Wanita Nakal

Wanita Nakal
Wanita Nakal Season2_ Happy Ending


__ADS_3

Pelangi itu kini datang menerpa rumah tangga kami, dada ku penuh sesak kebahagian yang tak bisa aku lontarkan dengan kata kata.


Pov Alexander



Hari ini istri ku tak bisa jauh dari ku, tentu aku sangat senang karena dia selalu bersikap manja akhir akhir ini, tapi sifat nya yang berubah dia seperti anak kecil yang selalu marah ketika aku menolak permintaan nya, bahkan pagi ini dia marah karena aku hanya bertanya hal yang membuat nya berfikir bahwa aku memiliki wanita lain, apa yang ada di otak nya kali ini aku tak bisa katakan. Bagaimana mungkin aku memiliki wanita lain sedangkan dia mempunyai segala nya yang bisa membuat aku tergila gila dengan nya, bahkan jangan di tanya jika urusan ranjang nya, dia wanita yang sangat nakal jika di atas ranjang.


" Sayang kamu tidak makan, ini sudah siang?" Kami saat ini sedang berada di ruangan kerja ku, aku pagi tadi membatalkan semua urusan kantor yang berada di luar, karena istri ku yang manja ini tiba tiba ingin ikut datang ke sini.


" Tidak..." Tolak nya tanpa menatap ke arah ku, dia selalu duduk tenang ketika sebuah pensil di tangan nya, dia akan anteng di sana ketika ada sebuah kertas yang di depan nya.


" Mau minum atau apa?" Aku menawarkan apa saja agar dia tak mengira aku tak peduli dengan nya, terkadang hal hal kecil sekarang menjadi besar untuk dirinya.


" Tidak hubby, aku tidak lapar dan minuman ku juga masih ada..." Dia menjawab ku tanpa menoleh ke arah ku, dia selalu mengabaikan aku jika tangan nya mengukir sesuatu di kertas.


Aku berdiri, membuat kopi dengan sendiri, melangkah menuju istri ku dengan membawa secangkir kopi di tangan ku, aku duduk di sebelah nya menatap mata nya yang serius dengan kertas nya.


" Kamu minum apa itu?, kenapa bau nya seperti ini..." Dia menjauh dengan menutupi hidung nya, padahal ini kopi yang dia belikan untuk ku. Aku menunjukan kopi yang aku bawah.


" Buang jauh jauh, bau nya buat aku mual..." Ini pertama kali nya aku melihat dia membenci aroma kopi yang aku bawah.


" Sayang ini kopi yang biasa nya kamu belikan..." Aku menunjukan kopi yang aku bawah, dan tanpa ku sangka dia malah lari masuk ke dalam kamar dan memuntahkan semua isi perut nya.


Aku ikut menyusul ke arah nya, memijat tengkuk nya dengan pelan.


" Hoek.. hoek..." Rasa bersalah hinggap di hati ku, andai tadi aku membuat kopi mungkin ini tak akan terjadi, andai aku tak menunjukan padanya pun dia tak akan muntah seperti ini.


" Sayang kamu tak apa?" Aku membersihkan mulut nya dengan tisu setelah dia selesai memuntahkan seluruh isi perut nya.


" Hubby, buang kopi mu itu, aroma nya sangat menyengat hidung ku..." Aku dengan cepat memberikan kopi itu kepada asisten ku yang berada di luar ruangan ku.


Bruk !! aku tambah terkejut dan panik ketika melihat istri ku tergeletak di lantai dengan tak sadarkan diri. Aku mengendong istri ku dengan sedikit berlari membawa nya masuk ke dalam mobil membawa nya ke rumah sakit. Semua mata para staf ku tertuju pada kami tapi aku tak peduli.


" Dokter tolong istri saya pingsan..." Aku berteriak panik di sana.


" Tolong tidurkan di sini Tuan, dan silahkan anda keluar, biar saya yang memeriksa nya..." Sang dokter itu langsung memeriksa nya ketika aku dengan segera keluar dari ruangan tersebut.


Aku panik dan bercampur takut karena ini pertama nya selama aku menikah dengan nya dia pingsan, apa dia sakit?, apa rasa duka nya kembali menyelimuti hati nya?, pikiran ku berkecamuk menjadi satu. Kenapa aku tak tahu, apa yang terjadi sebenarnya pada istri ku, ya Tuhan apa lagi ini.


Aku mondar mandir di depan ruangan tersebut, aku tambah panik ketika sang dokter masih saja belum keluar dari ruangan nya.

