
" Selamat datang di markas besar Dio Dell Morte..." Singa itu membuka suaranya dengan dingin membuat semua orang merinding seketika. Abhi dengan segera membalikan badanya dan matanya terkejut ketika melihat siapa yang berdiri di belakangnya dengan menyebutkan nama mafia mereka.
Abhi membulatkan matanya dengan sempurna, wajahnya kini dapat terlihat jelas bahwa ada keterkejutan yang tak biasanya, jantungnya memompa begitu cepat, aliran darah kini terasa cepat naik ke kepalanya, nafasnya seperti berhenti seketika. Mata Abhi mencoba bertanya tanya ketika suaranya seperti tak bisa keluar, tenggorokan nya seperti tercekik begitu saja.
" Zac, Valarie..." Liriknya dengan masih terkejut. Dia terlalu sulit untuk menetralkan rasa keterkejutannya itu.
" Selamat datang di markas kami, Dio Della Morte..." Katanya dengan tersenyum tipis. " Ini adalah kelompok ku, adalah Singa dari mereka semua..." Sambungnya dengan menatap kakak iparnya yang masih dengan wajah keterkejutan nya itu.
" Jadi benar kecurigaan ku kemarin?" Tanyanya dengan menatap ke arah adik iparnya dengan tatapan datarnya. " Dan kau tahu hal ini Val?" Sambungnya dengan menatap ke arah adik nya yang berdiri di belakang suaminya.
" Semua kecurigaan mu memang benar, aku yang mengendalikan tim ini. Kau sudah tahu siapa aku sebenarnya..." Zac kini menyilangkan tangan nya ke dada dengan menatap kakak iparnya yang masih penuh dengan tanda tanya.
" Yang kau gagalkan waktu itu adalah tim ku, kau menggagalkan penyelundupan di pelabuhan, kau menggagalkan perdagangan manusia, kau juga menggagalkan transaksi senjata ku waktu itu. Mereka yang kau gagalkan adalah tim ku, di bawah kekuasan ku..." Zac mengatakan semau yang pernah di gagalkan oleh laki laki tegap itu.
Abhi tersenyum kecut mengingat semua kejadian waktu itu, dia ingat betul semua yang dia gagalkan pada malam malam itu, hingga dia memiliki ambisi untuk membongkar semua sindikat para kelompok mafia waktu itu, tapi siapa sangka bahwa dia kini malah terjebak dengan kelompok itu, terjebak dengan wanita cantik yang mengusik hidupnya beberapa hari ini.
" Tak ku sangka bahwa aku memiliki adik ipar ketua mafia..." Suaranya kini menjadi sinis rasa terkejut nya serta tak menyangka kini masih hinggap di hati dan pikirannya, padahal tadi dia tak akan mengira bahwa adik iparnya yang menjadi ketua dari mafia itu.
__ADS_1
" Kau terkejut mengetahui siapa ketua dari mereka?" Zac kini masih menatap laki laki itu, Abhi kini juga menatap adik iparnya itu.
" Semuanya terlalu berputar putar di otak ku, aku hanya tak menyangkan bahwa ketua nya selama ini ada di sekeliling ku, orang dekat ku..." Jawabnya.
" Kau tak bisa mundur atau keluar dari kelompok ini karena kau sudah tahu siapa aku, jika kau mundur kau akan mati di sini..." Ucapnya dengan tegas dan dingin.
" Aku kakak ipar mu..." Jawabnya dengan santai.
Zac yang mendengar jawaban itu hanya bisa tertawa, tawa nya yang keras kini menggelegar di markas besar itu, Zac merasa geli dengan apa yang dia dengar, sedangkan orang yang di sana hanya mampu diam tak ada yang berani bicara sedikit pun.
" Kakak ipar?" Zac mengulanginya di sela sela tawanya. " Jika kita di luar markas kau mungkin kakak ipar ku, tapi jika di sini kita bukan siapa siapa. Itulah peraturan yang harus kau tahu..." Zac mengucapkan dengan penuh penekanan.
