
Roddy memegangi wajahnya dan berkata dengan raut wajah sedih : “Kalau begitu, tanganku ini patah dengan sia-sia?”
“Tenang saja, jika tidak boleh membunuh Aron secara terang-terangan, maka kita akan lakukan secara diam-diam…”
Tatapan mata Devin tersirat dengan niat membunuh yang kuat.
Di saat itu, di depan pintu Detasemen Perlindungan Hukum, Arthur dan Naveen sedang berjalan bersama, dan saat melihat Aron, keduanya tercengang sejenak, jelas ada yang ingin mereka katakan pada Aron, tapi tidak satupun dari mereka angkat bicara.
“Nak, kamu sudah mencuri pujianku, hari ini kamu harus menjelaskannya padaku…”
Saat ini, Herman bergegas menghampiri Aron dengan marah dan berteriak.
Makam kuno itu ditemukan olehnya terlebih dulu, tapi Aron malah memberitahukannya terlebih dahulu, merebut pujiannya, bagaimana mungkin Herman tidak marah.
“Herman, bicarakan semuanya dengan jelas…”
__ADS_1
Melihat Herman bergegas menghampiri, Arthur bertanya padanya.
Meskipun di perjamuan, Herman sudah mengatakannya, tapi jelas Tuan Gino tidak percaya, kalau tidak, pujian itu tidak mungkin dilimpahkan kepada Aron.
“Ketua dewan, makam kuno itu saya temukan terlebih dulu, saat saya hendak menjelajahinya, anak ini menerobos masuk…” Herman menceritakan kembali kisah hari itu dengan detail, lalu berkata dengan jengkel : “Hari ini dia menceritakan mengenai makam kuno terlebih dulu, bukankah jelas dia mencuri pujianku? Saya harap ketua dewan bisa membuat keputusan…”
Arthur menatap Aron : “Aron, apakah yang dia katakan benar? Jika benar, maka saya rasa hal ini harus dijelaskan kepada Tuan Gino.”
“Benar!” Aron menganggukkan kepalanya tanpa ragu, namun dia melanjutkan perkataannya : “Tapi, saat itu dia tidak benar-benar mengeksplorasi makam kuno itu, saya yang mengeksplorasinya, jika dia benar-benar mengeksplorasinya, setelah saya pergi, kenapa dia tidak segera melaporkannya kepada Ketua Dewan? Lantas Keluarga Umar menginginkan makam itu untuk mereka sendiri?”
“Bicara sembarangan kamu, saya…saya…”
“Kamu sama sekali tidak bisa memastikan apakah benar ada makam kuno di sana atau tidak, setelah saya pergi, kamu pasti kembali untuk mengeksplorasi hanya saja kamu tetap tidak bisa menemukannya, karena makam itu sudah saya segel dengan formasi sihir, kamu tidak akan bisa menemukannya…”
Melihat sikap Herman, Aron langsung membeberkannya.
__ADS_1
“Saya…kamu…” Herman tidak bisa berkata-kata dan pada akhirnya dia menggertakkan giginya dan menunjuk ke arah Aron : “Nak, kamu tunggu saja, cepat atau lambat kamu akan tahu akibatnya!”
Herman berjalan pergi dengan gusar, sedangkan Arthur menatap Aron dan berkata dengan bijaksana : “Kamu terlalu tajam dalam mengekspresikan diri, ini bukan hal yang baik, meskipun ada orang yang melindungimu di belakang, tapi tidak bisa melindungimu seumur hidup, kamu berhati-hatilah…”
Setelah selesai bicara, Arthur pun pergi, sedangkan Naveen tidak pernah berbicara dengan Aron, dia hanya menatap Aron dengan ekspresi tersenyum.
Semua orang sudah pergi, dan Detasemen Perlindungan Hukum kembali mendapatkan ketenangannya!
“Tuan Aron, meskipun Tuan Gino sudah angkat bicara, tapi kamu sebaiknya lebih berhati-hati, saya menyadari orang yang kamu singgung sudah tidak sedikit…”
Eddyt menatap Aron dengan tidak berdaya dan berkata.
“Jalan kultivasi itu panjang, akan selalu ada batu sandungan, jika jalannya mulus maka saya rasa selamanya tidak akan bisa berkembang…”
Aron tersenyum dengan ringan.
__ADS_1
Eddyt tidak memahami Aron, satu-satunya alasan Aron melakukan hal ini adalah karena dia menginginkan lebih banyak sumber daya, jika dia ingin meningkatkan kekuatannya maka dia tidak bisa melepaskan hal ini.
Sedangkan Aron tidak mampu meluangkan waktu panjang untuk berkultivasi, karena ibunya masih mengalami penderitaan, meskipun Aron belum pernah bertemu dengan ibunya, tapi dia tahu, ibunya pasti sangat mencintai dia, sebagai putranya dia bertanggung jawab untuk menyelamatkan ibunya.