__ADS_1


" Dokter bagaimana keadaan istri saya?, dia sakit apa dok?, tolong selamatkan istri saya dokter..." Aku segera mengatakan apa saja yang ada di otak ku, pikiran ku berkecamuk tak jelas.


Sang dokter hanya tersenyum menanggapi kekhawatiran yang aku rasakan, dia tak tahu saja bagaimana rumah tangga ku ini.


" Istri anda tak apa tuan, ini biasa terjadi pada awal awal kehamilan. Saya sudah buat janji temu dengan dokter yang lebih memahami nya..." Aku masih mencerna apa yang di katakan dokter wanita ini, Hamil adalah kata kata yang mampu membuat ku terpaku di tempat.


" Hamil?, maksud dokter istri saya hamil?" Aku mencoba menyakinkan hati dan telinga ku, aku tak ingin aku kecewa karena hanya salah mendengar nya. Aku tak percaya kata kata ini bisa membuat aku tergagap.


" Istri anda hamil tuan, selamat..." Tanpa sadar mata ku berkaca kaca, aku menanggis di sana, menanggis bahagia karena apa yang kami nantikan kini terjadi. Istri ku hamil lagi setelah dua tahun kami kehilangan anak pertama kami.


" Dokter terima kasih..." Tangisan kebahagian kini tak bisa aku bendung lagi, aku menanggis di depan dokter yang tersenyum menatap ku, sang dokter biasa melihat seperti ini.


Aku segera masuk ke dalam ketika sang dokter tadi pergi, aku menatap istri ku dari jauh dia masih terpejam berbaring di sana. Aku menyadari bahwa mata ayu nya mulai terbuka dengan perlahan, aku mendekat ketika seorang suster membantu nya untuk duduk.


" Hubby..." Suaranya yang memanggil ku dengan manja, membuat aku segera memeluk nya dengan erat, memeluknya penuh haru, memeluknya dengan bahagia.


" Hubby kenapa menanggis?, ada apa?, apa aku sakit serius hingga kamu menanggis seperti ini..." Aku hanya mampu menggeleng ketika pelukan itu terlepas, aku tak bisa mengatakan apapun, aku menatapnya dengan mata yang berbinar kebahagian.


" Sayang terima kasih, terima kasih..." Hanya itu yang mampu aku ucapkan, dia menatap ku dengan tatapan bingung, aku tahu dia juga bingung kenapa aku menangis tapi aku berucap terima kasih.


" Sayang kau hamil... hamil anak kita.. kita akan memiliki anak lagi.. kau hamil honey.. terima kasih..." Aku berkata dengan air mata yang tergelincir dari mata ku, kabar ini akan membuat istri ku bahagia, aku yakin.


" Kau.. mengatakan apa hubby.. aku kenapa?" Dia tak percaya, aku yakin. Suara nya bergetar ketika menanyakan apa yang aku katakan.


" Aku tak akan kemana mana honey, aku akan diam di rumah, dan patuh pada mu, aku akan menjaga nya kali ini, aku tak ingin kehilangannya lagi..." Aku bahagia karena dia lebih memikirkan kandungan nya di banding memikirkan hal lain, kami akan menjaga nya, menjaga nya agar tak pergi dari hidup kami lagi.


" Tentu sayang, kita akan menjaga nya sama sama..." Kami berpelukan dengan rasa bahagia serta rasa haru. Tuhan terima kasih karena sudah mempercayai kami lagi, kami tak akan membuat nya pergi dari kami, kami akan menjaga nya dengan nyawa kami.


Kabar bahagia itu cepat tersebar ke dua orang tua kami, mereka kini sepakat untuk menjaga nya bersama, bahkan penjagaan di rumah kami pun di perketat oleh ayah mertua ku, ini sungguh konyol tapi aku tahu alasan nya. Kehilangan cucu nya membuat semua orang trauma, apalagi melihat putri nya yang hampir gila adalah hal yang mengerikan yang tak akan mampu di pandang seorang ayah.


Mereka menjadi heboh sendiri menjaga anak mereka yang sekarang perut nya sudah besar, sembilan sudah masa kehamilan istri ku dan hanya menghitung hari anak kami lahir, hari hari yang mendebarkan saat ini. Selama masa kehamilan nya istri ku tak pernah meminta hal yang sulit aku cari, terkadang hanya susah aku tinggal.


Malam ini seisi rumah menjadi panik karena mendengar rintihan kesakitan Clarissa yang akan melahirkan sosok kecil mungil yang telah di nanti banyak orang.


