
Dang…
Kedua pedang itu berbenturan dan suara dentangan keras terdengar, percikan api beterbangan ke segala arah dan membuat seisi gua menjadi jauh lebih terang.
Benturan itu membuat August merasakan pergelangan tangannya sakit, tapi saat dia menoleh ke arah Aron, dia menemukan Aron yang tampak baik-baik saja.
“Lagi…”
August kembali mengayunkan pedangnya, Aron juga tidak menunjukkan kelemahannya dan keduanya seketika terlibat pertarungan.
Energi pedang tersebar ke seluruh arah dan membuat bebatuan di gua itu berantakan, keduanya bertarung sebanyak seratus jurus dan belum ada yang menang.
Wiwanto yang melihat ini melambaikan tangannya dan menghantamkan sebuah energi yang besar ke arah Aron, lalu menampar tubuh Aron.
Tubuh Aron seperti layang-layang putus dan terhempas ke udara, sementara August memanfaatkan kesempatan itu untuk menggunakan pedangnya dan merebut Lukisan Pegunungan dan Sungai Sembilan Puluh ribu mil di punggung Aron dan mendapatkannya.
Tubuh Aron menabrak tanah dengan keras, tubuhnya berguling-guling di tanah dan kepalanya seperti berputar-putar.
“Kak Aron…” Tommy bergegas maju dan memapah Aron berdiri.
Aron menatap Wiwanto dengan marah, orang ini menyerangnya diam-diam, benar-benar tidak tahu malu.
__ADS_1
August yang mendapatkan Lukisan Pegunungan dan Sungai Sembilan Puluh ribu mil segera kembali ke sisi Wiwanto dan menyerahkan lukisan itu pada Wiwanto.
Wiwanto membuka lukisan itu dan segera, energi spiritual yang segar menyelimuti dirinya dan membuat dirinya terasa sangat menyegarkan.
Saat ini, pemandangan dalam lukisan itu sudah berubah menjadi kolam teratai dengan bunga teratai yang sedang mekar, di atasnya juga terdapat setetes embun dan begitu nyata!
“Lukisan yang bagus, memang lukisan yang bagus…”
Wiwanto menatap Lukisan Pegunungan dan Sungai Sembilan Puluh ribu mil dengan tatapan lurus.
“Dasar manusia hina, beraninya menyerang secara diam-diam, orang sepertimu juga pantas menjadi Ketua Dewan Aliansi Seni Bela Diri…”
Wiwanto menyeringai : “Kamu mengatakan saya menyerang diam-diam, siapa yang melihat saya menyerang diam-diam? Coba tanyakan pada orang-orang ini, apakah mereka melihatnya? Kekuatanmu sendiri yang tidak memadai, jangan kira kamu bisa melakukan apa saja karena Tuan Gino mendukungmu, walau saya membunuhmu disini, apa yang bisa Tuan Gino lakukan padaku?”
Perkataan Wiwanto membuat Aron sangat marah, namun dalam situasi seperti ini selain menahan diri tidak ada yang bisa Aron lakukan.
Melihat Aron terdiam, Wiwanto menyimpan lukisan itu dengan puas dan berkata pada Herman : “Kepala keluarga keluarga Umar, apakah kamu bisa memeriksa ada perangkap atau tidak di atas peti mati perunggu itu?”
Herman melangkah maju dan menatap peti mati yang ada di atas kepalanya dengan seksama, karena peti mati itu sudah berkarat, dia juga tidak bisa melihat dengan jelas.
“Ketua Dewan Wiwanto, peti mati perunggu ini tidak terlihat tidak beres, untuk mengetahui apakah ada perangkap atau tidak, harus naik dan memeriksanya.”
__ADS_1
Kata Herman.
“Baiklah kalau begitu, kamu pergilah ke atas untuk memeriksanya, kalau boleh, sebaiknya kamu membuka peti mati perunggu itu untuk melihat apakah ada harta karun di dalamnya.”
Wiwanto berkata sambil mengangguk.
Herman menghentakkan kakinya dan tubuhnya langsung terbang ke atas, lalu mendarat dengan mantap di atas peti mati perunggu itu.
Herman melihat karat pada peti mati perunggu itu dan mulai menyapunya dengan tangannya, tidak lama kemudian, sebuah kepala naga yang timbul muncul di atas peti mati, dan di sekeliling kepala naga itu terdapat tulisan-tulisan yang tidak dipahami oleh Herman.
Herman meraih kepala naga itu dengan tangannya dan memutarnya dengan hati-hati, dia tahu ini pasti cara untuk membuka peti mati ini.
Bruk bruk bruk…
Setelah terdengar suara gesekan yang keras, peti mati perunggu itu perlahan-lahan terbuka, melihat hal ini Herman segera melompat kembali ke bawah dan mendarat.
Semua orang menatap peti mati itu dan semua karat yang melapisi peti mati perunggu itu sudah rontok, tulisan yang aneh di peti mati itu mulai bersinar dan tidak lama kemudian, tulisan itu seperti melayang dari peti mati itu ke udara, diikuti dengan semburan cahaya keemasan!
Semua orang terkejut dan cahaya keemasan itu seketika membentuk jaring besar yang menyelimuti seluruh gua, diikuti oleh tekanan yang begitu kuat, dan langsung menekan energi yang ada di tubuh semua orang.
__ADS_1