
Melihat gadis yang pingsan itu Aron hanya bisa meletakkannya di dalam kamarnya, lalu mengunci pintunya untuk mencegah gadis itu bangun dan melarikan diri, lalu Aron menghubungi Danu dan memberitahukan masalah ini kepada Danu.
Danu juga cukup kaget mendengarnya, dia menyuruh Aron untuk mengawasi gadis itu dan jangan biarkan gadis itu kabur, lalu dia membawa Elen bergegas dari Kota Dama menuju Kota Sanur dalam semalam.
Danu dan Elen baru tiba di Kota Sanur saat subuh dan melihat Aron sedang tidur di sofa di ruang tamu.
Aron merasakan kedatangan seseorang dan bergegas membuka matanya dan saat melihat itu adalah Danu dan Elen dia merasa lega : “Paman Danu, gadis itu ada di kamar, saya takut dia kabur jadi saya menguncinya di dalam.”
Aron membawa Danu dan Elen menuju kamar, sambil berjalan Aron melirik Elen dia belum pernah bertemu dengan orang yang begitu mirip, kalau bukan karena hawa dingin di tubuh gadis itu, dia pasti semakin mirip dengan Elen.
“Aron, kenapa kamu terus melihatku? Apakah gadis yang kamu katakan itu sangat mirip denganku?”
Elen melihat Aron yang terus meliriknya bertanya padanya.
“Bukan mirip, tapi sama persis…..”
Aron berkata dengan tegas.
Kata-kata Aron juga membuat Elen sangat penasaran, dan sekarang dia juga sangat ingin bertemu dengan gadis yang terlihat sangat mirip dengan dirinya ini.
“Aron, kamu bilang gadis ini juga bisa teknik pesona?” Danu bertanya.
__ADS_1
“Benar, semalam saat di bar dia menggunakan teknik pesona padaku, tapi tidak berhasil, saya kira dia adalah Elen!” Aron mengangguk dan melanjutkan : “Paman Danu, saat memungut Elen, apakah kamu tidak tahu siapa keluarganya? Ada saudaranya atau tidak?”
Danu menggelengkan kepalanya : “Elen tidak dipungut olehku, orang lain yang memungutnya dan menyerahkannya kepadaku, oleh karena itu saya tidak tahu apakah dia memiliki saudara atau tidak….”
Aron yang mendengarnya tidak menyangka akan seperti ini, ternyata Elen bukan dipungut langsung oleh Danu.
Segera, Aron membuka pintu kamar tetapi saat pintu terbuka sebuah belati langsung menusuk ke arah Aron.
Aron mengulurkan tangannya dan meraih belati itu, lalu menggunakan sedikit tenaganya dan membuat belati itu hancur.
Gadis itu melihat dia tidak bisa menyerangnya dan ingin segera kabur, tapi saat dia hendak berlari keluar dia melihat Elen yang masuk, dan gadis itu langsung tertegun.
Elen juga membelalak kaget saat melihat gadis itu.
Danu yang melihat itu juga kaget.
“Saya sudah bilang kalau kamu dan temanku itu sangat mirip, sekarang sudah percaya kan?”
Aron bertanya pada gadis yang terkejut itu.
Gadis itu tidak mengatakan apapun, dia hanya menatap Elen dengan erat dan Elen juga menatap lurus ke arah gadis itu, keduanya memang tidak saling kenal tapi perlahan-lahan saling mendekat.
__ADS_1
Ketika jarak antara kedua orang itu hanya sekitar satu meter, kedua orang itu secara tak terduga memancarkan cahaya redup pada saat yang sama, dan kemudian kedua sinar cahaya itu saling terkait dan bergabung satu sama lain.
Elen merasakan perasaan pembuluh darah yang terhubung dengan gadis itu dan pembuluh darah yang berdenyut membuat kedua gadis itu langsung meneteskan air matanya.
“Kakak……..”
Elen menatap gadis itu dan air mata mengalir di matanya dan tanpa sadar memanggilnya kakak.
“Adik……..”
Gadis itu juga menangis dan memanggilnya adik.
Meski tidak saling kenal satu sama lain, dan tidak tahu siapa yang lebih tua atau muda, tapi mereka tidak dapat menahan diri mereka untuk memanggil satu sama lain dengan sebutan kakak dan adik.
Segera setelah itu keduanya berpelukan dengan erat.
Adegan ini membuat Aron dan Danu kaget.
Terutama Danu, dia sudah mengadopsi Elen sejak kecil dan Elen tidak pernah bertemu dengan keluarganya, bagaimana dia bisa mengetahui gadis di hadapannya adalah kakaknya? Hanya karena mereka mirip?
Walaupun mereka anak kembar tapi bagaimana mereka bisa mengetahui urutan mereka? Lantas Elen tidak bisa menjadi kakak?
__ADS_1
Serangkaian pertanyaan itu membuat Danu bingung.