" Sayang sebentar lagi kita akan tiba..." Aku membiarkan dia meremas tangan ku dengan kencang, kuku nya menancap di kulit ku dam aku tak peduli jika ada darah yang keluar di sana.


" Hubby, sakit.. huft.. huft..." Rintihan nya membuat aku tak tega, apa harus sesakit ini melahirkan, jika sakit nya bisa di tukar aku akan melakukan nya biar aku yang merasakan.


" Sayang tahan sebentar lagi..." Aku hanya bisa memberinya semangat tanpa bisa melakukan apapun.


" Cepat Johan, putri ku sudah kesakitan, kenapa aku lambat sekali..." Ibu nampaknya juga gusar karena melihat menantu nya kesakitan.

__ADS_1


" Ini sudah cepat..." Aku tahu mereka juga panik tapi kami tak bisa melakukan apapun kecuali memberinya semangat dan berada di samping nya.


Kami hanya mondar mandir di depan ruangan bersalin ketika istri ku sudah di tangani oleh para dokter kandungan. Kami menunggu operasi itu selesai, istri ku tak bisa melakukan melahirkan normal, karena dia tak memiliki tenaga, apapun yang di lakukan dokter aku percaya ini untuk kebaikan mereka.


" Kenap dokter lama sekali keluar nya?, mereka apakan saja istri ku di dalam..." Aku panik karena ini sudah hampir satu jam para dokter ini tak keluar sama sekali.


" Kamu pikir operasi itu sebentar he..." Aku sadar bukan hanya aku yang panik menunggu nya di sini.


" Dokter bagaimana istri ku?" Aku langsung ketika dokter kandungan itu keluar dari ruangan operasi nya yang masih memakai baju lengkap khusus operasi..


" Selamat tuan anak anda perempuan, dan istri anda juga baik baik saja, dia masih pingsan karena obat bius..." Aku menanggis senang karena semua nya selamat, kami tak akan kehilangan nya.


" Kalian bisa menemui nya jika kami sudah pindah kamar."


" Terima kasih dokter..." Tak ada yang membahagiakan selain kabar ini.


Kami kini resmi menjadi orang tua, kami tak akan melupakan anak pertama kami, Angel saat ini pasti bahagia di surga sana, karena melihat adiknya lahir dengan selamat. Perjuangan cinta kami kini sampai di puncak nya, memiliki istri dan anak adalah kebahagian yang tak bisa aku bendung lagi.


Untuk pertama kali nya aku menanggis terharu, merasakan tangan kecil itu menggenggam tangan ku dengan erat, tangan mungil yang selalu kami nantikan, kini telah menggenggam tangan kami. Bahagia dan haru kini menjadi satu di cerita kami.


Kini rumah tangga kami menjadi utuh dan sempurna kehadiran bayi mungil perempuan ini menjadi cahaya di rumah kecil kami. Kedua wanita yang akan aku jaga dengan nyawa ku, kedua wanita yang menjadi pelita hidup ku, ke dua wanita yang menjadi jiwa ku.


Kisah cinta ini aku tutup dengan cinta kamu yang tak akan terpisahkan, dan kami percaya bahwa pelangi itu datang di kehidupan rumah tangan kami. Setelah kami bersama sama berjuang dan berdamai dengan takdir seakan kebahagian tak lepas dari kehidupan kami.


Tuhan terima kasih karena sudah menjodohkan aku dengan istri yang cantik serta meng karunia bayi mungil yang selalu kami impikan. Kini rumah tangga kami sempurna seperti rumah tangga orang lain.


Kesedihan dan kebahagian kini telah melebur menjadi kisah cinta kami berdua.




🌼🌼🌼


Happy ending mak 😒 aku terharu nulis nya, kalian sedih gak sih baca nya 😒


Kalian menjadi saksi perjalan cinta mereka berdua, bagaimana kehidupan rumah tangga yang tak selama nya mulus 😭


Kita bertemu di musim ke tiga ya mak 😁 tentang cerita Zac Kozan dengan wanita yang kemarin ya mak 🀭 rencananya nanti musim ke empat cerita anak anak dari Jonathan dan Alex ya mak 🀭


Ramaikan like dan komentar dulu yuk, kasih vote untuk abang Alex dan Mbak Clarissa 😘

__ADS_1


Boleh minta bunga nya untuk menyambut kelahiran putri cantik mereka mak 🌹🌹


Makasih 😘😘😘😘


__ADS_2