Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Aron Cemburu


__ADS_3

Raut wajah Tommy menjadi sangat jelek, kehilangan muka di depan wanita cantik membuat Tommy merasa dipermalukan, jadi dia berjalan menghampiri dengan cepat.


Roddy tidak bergerak, dan Sutai juga tidak bergerak, dua orang itu menatap pria berjas hitam itu dengan tatapan serius.


Di saat bersamaan Aron juga mengernyitkan keningnya, meskipun pria berjas itu baru saja menunjukkan kekuatannya yang mencapai tingkat puncak Grand Master, tapi Aron tahu pria berjas itu tidak menggunakan kekuatan aslinya, melainkan dia masih mempunyai kekuatan tersembunyi, pemuda ini terlihat masih muda tapi seharusnya sudah mencapai ranah Great Grand Master, mungkin jauh lebih kuat daripada Ketua Sekte Nirwana, Hasan.


Tampaknya teknik kultivasi iblis memang bisa meningkatkan kekuatan seseorang dengan cepat, kalau tidak, untuk menembus ranah Great Grand Master adalah hal yang sangat sulit.


Pria berjas itu melihat orang-orang dari Lembah Tanpa Bayangan yang mengepung dirinya tidak merasa takut sama sekali, tapi dia mengernyitkan keningnya, jika pertarungan terus berlanjut, dia takut identitasnya sebagai kultivator iblis akan terungkap.


“Sialan, saya, Tommy tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini, bunuh orang ini hari ini lalu lemparkan dia ke lautan…”


Tommy berteriak dengan sangat marah.


Orang-orang dari Lembah Tanpa Bayangan menerima perintah dari Tommy dan bergegas mengambil posisi, aura di tubuh mereka juga mulai bangkit.


Melihat hal ini, pria berjas itu berusaha mati-matian menekan hawa jahat dalam dirinya, jika tidak pasti akan mudah disadari oleh orang lain.

__ADS_1


Mereka terlihat akan segera berkelahi, dan seorang pemuda yang mengenakan setelan berjalan menghampiri, diikuti dengan banyak orang berseragam di belakangnya.


Pada sisi kiri pakaian orang-orang ini terdapat sulaman seekor naga, dan banyak yang langsung tahu kalau mereka adalah orang-orang dari Keluarga King.


"Berani membuat onar di kapal ini, bukankah itu tidak memberi muka kepada Keluarga King?”


Teflon melirik ke arah Tommy dan pria yang mengenakan jas itu, lalu tekanan yang tidak berwujud datang dari tubuhnya!


Tommy yang melihat Teflon segera menarik kembali arogansinya yang terlihat di awal, dia mengibaskan tangannya pada bawahannya agar mereka bubar.


“Tuan Muda Teflon, bawahanku dilukai oleh orang ini, bukankah harus ada penjelasan?”


“Saya sudah melihat semuanya…” Teflon melirik Tommy lalu berkata pada pria berjas yang ada di belakang : “Kamu sudah boleh pergi…”


Melihat hal ini, pria berjas itu segera pergi, menghadapi Teflon membuat pria berjas itu sedikit gugup, dia takut Teflon bisa menyelidiki identitasnya.


Tommy melihat Teflon yang membiarkan pria berjas itu pergi mengernyitkan keningnya dan berkata dengan tidak senang : “Tuan Muda Teflon, Lembah Tanpa Bayangan tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini sebelumnya, sekarang di hadapan semua orang, dimana Lembah Tanpa Bayangan harus menaruh wajah kami?”

__ADS_1


“Kamu sendiri yang memprovokasi orang untuk mendapatkan gadis, kalau kamu merasa kehilangan muka, maka kamu bisa berbicara dengan Keluarga King…”


Tatapan Teflon sedikit memudar dan aura dingin dari tubuhnya membuat Tommy menggigil.


Melihat Teflon seperti itu, Tommy menggertakkan giginya dan mendengus dingin lalu membawa bawahannya kembali ke kamar, dia juga tidak berminat untuk bermain wanita lagi.


Lembah Tanpa Bayangan memiliki sedikit kekuatan, tapi masih tidak cukup untuk melawan Keluarga King, Keluarga King adalah keluarga kaya yang tersembunyi, mereka memiliki akar yang sangat kuat.


Tommy kembali ke kamar, Teflon melihat ke arah Nuri dan yang lainnya, lalu berkata pada bawahannya : “Minta anak buah kita untuk menyiapkan sebuah kamar untuk tiga nona ini, dan bawakan kartu kamarnya kemari…”


“Baik…”


Segera, orang dari Keluarga King mengosongkan sebuah kamar lalu menyerahkan kartu kamar itu kepada Nuri.


“Nona-nona, jika kalian membutuhkan sesuatu jangan ragu-ragu untuk mencari saya, nama saya Teflon King, apakah nona-nona sekalian mempunyai waktu luang untuk minum teh bersama?”


Teflon bertanya sambil menyerahkan kartu kamar kepada Nuri.

__ADS_1


“Mereka tidak punya waktu…”


Saat ini, Aron melangkah ke depan Nuri dan yang lainnya lalu mengambil kartu kamar, setelah melirik Teflon, dia menarik Nuri dan yang lainnya pergi, tanpa memberi muka kepada Teflon sama sekali.


__ADS_2