
"Tuan Aron, Febri dan Oyong tidak membuat masalahkan?
Kurniawan tahu kalau kedua orang itu diundang oleh Hendy, dan bertemu dengan Aron lagi pasti akan tidak senang.
Aron belum sempat bicara, Eddyt sudah berkata lebih dulu : “Dua pembohong besar itu sudah enyah kembali ke Futuwa, mereka tampak sangat memalukan saat pergi, mana terlihat seperti seorang ahli terkemuka….”
Semua orang yang mendengarnya tahu kalau Febri pasti tidak bisa melakukan apa-apa dan setelah dibereskan oleh Aron, dia hanya bisa pergi dengan putus asa.
Basri menjadi lebih bertekad saat ini, kedepannya Keluarga Darmanto hanya akan mengikuti Aron, dan mengikuti jejak Aron!
“Tuan Aron, kapan kita kembali ke Kota Sanur?”
Tanya Kurniawan.
Awalnya mereka datang ke sini untuk melihat apakah mereka bisa mendapatkan beberapa harta karun, namun sekarang keadaannya sudah berubah menjadi seperti ini, jadi Kurniawan bertanya kepada Aron kapan mereka akan pulang, karena mereka datang bersama, jadi dia harus mendengar perintah dari Aron!
“Tuan Kurniawan, kamu bawalah Nuri dan Lina pulang dulu, saya akan tinggal di Kota Dama selama beberapa hari untuk menangani sedikit masalah….
Aron tidak menceritakan masalahnya, karena dia takut Nuri akan khawatir.
“Kamu tetap tinggal untuk mengurus apa? Saya juga akan tetap disini….”
Nuri yang mendengar itu langsung mengatakan ingin menetap juga.
“Saya juga, kebetulan bisa menemani Nuri berjalan-jalan keliling Kota Dama, disini ada banyak tempat menarik….”
__ADS_1
Lina juga mengatakan dia ingin menetap.
“Tidak bisa, kalian harus pulang dulu, hari ini sudah harus pulang….”
Aron menolak permintaan mereka untuk menetap tanpa ragu-ragu.
Alasan Aron tidak mengizinkan mereka untuk tetap tinggal karena Kota Dama tidak lebih baik daripada tempat lain, karena Aron tahu banyak orang-orang hebat yang tersembunyi di Kota Dama, dan itu membuat dia tidak berani mengizinkan Nuri untuk tetap disini, kalau Keluarga Bara diam-diam melakukan hal jahat pada Nuri, maka akan terlambat untuk menyesalinya.
Nuri melihat Aron bersikap seperti itu terlihat tidak senang, tapi dia juga tidak berani membantah dan memaksa untuk tetap tinggal.
“Saya beritahu, kamu menetap di Kota Dama, jangan sampai ketahuan olehku kamu mencari wanita disini, kalau tidak saya tidak akan mengampunimu….”
Nuri berkata dengan cemberut.
“Tenang saja, meski Kota Dama merupakan kota besar tapi tidak akan bisa menemukan wanita cantik, lembut dan berbudi sepertimu…”
Perkataan itu sontak membuat wajah Nuri memerah dan bergumam : “Hm, kamu pasti mengatakan hal yang bertentangan dengan keinginanmu…”
Meskipun begitu, hati Nuri sudah penuh dengan kegembiraan.
Lina yang berdiri di samping dan menyaksikan Aron menggoda Nuri merasakan perasaan yang tidak terlukiskan di hatinya, dan menggigit bibirnya dengan erat.
Kurniawan melihat ekspresi cucu perempuannya dan menggelengkan kepalanya sambil menghela nafasnya, bagaimana mungkin dia tidak tahu perasaan Lina.
Hanya saja, Aron bukanlah orang yang berambisi besar, kalau dia tidak keberatan untuk memiliki beberapa selir, Kurniawan juga tidak akan keberatan Lina menemani di sisi Aron.
__ADS_1
Kurniawan membawa Nuri dan Lina pergi, Basri awalnya ingin mengundang Aron untuk tinggal di kediaman Keluarga Darmanto selama beberapa hari, tapi Aron tidak ingin merepotkan dan tidak mau pergi ke sana, dan meminta Eddyt untuk mencarikan sebuah penginapan.
“Tuan Aron, untuk sementara kamu bisa beristirahat dulu di penginapan, setelah saya mendapatkan informasi dari beberapa orang Desa Poison itu, saya akan menghubungi Tuan Aron…..”
Untuk mencari orang Desa Poison, Aron tidak perlu turun tangan, karena Aron juga tidak terlalu mengenal tempat di Kota Dama, jadi untuk masalah mencari orang akan dilakukan oleh Eddyt, hanya saja setelah menemukan mereka, dan ingin menahan mereka, akan memerlukan bantuan dari Aron.
“Iya, setelah mendapat informasi, telepon saja saya…”
Aron mengangguk.
Setelah Eddyt pergi Aron awalnya ingin berkultivasi di penginapan namun di kota yang ramai seperti Kota Dama, energi spiritual semakin sedikit lagi, dan itu sudah mencapai titik di mana seperti tidak ada apa-apa, jadi tanpa sumber daya itu juga sama saja dengan membuang waktu.
Melihat langit di luar sudah mulai gelap, Basri menelpon Aron dan ingin mengundang Aron untuk makan bersama, hanya saja Aron juga menolaknya, sekarang Aron sudah mencapai tahap puncak Inedia, dan walau dia tidak makan atau minum selama belasan hingga setengah bulan juga tidak akan merasa lapar, dan dia juga tidak ingin pergi, karena dia tidak suka disanjung dan dipuji-puji seperti itu!
Lampu-lampu neon di jalan mulai menyala perlahan dan membuat seluruh Kota Dama terlihat sangat indah, Aron berjalan turun ke bawah dan berniat berjalan-jalan santai!
>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<
Dan pada saat ini, di aula kediaman Keluarga Bara, meski meja makan sudah dipenuhi dengan hidangan, tapi tidak ada orang yang berani menggerakkan sumpitnya, wajah Boyca tampak muram dan suasana di ruang makan sangat tertekan.
“Ayah, bukankah hanya seorang Aron, karena kamu sudah tahu dia datang ke Kota Dama, kenapa tidak langsung mengutus seseorang untuk memenggalnya sampai mati, dan membalaskan dendam kakakku?”
Di sisi Boyca, seorang pemuda berusia dua puluh tahunan bertanya.
__ADS_1