Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Memohon Pengampunan


__ADS_3

Vision sudah sangat ketakutan hingga terduduk di lantai dan langsung mengompol.


Jika Aron ingin membunuhnya maka itu hanya semudah melambaikan tangannya, jangankan membunuhnya, bahkan jika dia ingin menghancurkan seluruh fondasi yang sudah dia bangun selama bertahun-tahun, itu hanya membutuhkan satu kata darinya!


“Sudah berakhir…sudah berakhir…saya sudah berakhir…”


Vision menjadi linglung dan terus bergumam seperti orang gila.


Melihat penampilan Vision, adik kedua menendangnya dua kali!


“Adik kedua, sudahlah, ayo kita pergi, jangan sampai Tuan Aron melihat kita lagi, kalau tidak kita tidak akan bisa pergi!”


Kakak pertama Empat Pendekar Gunung Tomang berteriak pada adik kedua, lalu langsung melompat keluar dari jendela dan mendarat dengan stabil di bawah kapal kecil!


“Bos…”


Pada saat itu, pria yang mengenakan jas berjalan masuk dan melihat Vision yang terduduk di lantai, bergegas memapah Vision berdiri.


“Cepat, panggil semua orang yang ada di kapal, cepat…”


Vision berteriak pada pria yang mengenakan jas itu.


Pria yang mengenakan jas tercengang, namun dia segera melakukan apa yang diperintahkan dan bergegas mengumpulkan semua orang.


Lalu Vision membawa semua orang dan langsung berlutut di depan kamar Aron.


Ada beberapa orang tidak mengetahui apa yang terjadi tetap berdiri dan tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


“Dasar bajingan, berlutut kalian semua, tidak ada yang boleh berbicara, kalau berani mengganggu tidur Tuan Aron, saya akan mencabut nyawa kalian…”


Perkataan Vision membuat semua orang ketakutan dan bergegas berlutut, tidak ada yang berani berbicara lagi!


Setelah dua jam lebih, langit di luar sudah mulai terang, dan kapal pesiar kembali membunyikan peluitnya, perlahan-lahan mendekati pelabuhan!


Kurniawan dan Jhonatan bangun terlebih dulu, saat keduanya berjalan keluar, mereka melihat Vision dan para bawahannya sedang berlutut di koridor.


Hal ini membuat Kurniawan dan Jhonatan tampak bingung.


“Bos Vision, apa yang sedang kamu lakukan?”


Tanya Kurniawan.


"Tuan Kurniawan, saya berdosa, saya sedang meminta pengampunan dari Tuan Aron.”


“Berdosa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kalau ada masalah, bangun dan bicarakanlah!”


Kurniawan ingin memapah Vision tapi Vision yang belum bertemu langsung dengan Aron, tidak berani berdiri.


Di saat ini, Aron membuka pintu kamar dan berjalan keluar, melihat Vision membawa begitu banyak orang berlutut di koridor, Aron sama sekali tidak heran.


Pendengaran Aron sangat baik, jadi dia bisa mendengar seluruh pergerakan yang terjadi di koridor tadi malam dengan jelas!


Melihat Aron berjalan keluar, Vision segera merangkak menghampiri.


“Tuan Aron, saya bersalah, mohon Tuan Aron memaafkan saya…”

__ADS_1


Vision berlutut di hadapan Aron, menangis ketakutan dan tubuhnya gemetar karena ketakutan.


Saat ini, jika Aron merasa tidak senang, maka nyawanya pasti tidak akan bisa bertahan, jangankan nyawanya sendiri, mungkin nyawa seluruh keluarganya juga akan terancam.


“Aron, apa yang sebenarnya terjadi?”


Kurniawan dan Jhonatan bertanya dengan bingung.


“Minta saja dia sendiri yang berbicara!” Aron menatap Vision dan tersenyum tipis, “Kamu salah? Apa maksudnya? Di mana letak kesalahanmu?”


“Saya…saya…” Vision mengangkat kepalanya dan menatap Kurniawan lalu berkata dengan rasa bersalah : “Saya tidak seharusnya melakukan kejahatan demi keuntungan, demi mempertahankan barang-barang antik itu untuk diriku sendiri, saya berniat membunuh Tuan Aron, Tuan Kurniawan dan yang lainnya…saya pantas mati, saya pantas mati…”


Sambil berkata, Vision menampar dirinya sendiri, dan setiap pukulan itu sangat keras dan ganas, membuat wajahnya langsung bengkak.


​Indrawan yang mendengarnya menatap Vision dengan sedikit tidak percaya, dia tidak menyangka Vision akan berniat membunuh dirinya dan yang lainnya demi barang-barang antik itu.


Kurniawan awalnya mempercayai Vision, sekarang tampaknya dia terlalu mudah mempercayai orang.


“Tuan Kurniawan, menurutmu bagaimana hal ini harus ditangani?”


Aron tidak membuat keputusan, dan menyerahkan masalah ini kepada Kurniawan.


Mendengar Aron berkata seperti itu, Vision segera menoleh dan merangkak ke arah Kurniawan!


“Tuan Kurniawan, kumohon ampuni saya, saya masih memiliki banyak barang antik di rumahku, Tuan Kurniawan bisa memilih sesuka hati, saya jamin kamu akan menyukainya…”


​Vision tahu kalau Kurniawan menyukai barang antik, jadi dia mencoba menyenangkan Kurniawan.

__ADS_1


__ADS_2