
“Ya, Paman Danu yang mengajukan ide ini, jadi kami baru bisa membunuh begitu banyak orang-orang Keluarga Himawan, kalau kami langsung bertarung keras dengan Keluarga Himawan, mungkin kami sudah mati sejak awal…”
Kata Elen.
Aron menatap Lina dan yang lainnya dengan perasaan yang campur aduk, jelas tahu dia sudah mati tapi masih membalaskan dendamnya tanpa peduli dengan bahaya.
“Ayo, kita temui Paman Danu!”
Kata Aron.
...****************...
Kota Dama, Keluarga Himawan!
Dua orang yang ditugaskan untuk menangkap Lina dan yang lainnya, sedang berlutut di aula utama.
Satria duduk di atas dan raut wajahnya penuh dengan rasa tidak percaya.
“Kalian yakin orang yang kalian temui adalah Aron?”
Satria bertanya.
“Kepala keluarga, itu dia, tidak salah lagi.”
Salah satu orang dari Keluarga Himawan berkata.
Satria mengernyitkan keningnya, tidak mengatakan apa pun, dia sama sekali tidak mengerti bagaimana Aron bisa hidup kembali.
Dan satu hal lagi, hanya dalam waktu tiga hari yang singkat, walau Aron tidak mati, bagaimana dia bisa pulih dari cedera berat yang dia alami?
“Jadi Aron tidak menyerang kalian dan kalian berdua lari begitu saja? Lantas kalian juga takut pada Aron walau kalian memiliki sandera?”
Robi bertanya dengan marah kepada dua orang dari Keluarga Himawan : “Bagaimanapun kalian adalah Great Grand Master, apa kalian begitu pengecut?”
“Tuan Muda, Aron memang tidak menyerang, tapi aura yang dipancarkan dari tubuhnya sudah tidak bisa ditahan oleh kami berdua, apalagi serangannya.”
__ADS_1
Salah seorang dari Keluarga Himawan menjelaskan.
“Omong kosong, Aron itu hanya setengah Master Guru, mana mungkin memancarkan aura yang begitu menakutkan?”
Robi tidak percaya, dia pernah bertarung dengan Aron.
Jika mengatakan dia tidak menyerang dan hanya memancarkan auranya sudah dapat membuat dua orang Great Grand Master tidak mampu menahannya, maka itu sama sekali tidak mungkin.
“Tuan Muda, benar, kami tidak membohongimu, aura yang dipancarkan Aron sepertinya sudah tidak kalah dengan Tuan Besar.”
“Saya rasa Aron seharusnya sudah menerobos ranah Master Guru…”
Dua orang dari Keluarga Himawan itu bergegas menjelaskan.
“Menerobos ranah Master Guru?”
Robi membelalak dan tampak tidak percaya.
Jika Aron sudah menerobos ranah Master Guru, maka bukankah harapannya untuk membalas dendam akan semakin tipis?
“Menerobos ranah Master Guru?”
“Benar, dengan aura yang terpancar dari tubuh Aron, dia seharusnya sudah mencapai ranah Master Guru!”
Salah satu orang dari Keluarga Himawan menganggukkan kepalanya.
Satria kembali duduk dengan keras.
Dia seketika terdiam, jika mengatakan Aron tidak mati dia masih dapat menerimanya.
Jika mengatakan tubuh Aron sudah pulih, dia masih bisa menerimanya.
Tapi jika mengatakan Aron menerobos ranah Master Guru, dia sedikit tidak dapat menerimanya.
Apa-apaan? Hanya dalam waktu beberapa hari yang singkat, seorang pria yang berada di ambang kematian, bahkan Dantiannya sudah dihancurkan oleh orang lain, malah menerobos ke ranah Master Guru.
__ADS_1
Siapa yang akan percaya dengan hal ini!
“Lantas saya yang membantunya?”
Satria tiba-tiba teringat sesuatu.
Saat itu dia menghancurkan Dantiannya Aron, dengan tujuan menjadikan Aron sebagai orang biasa.
Selamanya menjadi orang cacat!
Dia tidak menyangka, hal ini malah memberikan kesempatan kepada Aron untuk menerobos.
Satria tahu untuk menerobos ke ranah Master Guru, bukanlah hanya mengandalkan kultivasi tapi kesempatan juga sangat dibutuhkan.
Mengenai kesempatan seperti apa, semua itu tergantung pada masing-masing individu!
Setiap orang yang menerobos ke Master Guru memiliki kesempatan yang berbeda-beda, ada orang yang menerobos saat sedang tidur dan bermimpi
Ada orang yang mungkin menerobos saat sedang bermain catur, setiap orang berbeda.
Bahkan ada yang terjebak di ranah setengah Master Guru selama seumur hidup dan tidak pernah menemukan kesempatan itu!
“Lantas kesempatan Aron adalah dengan menghancurkan Dantiannya?”
Satria sekarang merasa sedikit menyesal, menyesal karena dia menghancurkan Dantian Aron.
Menyesal karena dia tidak memelintir kepala Aron saat itu.
Namun sekarang menyesal juga tidak ada gunanya!
“Kalian keluarlah!”
Satria mengibaskan tangannya dan menyuruh dua orang dari Keluarga Himawan itu untuk keluar.
“Ayah, apa yang harus kita lakukan setelahnya? Aron besok akan datang langsung, dan menantangmu…”
__ADS_1
Robi bertanya kepada Satria.