" Jadi selama ini aku di bawah perintah mu?"
" Bahkan tak hanya di bawah perintah ku, kau di bawah uji coba ku untuk melihat bagaimana kau sungguh sungguh di sini atau tidak?" Perkataan Zac membuat Abhi mengerutkan keningnya tak mengerti.
" Menguji ku dengan cara apa?, selama ini aku tak menyadari apapun..." Zac malah di buat tertawa keras dengan apa yang di katakan laki laki itu.
__ADS_1
Zac menceritakan semuanya, dari awal dia membantu Andre di perbatasan, hingga dia membunuh temannya dan kemarin juga adalah yang perlu di pertimbangkan untuk menyakinkan Zac bahwa laki laki ini serius ingin bergabung dengan tim nya.
" Aku harus akui kau licik karena mengorbankan FBI di banding kau mengorbankan tim mu. Kau pintar karena memilih untuk melindungi tim mu dan kau mengorbankan tim orang lain. Tapi jika itu terjadi pada tim mu yang sekarang kau tak bisa memilih kedua dua nya selamat. Kau harus memilih untuk mengorbankan police mu, dan memilih untuk mempertahankan tim gelap mu..." Zac kini mengatakan bahwa laki laki itu tak harus selamanya bisa melindungi kedua tim, suatu saat dia haru melindungi satu tim saja.
" Apapun masalah nanti, kau harus tetap melindungi tim gelap mu. Karena aku tak ingin anggota ku mati. Jika kau ketahuan melindungi Police mu dan mengorbankan mereka dapat ju pastikan hidupmu sengsara, aku tak peduli dengan kau kakak dari istri ku, yang aku tahu kau masuk ke sini sebagai anggota ku bukan kakak ipar ku..." Sambungnya dengan menatap tajam ke arah laki laki tegap itu.
" Dunia ini kejam sangat kejam. Jangan main main dengan kami karena kau tak akan bisa bermain dengan kami. Kesalahan sedikit saja membuat kau akan tahu seperti apa hukuman yang akan di berikan oleh Albert..." Zac kini memberikan peringatan agar laki laki itu memahami seperti apa kelompok mereka.
" Mereka adalah saudara mu sekarang, yang harus kau jaga. Mereka akan saling melindungi saling rela berkorban satu sama lain. Kau bisa tanyakan kepada mereka seperti apa kinerja mereka..." Zac tetap menatap wajah kakak iparnya itu, Abhi bahkan tak bergeming sama sekali ketika adik iparnya itu mengatakan semuanya.
" Kau akan tetap berada di kesatuan mu, kau akan tetap menjadi pimpinan kriminal dan itu bisa aku atur, tapi tugas mu memantau apa yang akan mereka kerjakan jika sudah menyangkut kelompok kami. Jika kau tak bisa mengunakan kekuasan mu maka katakan pada Steve. Tak akan ada yang tahu bahwa kau di sini bersama kami asal kau tetap bisa jaga rahasia ini, kami memengang kejahatan mu. Jika kau ingin kita hancur maka kita akan hancur sama sama..." Zac kini tetap serius agar laki laki itu tahu apa peraturannya.
" Kau siap dengan semua itu?, jika kau tak siap kau katakan sekarang..." Bentaknya dengan kencang, bahkan istrinya hanya menahan merindingnya ketika mendengar semua yang di katakan oleh suaminya itu.
" Aku siap menerima perintah pertama mu bos..." Ucapnya dengan getir. Dia kini resmi menjadi pengkhianat di kesatuan nya.
" Kau sekarang resmi menjadi anggota tim kami, kami adalah Dio Della Morte. Dewa kematian yang tak mengenal kata kata ampun bagi lawan nya..." Ucapnya dengan sungguh sungguh, tak ada mimik wajah yang bercanda di sana, suaranya yang tegas serta dingin.
Bruak!!! Dobrakan dari pintu depan membuat semua orang yang di sana menoleh ke arah depan dengan segera.
__ADS_1