Penguasa Pulau Naga

Penguasa Pulau Naga
Rencana Busuk Ichiro Watanabe


__ADS_3

Dan saat kekuatannya terungkap, akan semakin banyak orang yang memperhatikan dirinya, dan daya tarik Kristal Naga yang ada di dalam tubuhnya akan semakin besar juga bagi orang lain.


Bagaimanapun, setelah menelan Kristal Naga, kekuatan Aron sudah berkembang pesat dan banyak orang memperhatikannya, mereka tidak akan berpikir itu adalah hasil dari kerja keras Aron, mereka pasti akan menganggap itu adalah berkat Kristal Naga.


“Jalan kedepannya, mungkin akan menjadi lebih sulit, Ibu, apakah kamu baik-baik saja sekarang?”


Aron memiringkan kepalanya dan menghela nafas pelan.


“Tuan Aron, ada apa?”


Saat itu, Eddyt berjalan dan melihat Aron duduk di sana sendiri, lalu segera menghampiri.


“Tidak apa-apa!” Aron tersenyum : “Kenapa kamu tidak minum dan bersenang-senang bersama dengan yang lainnya?”


Eddyt duduk di samping Aron dan memberikan sebatang rokok pada Aron.


Aron ragu-ragu lalu pada akhirnya dia menerimanya.


Eddyt menyalakan langsung untuk Aron, Aron menghisapnya lalu terbatuk-batuk dengan hebat.


Melihat Aron seperti itu, Eddyt tersenyum, dia menyalakan rokok untuk dirinya sendiri dan menghisapnya dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan.


“Entah berapa banyak dari orang-orang ini yang bisa kembali saat kompetisi tim tiga hari mendatang…”

__ADS_1


Eddyt berkata dan menghela nafasnya.


Aron yang mendengarnya juga terdiam dan berkata : “Saya akan berusaha yang terbaik untuk membawa mereka semua kembali.”


Eddyt menggelengkan kepalanya : “Alasan Ichiro Watanabe mengakui kekalahannya hari ini pasti karena ingin menyapu bersih kemenangan di kompetisi tim, orang itu benar-benar sangat jahat.”


Aron tidak mengatakan apapun lagi, dan menghisap rokoknya dalam diam.


Setelah setengah jam, Aron dan Eddyt kembali ke perjamuan lalu menemukan Helen dan Anna sudah dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri.


Aron tersenyum tidak berdaya, lalu membawa Nely pergi.


Saat itu, berbeda dengan Detasemen Perlindungan Hukum, ada sebuah hotel yang berada tidak jauh dari gedung Detasemen Perlindungan Hukum.


“Tuan Watanabe, ada pesan dari dalam negeri yang memintaku untuk menjelaskan masalah hari ini, apa yang harus saya katakan?”


Seorang pria berjas berjalan mendekat, orang ini adalah ketua delegasi Negara Partan, tapi berhadapan dengan Ichiro Watanabe ketua delegasi ini tidak berani bersikap tidak hormat sedikit pun.


Walau Ichiro Watanabe sudah kalah, berlutut di lantai dan mengakui kekalahannya, tapi mereka tidak berani menertawakan Ichiro Watanabe sedikit pun.


Di Negara Partan, Ichiro Watanabe memiliki dukungan dari seluruh keluarga Watanabe, bahkan keluarga kerajaan pun harus bersikap sopan kepada Keluarga Watanabe, apalagi orang-orang seperti mereka.


“Menjelaskan apa? Menjelaskan bagaimana saya bisa kalah? Beritahu pada mereka, saya sengaja menunjukkan kelemahan dan kalah, saat kompetisi tim nanti, tidak ada satu orang pun dari tim Negara Arunika bisa pergi hidup-hidup.”

__ADS_1


Ichiro Watanabe menatap ketua delegasi itu dan berkata dengan dingin.


“Baik, saya mengerti.”


Ketua delegasi itu mengangguk lalu berbalik dan pergi.


​“Tunggu sebentar!” Ichiro Watanabe tiba-tiba berteriak memanggil ketua delegasi itu : “Apakah kamu sudah menyiapkan barang yang saya minta?”


Raut wajah ketua delegasi itu sedikit berubah, dan berkata dengan serba salah : “Tuan Watanabe, bagaimanapun ini adalah negara Arunika, kalau barang yang kamu minta saya siapkan sampai ketahuan, kita tidak akan bisa meninggalkan Arunika lagi.”


Ichiro Watanabe berkata dengan dingin : “Kalau begitu, kamu tidak menyiapkannya?”


“Saya…” ketua delegasi itu terbata-bata, tidak tahu apa yang harus dia katakan.


Piak!


Tiba-tiba Ichiro Watanabe menampar ketua delegasi itu dengan keras : “Kalau kamu tidak menyiapkannya, percaya tidak sekarang saya akan membuatmu tidak pernah bisa kembali lagi?”


Ketua delegasi itu ketakutan dan segera membungkuk untuk meminta maaf : “Tuan Watanabe, saya salah, saya akan segera menyiapkannya…”


Setelah ketua delegasi itu pergi, Ichiro Watanabe menatap gedung Detasemen Perlindungan Hukum yang masih terang benderang dengan tatapan yang penuh dengan keinginan membunuh.


__ADS_1


__ADS_2