
Melihat tatapan anggota Detasemen Perlindungan Hukum itu, Aron tiba-tiba tersentak seolah mengerti apa yang sedang dia bicarakan, lalu menatap Nuri dan Lina yang merasa puas, lalu berteriak pada anggota Detasemen Perlindungan Hukum itu : “Woi, bukan seperti itu, bukan seperti apa yang kamu pikirkan…”
Namun sosok anggota Detasemen Perlindungan Hukum itu sudah menghilang sejak tadi.
“Kenapa kalian berdua bicara sembarangan!”
Aron merasa pusing, dia baru menyadarinya sekarang, perkataan Nuri dan Lina barusan akan membuat orang lain yang mendengarnya mudah salah paham, pantas saja anggota Detasemen Perlindungan Hukum itu mengatakan hal seperti itu padanya.
“Kami bicara sembarangan apa?”
Nuri dan Lina menatap Aron dengan bingung.
“Aduh, tidak perlu dibicarakan lagi, Ketua Detasemen Eddyt mencariku, saya akan pergi kesana…”
Aron menghela nafasnya lalu berbalik dan pergi mencari Eddyt.
Dia tahu, orang-orang di Detasemen Perlindungan Hukum ini pasti sudah membicarakannya di belakang…
“Lina, apa yang kita katakan?”
Setelah Aron pergi, Nuri masih belum menyadarinya.
“Tidak mengatakan apa-apa, sepertinya hanya mengatakan semalam sangat memuaskan, tidak mengatakan yang lain!
__ADS_1
Lina masih tidak mengerti.
Namun segera, keduanya terdiam dan wajah mereka langsung memerah.
Mereka sudah berada di kamar Aron semalaman, pria dan wanita bersama, apalagi yang bisa dilakukan?
Dan mereka berdua bahkan mengatakan tentang kepuasan di depan orang lain, ini pasti membuat orang lain salah paham, siapa yang menyangka mereka sedang berkultivasi semalam.
Nuri dan Lina yang merasa malu segera berlari kembali ke dalam kamar, sepertinya mereka juga tidak berani keluar untuk menemui orang.
Aron pergi ke aula Detasemen Perlindungan Hukum dan menemukan Eddyt yang sedang menunggunya, di samping Eddyt ada seseorang yang sedang duduk, dan orang itu adalah Ketua Aliansi Seni Bela Diri Kota Dama, Ketua Arthur.
Aron melihat Arthur yang juga ada di sana tahu pasti dia datang karena masalah pelatihan, karena pelatihan diselenggarakan oleh Aliansi Seni Bela Diri, dan dirinya memukul Wiwanto serta hampir membuat August cacat, sebagai Ketua Aliansi, Arthur tidak mungkin tidak datang mencarinya.
Melihat Aron datang, Eddyt buru-buru bangkit dan berkata.
"Ketua Arthur…”
Aron mengangguk kepalanya pada Arthur.
Arthur tetap duduk di kursinya dan hanya mengernyitkan keningnya sebagai balasan.
Aron melihat sikap sombong Arthur yang duduk di kursi merasa ada kobaran api di dalam hatinya, dia juga menarik kursi dan duduk dengan santai.
__ADS_1
Sikap orang-orang Aliansi Seni Bela Diri Kota Dama ini benar-benar membuat Aron kesal.
“Aron, sebagai instruktur dari Detasemen Perlindungan Hukum, dapat mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi dalam pelatihan kali ini adalah kehormatanmu, kamu seharusnya menghargai hal itu, tapi tidak disangka kamu malah melanggar aturan, tidak hanya membunuh orang dari Keluarga Tanu dan Klan Petir, bahkan memukul August dan Wiwanto, apa kamu tidak menganggap serius Aliansi Seni Bela Diri?”
Arthur menatap Aron, mata gelapnya itu memancarkan cahaya dingin yang tegas, membuat orang yang melihatnya merasa tertekan.
Namun Aron tidak peduli, dia mengangkat sudut bibirnya : “Kalian Aliansi Seni Bela Diri masih punya muka untuk membicarakan tentang aturan? Pelatihan kali ini kalian memihak pada Keluarga King, membiarkan keluarga dan klan lainnya untuk mencari masalah denganku, tidak ada salahnya saya memukul mereka!”
“Hm, masih muda sudah begitu sombong!”
Arthur berkata dengan dingin dan membanting meja, aura dinginnya langsung menekan ke arah Aron.
Bruak brak brak…
Aron merasa ada sebuah gunung besar yang sedang menekannya, dan kursi di bawahnya langsung hancur.
Aron menggertakkan giginya, bersikeras menahan aura itu dan keringat dingin mulai mengalir di keningnya.
Kekuatan Arthur berada di atas Wiwanto, dengan kekuatan Aron saat ini tidak cukup untuk melawan Arthur.
“Ketua Arthur, kalau ada masalah bisa dibicarakan baik-baik, kamu datang ke Detasemen Perlindungan Hukum dan menyerang Tuan Aron, kalau saya melaporkannya kepada Tuan Gink apa kamu bisa menjelaskannya?”
Eddyt melihat Aron yang sudah tidak tahan segera mengancam Arthur.
__ADS_1