dan lagi lagi William yang menangkap tubuh sepupunya dengan cepat. William tau sepupunya tak akan muda menahan emosinya.


" Dimana Daddy kami!" Bentaknya dengan keras.


" Beri tau kami di mana Daddy atau-"


" Atau?"


" Atau kami akan menghubungi Mommy dan mengatakan semua ini."


Orang itu menjadi panik ketika ancaman yang di layangkan oleh Bryan, jika Bryan berhasil menghubungi Mommy dapat di pastikan kedua wanita itu akan menjadi murka kepada mereka semua.


" Kau takut?" Bryan dapat membaca mimik wajah dari orang yang ada di depannya yang tiba tiba langsung terdiam ketika mendengarkan ancaman yang di berikan oleh dirinya.


Bryan terlalu pandai membaca mimik wajah dari orang yang berhadapan dengan dirinya. Bryan tersenyum tipis tapi orang tak akan sadar jika Bryan tengah tersenyum. Kali ini Bryan tau kelemahan orang yang ada di depan nya saat ini.


" Ternyata kau takut dengan Mommy?, jika kau tetap tak ingin memberi tau kami maka jangan salahkan kami jika kami menghubungi Mommy!" William kini juga menimpalinya dengan ancaman. " Kau pasti tau seperti apa kemarahan Mommy Jovanka jika ada yang ingin mempermainkan keluarga nya apalagi kalian telah berkhianat di belakang kami."


Orang itu kembali menelan ludahnya dengan kasar dia pasti akan terkena amukan singa betina yang akan mengamuk dan akan memakan hidup mereka ketika tau kedua pangerannya telah di hajar habis habisan oleh dirinya. Dapat di pastikan kemarahan kedua wanita itu tak akan bisa di tahan oleh siapapun, meskipun suaminya.


Tak ada jalan lain selain dia mengakui semuanya dan membongkar ini, jika terlambat maka dapat di pastikan akan ada pertengkaran hebat di dalam markas ini.


" Kami di sini Son..." Bariton dari laki laki yang di kenal kini terdengar dari arah belakang mereka. Kedua laki laki itu langsung menoleh kebelakang dengan rasa yang benar benar terkejut.

__ADS_1


" Dad..." Panggil kedua laki laki itu dengan bersamaan yang hampir lari ke arah mereka yang sudah berdiri di sana.


__ADS_2