
" sayang bersiaplah kita akan menghadiri pesta dari salah satu klien ku.." alfred yang setengah berteriak karena jovanka berada di dalam kamar mandi.
Jovanka dari tadi beralasan ingin berendam, sebenarnya jovanka menangis meneteskan air matanya karena jonathan mengatakan hal yang menyakiti hatinya. Kebahagian melihat kekasihnya berdiri di depan matanya adalah hal yang membuat dirinya sangat bahagia, jovanka berpikir bahwa masalahnya akan lebih muda. Tetapi kemarahan jonathan membuat semua harapannya hancur berkeping keping di sana. Meninggalkan bekas yang dalam.
Pengorbanan jovanka seakan tak ada gunanya saat ini. Balas dendamnya tak berguna hari ini. Tapi dia tetap berdiri di sini bersama alfred melanjutkan apa yang telah direncanakan, ada jonathan atau tidak rencana nya harus berhasil. Balas dendam tentang kematian calon anaknya. Seorang ibu bisa menjadi kejam ketika melihat anaknya terluka, apalagi calon anaknya yang belum sempat melihat dunia harus pergi selamanya karena kesengajaan.
Sedangkan di tempat lain jonathan mengamuk, membanting semua yang ada di depan nya, memukul tembok melampiaskan kemarahan nya. Jonathan kemarahannya kini berlipat ganda setelah mendengarkan apa yang dijelaskan oleh kris sang asistennya. Balas dendam yang dilakukan jovanka sebenarnya telah selesai tapi tinggal menunggu waktu yang tepat mengakhiri ini semua.
" akan kubunuh kau dengan tanganku sendiri.. kau membunuh calon anak ku dengan ara.. arghh…" teriaknya dengan wajah yang begitu memerah karena marah.
"Kris dimana ara?, bahwa dia kesini. Katakan biarkan aku yang menangani ini semua.." jonathan tentu saja tak akan membiarkan wanitanya berlama lama dengan laki laki gila itu.
" tuan maafkan saya, nona tak bisa di hubungi.." jawaban kris malah membuat jonathan melotot.
" apa kau sebodoh itu tak mengirimkan orang mu untuk menjaga ara ku ha.." bentaknya lagi.
" sudah tuan.. tapi saat ini nona dan tuan alfred sedang berada di salah satu pesta pertemuan dengan klien tuan alfred."
" ara apa yang kau pikirkan honey.." katanya dengan menahan emosinya. " maafkan aku.. maafkan aku.." sambungnya dengan menyesal.
__ADS_1
Di tempat lain, di ruangan yang cukup besar untuk bertemu para kilen. Alfred dan jovanka kini menghadiri salah satu pesta klien alfred. Di sana banyak sekali model model yang terkenal, sebagian jovanka mengenalnya karena sepak terjang jovanka di dunia model juga tak kalah dari mereka.
" hai al.." sapa wanita yang tiba memeluknya.
" hai emil,apa kabar.." jawaban alfred membuat jovanka melihat ke arah wanita yang dipanggil emil. Wanita yang dikenal kini berdiri dengan saling bertatapan dengan terkejut.
" kau.." tunjuk emil ketika melihat ke arah wanita yang digandeng teman nya itu.
" kalian saling mengenal?"alfred bertanya dengan menatap kedua wanita tersebut dengan bergantian.
" siapa yang tak mengenal nona arabella di negara A.." katanya dengan sinis.
" benarkah?, ah istriku ternyata cukup terkenal di mana mana.." alfred tersenyum.
" apa maksudmu?" Alfred bertanya dengan wajah yang terkejut. " dunia malam apa yang kau katakan, aku tak mengerti.." sambungnya.
" astaga kau tak tahu?, istrimu ini tak mengatakan masa lalunya yang kelam itu. Dia tak mengatakan dia dari mana asalnya.." emil kini tetap mengatakan semuanya tapi jovanka tetap diam dengan santai.
" sayang apa yang coba dikatakan oleh emil ini?" Alfred kini beralih bertanya pada jovanka.
__ADS_1
" kau tanya saja pada wanita itu.. kau akan mendapatkan jawabannya.." jovanka terlihat santai bahkan ini bisa membuat alfred malu,meskipun dirinya akan di buat malu di sini tapi setidaknya alfred yang akan bertambah malu di depan klien nya.
" istrimu yang terhormat ini dulunya adalah wanita nakal, wanita yang bekerja di dunia malam, sebuah club terkenal di negara A, bahkan dia adalah primadona nya. Kau tahu al dia adalah penjajah laki laki hidung belang.. dia menikmati pekerjaan nya yang menjadi seorang pelac*r.." emil mengatahkan dengan penuh emosi dan menekan setiap kata katanya,alfred yang mendengarnya tentu saja tak terkejut bahkan jovanka tak membantah setiap ucapan yang dikatakan emil kepada suaminya.
" jovanka katakan bahwa dia berbohong.." alfred tentu saja berharap dia berbohong.
" apa yang dikatakan emil memang benar, aku adalah mantan wanita nakal, wanita malam. Bahkan penjajah laki laki yang memiliki uang banyak, tapi hanya orang miliarder yang bisa menikmati tubuhku. Bukan sepertimu yang menggratiskan tubuhmu itu.." jawab jovanka dengan sangat santai.
" kau.." kemarahan emil membuat dirinya menyiramkan minuman pada baju jovanka.
" ah kau marah hanya aku mengatakan kebenaran. Padahal kau sudah mengatakan kebenaran ku pada suami ku ini tapi aku tak marah sama sekali.." wajah jovanka seakan mengejek emil di sana. Mereka saling bertatapan dan mereka bertiga juga menjadi tontonan semua orang yang di sana.
" jovanka kau perlu jelaskan pada ku.." alfred menahan rasa malu nya dan segera menyeret tangan jovanka agar pergi dari ruangan tersebut.
Di Dalam mobil perjalan jovanka dan alfred tak mengatakan apapun,mereka membisu dengan pikiran mereka masing masing. Alfred menarik paksa jovanka agar segera masuk kedalam kamar hotel yang masih mereka tempatkan. Jovana melihat orang orang yang akan mendekat tapi tangan jovanka menghentikan mereka.
" jelaskan apa yang dikatakan emil tadi benar jovanka,kenapa kau tak menyangkal nya atau membela dirimu jika dia berbohong jovanka.." rasa penasaran alfred kini sudah tak bisa dibendung lagi. Alfred segera bertanya ketika mereka sudah berada di dalam kamarnya.
" buat apa aku menyangkal nya jika memang yang dikatakan wanita tadi benar ada nya.." jovanka duduk di sofa dengan menyilangkan kaki nya.
__ADS_1
" jadi kau.. benar wanita malam.. penggoda suami orang.." alfred mengulangi nya dengan tak percaya.
" hmm.. aku adalah arabella amelia yang dibesarkan di panti asuhan yang dibuang oleh keluarga ku yang sekarang dan aku adalah seorang janda yang ditinggalkan mantan suamiku.. dan aku adalah wanita nakal, wanita malam, primadona di sebuah club. Aku adalah penjajah laki laki yang memiliki harta banyak.." jawaban jovanka dengan santai pembuat alfred bertambah marah.