
“Ar…Aron…”
Gavin tidak tahu sejak kapan Aron tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
Sedangkan Benny yang mendengar nama Aron juga bergegas berbalik dan menemukan Aron sedang berdiri di pintu masuk aula dengan wajah sedingin es.
“Gavin, kamu benar-benar hebat sekali ya…”
Tatapan Aron membeku dan menatap Gavin dengan dingin, setiap kata yang diucapkan menyimpan niat membunuh yang tidak ada habisnya.
Gavin menatap Aron yang seperti itu seketika ketakutan, tubuhnya gemetaran dan terus melangkah mundur.
“Tuan…Tuan Aron, kamu dengarkan dulu penjelasanku…”
Gavin gemetaran dan mencoba untuk menjelaskan pada Aron.
“Kamu mau menjelaskan apa lagi, apakah Nona Bella ada di sini? Lepaskan dia sekarang juga…”
Aron berkata dengan dingin.
Gavin terus melangkah mundur, akhirnya tatapannya jatuh pada Benny.
Gavin tidak bisa membuat keputusan maka hanya bisa membiarkan Benny yang membuat keputusan.
“Nak, kamu adalah Aron yang diburu oleh Aliansi Seni Bela Diri Kota Dama?” Benny melirik Aron lalu berkata : “Bella ada di atas ranjangku, sekarang dia sudah menjadi wanitaku, kamu ingin membawanya pergi, tidak mungkin…”
Aron yang mendengar bahwa Bella benar-benar berada di tangan Benny seketika aura pembunuh di tubuhnya meningkat dan suhu di seluruh aula tiba-tiba turun drastis.
__ADS_1
Niat membunuh yang menakutkan terus menyebar tanpa terkendali.
“Jika kamu benar-benar sudah menyentuh Nona Bella, maka saya akan membuat seluruh Keluarga Jaya dikubur bersama…”
Aron menggertakkan giginya, hawa dingin menjalar melalui tatapan matanya yang dalam!
“Membuat seluruh Keluarga Jaya dikubur bersama? Benar-benar lucu…”
Benny menyeringai lalu dua orang pria yang mengenakan setelan ketat bergegas menerjang keluar dari aula belakang.
Aura di tubuh Benny seketika meningkat saat melihat dua orang itu.
“Febri, Arfan, kalian berdua ikut saya untuk membunuh anak yang tidak tahu perbedaan langit dan bumi ini…”
Benny berkata kepada dua orang yang bergegas menghampiri itu.
“Siap laksanakan!” Dua orang itu menganggukkan kepalanya.
Aron menghadapi tiga orang yang ada di hadapannya, tatapan matanya penuh dengan penghinaan, hanya dengan kekuatan seperti ini mereka juga berani melawannya.
Melihat tatapan mata Aron yang penuh penghinaan, Benny merasa bahwa dirinya telah dipermalukan dan sosoknya seketika melesat dan menerjang ke arah Aron.
“Tinju Prajna…”
Benny seketika melayangkan tinjunya, energi yang tidak ada habisnya seperti sebuah meriam yang menerjang ke arah Aron.
“Tapak Es…”
__ADS_1
Pada saat itu, Febri juga melayangkan pukulannya, lapisan es tebal mengembun di atas telapak tangannya dan aura dingin membuat orang merasa tertekan, gelombang aura dingin terus menyelimuti Aron!
Di saat Febri melayangkan pukulannya, Arfan juga melayangkan tendangannya, sebuah cahaya bersinar di ujung kakinya, seperti pedang yang mengoyak udara di bawah kakinya.
Ketiga orang itu menyerang secara serempak, menyerang Aron dari arah yang berbeda di saat yang bersamaan, dan hampir tiba di hadapan Aron dalam waktu yang bersamaan.
Gavin yang melihat ini seketika menunjukkan perubahan ekspresi.
Melihat serangan tiga orang itu dia tahu bahwa kekuatan Keluarga Jaya tidak dapat diremehkan!
Tapi Aron pada saat ini malah tersenyum sinis pada tiga orang itu, seolah-olah dia belum melakukan persiapan untuk menghindar atau pun melawan.
Di saat Gavin bertanya-tanya mengapa Aron tidak melawan, dia melihat cahaya keemasan yang muncul dari tubuh Aron!
Tubuh emas tak terhancurkan diaktifkan dan lapisan sisik-sisik emas menyelimuti seluruh tubuh Aron.
Pada saat itu, Aron bagaikan seorang prajurit berbaju besi warna emas, yang tidak gentar menghadapi serangan dari tiga orang anggota Keluarga Jaya itu.
Bam bam bam…
Tiga suara ledakan terdengar, tiga orang itu menghantam Aron dengan tingkat akurasi yang tidak perlu diragukan lagi, membuat gelombang energi yang sangat besar yang menghancurkan seluruh benda yang ada di aula menjadi bubuk.
Sedangkan Aron yang dihantam oleh serangan tiga orang itu tidak menunjukkan respons apa pun, raut wajahnya tampak biasa saja, tidak terluka sama sekali!
“Ini…bagaimana mungkin?”
Benny menatap Aron dan tatapan matanya penuh dengan rasa tidak percaya.
__ADS_1
Sedangkan Febri dan Arfan juga saling memandang, tatapan mereka yang penuh dengan ketakutan sudah menjelaskan semuanya!