Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Aron tunduk


__ADS_3

Tidak menunggu Aron merespon apa yang terjadi, dua orang master itu sudah bertarung satu sama lain, dengan kekuatan keduanya yang setara, pertarungan itu sangat sengit dan mereka semua mencoba yang terbaik.


Setelah bertarung lebih dari seratus ronde, kedua master itu saling menusuk satu sama lain dan keduanya mati.


Melihat tiga mayat yang tergeletak di atas tanah, Aron tidak pernah membayangkan kalau orang-orang ini akan membunuh satu sama lain, dan wanita itu tidak melakukan apa pun dari awal hingga akhir.


Pada saat ini, wanita itu melihat ke arah tempat Aron bersembunyi dan bertanya dengan dingin : “Masih tidak mau keluar?”


Aron melihat pihak lain sudah menyadari keberadaannya dan hanya bisa mengelak dan berjalan keluar, lalu berjalan menghampiri wanita itu dengan hati-hati dan matanya penuh dengan kewaspadaan.


Melihat Aron yang waspada, wanita itu terkekeh, senyuman wanita itu seperti bunga yang bermekaran dan menghangatkan hati Aron dalam sekejap.


“Yang terjadi barusan begitu berbahaya dan kamu hanya menatap seorang wanita sepertiku dianiaya, meskipun kamu tidak berani tapi kamu cukup kejam juga ya…..”


Wanita itu cemberut dan berkata pada Aron sambil berpura-pura marah.


Aron hanya merasa hatinya disentil oleh wanita itu dan perasaan impulsifnya kembali menghantam tubuhnya lagi.


“Kamu…..kamu cantik sekali…..”

__ADS_1


Tatapan Aron pada wanita itu menjadi sedikit gila dan ekspresinya terlihat sedikit konyol.


Melihat ekspresi Aron, wanita itu tersenyum puas dan menyisir rambutnya dengan tangannya : “Benarkah? Apakah saya sangat cantik? Lalu kenapa tadi kamu tidak menyelamatkanku, sekarang saya ingin kamu membawa mayat orang-orang ini dan melemparkannya ke dalam sungai untukku, ya?”


Wanita itu berkata pada dengan nada centil dan membuat Aron tidak bisa menahan diri, lalu menganggukkan kepalanya : “Baik, baik….”


Namun pada saat Aron sedang mengangkat mayat yang ada di tanah, dan hendak berbalik pergi, bau darah menyeruak dan sebuah cahaya putih melintas di benak Aron, dan seketika sepasang mata Aron menjadi jernih, dia tertegun di tempat dan tidak tahu apa yang baru saja terjadi.


Melihat mayat yang sedang dibawanya, Aron seketika kaget dan bergegas membuang mayat itu, kekuatan spiritual di tubuhnya langsung meledak dan melindungi tubuhnya dengan erat, Aron menoleh menatap wanita itu.


Sedangkan wanita itu menatap Aron yang tiba-tiba membuang mayat itu dan menoleh pada dirinya juga tercengang, dia tidak menyangka Aron bisa tersadar dan ini membuat dia sedikit heran.


Aron menatap wanita itu dengan marah dan tinjunya mengepal dengan erat.


Ekspresi kaget hanya melintas di wajah wanita itu sekilas, lalu dia menjadi terpesona dan memutar tubuhnya lalu berjalan menuju Aron.


“Kakak, kenapa kamu galak sekali, kamu mengagetkanku saja, saya sangat takut, kalau tidak percaya kamu tatap saja mataku….”


Wanita itu berbicara sambil berjalan mendekati Aron.

__ADS_1


Aron menatap sepasang mata wanita itu dan dia kembali menjadi linglung lagi, tinjunya yang mengepal saat ini mengendur dan pikirannya menjadi kosong.


Melihat Aron kembali ke kondisi linglung, wanita itu mendengus dingin dengan jijik : “Lanjutkan apa yang belum kamu selesaikan, buang mayat ini…..”


“Baik!” Aron mengangguk dan membungkuk untuk mengambil mayat itu lagi.


Dan pada saat Aron hendak pergi dengan membawa mayat itu, tiba-tiba ada sebuah sosok hitam yang melintas, dan langsung sampai di sisi Aron, satu tangannya menepuk kening Aron dengan ringan.


Sekujur tubuh Aron gemetar lalu dia tersadar kembali, dan saat melihat dirinya kembali membopong mayat itu, raut wajah Aron langsung berubah.


Dia tidak tahu sejak kapan dirinya menjadi linglung dan dikendalikan oleh wanita itu.


Aron bergegas membuang mayat itu lalu menatap orang yang ada di sampingnya dan menemukan kalau orang itu ternyata adalah Danu yang pernah menyelamatkan nyawanya dan memberikan Pil Pengolahan Tubuh kepadanya.


Saat ini, Danu menatap wanita itu dengan dingin, sedangkan saat wanita itu melihat Danu, dia bergegas menundukkan kepalanya dan raut wajahnya berubah menjadi sedikit ketakutan.


“Elen, sudah berapa kali saya katakan padamu, jangan bertindak sembarangan di luar, kalau tidak kamu sendiri yang akan terluka.”


​Danu menegur wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2