
Bagaimanapun Aldi sudah terkenal sejak awal dan merupakan orang paling berbakat di generasi muda pada mulanya.
Dengan berbagai reputasi yang dimiliki, dia memiliki penggemar yang tidak terhitung jumlahnya!
Sedangkan Aron, baru saja mendapatkan popularitasnya belakangan ini.
“Saya sangat menantikan pertarungan antara Kak Aldi dan Aron, dengan begitu akan terlihat siapa yang lebih baik.”
Satu kalimat ini langsung membuat seluruh forum menjadi panas.
“Benar benar benar, biarkan mereka bertarung, dengan begitu akan terlihat siapa yang lebih hebat.”
“Kak Aldi sudah terkenal sejak bertahun-tahun, satu tahun yang lalu saja sudah mencapai setengah dari Master Guru, apakah perlu bertarung lagi dengan si Aron itu?”
“Saya rasa kemampuan Aron juga tidak kecil, kalau Aldi tidak berani bertarung mungkin dia sudah takut, takut akan jatuh dari altar.”
Di saat ini, dua orang yang awalnya tidak saling mengenal satu sama lain seketika berubah menjadi musuh disebabkan oleh orang-orang di dalam forum itu.
Melihat semakin banyak komentar yang tidak terkendali di forum, raut wajah Aldi yang berada di balik layar langsung menjadi suram.
Dia membutuhkan waktu satu tahun penuh, mengurung diri selama satu tahun penuh untuk mencapai ranah Master Guru dari setengah Master Guru.
Setelah mencapai ranah ini, Aldi sangat ingin mencari seseorang untuk bertarung dan menunjukkan kepada semua orang bahwa dia yang sudah tidak terlihat selama satu tahun masih sangat kuat.
Dan sekarang, Aron adalah orang yang tepat untuk menemaninya bertarung.
“Saya akan menyiapkan ring dan bertarung dengan Aron di tahun baru, pada saatnya dia berani menerima tantangan atau tidak bukan sesuatu yang dapat saya kendalikan.”
Setelah selesai berbicara di forum Aldi lalu mematikan komputernya.
Segera, berita tentang Apdi yang akan menantang Aron pun menyebar.
__ADS_1
Hanya saja, saat ini Aron bahkan belum mengetahui masalah ini.
Dia tidak menyangka, dia akan memiliki musuh tanpa alasan dan hubungan sama sekali.
Aron sedang dalam perjalanan menuju Kota Dama saat ini.
Awalnya Aron mengira akan banyak perlawanan dalam perjalanannya ke Kota Dama, karena banyak klan dan keluarga bela diri yang sedang mengawasinya dengan seksama.
Namun yang mengejutkan Aron adalah, perjalanannya ternyata sangat tenang.
Tidak ada orang yang diam-diam menyerang Aron.
Bahkan Rein dari Keluarga Galah di Kota Dawa juga tampaknya diam saja.
Namun Aron tidak tahu, saat ini Rein sudah berada di Kota Dama selama berhari-hari.
Hanya saja dia belum mendengar kabar tentang Aron.
Pada hari ini, Rein datang ke Keluarga Himawan di Kota Dama!
Untuk menghadapi Aron, Rein membutuhkan bantuan dari Keluarga Himawan.
Meskipun Rein memiliki beberapa masalah dengan Robi, tapi dia percaya bahwa musuh dari musuhnya adalah teman.
Robi juga membenci Aron, jika mereka bekerja sama maka Aron pasti akan mati!
Namun saat Rein sudah berada di Keluarga Himawan selama satu jam, dia terus duduk di ruang tamu sambil minum teh, dan tidak melihat satu orang pun pengurus dari Keluarga Himawan muncul.
Robi bahkan lebih tidak terlihat lagi.
“Tuan muda, Keluarga Himawan ini jelas tidak memberi muka kepadamu, untuk apa kita masih menunggu di sini?”
__ADS_1
Salah seorang bawahan di belakang Rein berkata dengan nada yang tidak puas.
“Robi itu sengaja menggantungku, saya tahu orang-orang yang mencapai hal besar tidak terpaku pada hal-hal kecil, kita akan tetap menunggu di sini!”
Rein mengangkat cangkir tehnya dan meniupnya dengan lembut lalu melanjutkan minum.
Entah sudah cangkir ke berapa yang dia minum.
Sedangkan di bagian belakang ruang tamu, Robi sedang diam-diam memperhatikan Rein dari balik pintu.
Keluarga Himawan tidak berurusan dengan Keluarga Galah, dan Rein sama sekali tidak memberi muka saat di Kota Letta.
Sekarang mereka sedang berada di Kota Dama, jadi Robi ingin menunjukkan gengsinya kepada Rein.
Robi mengira Rein akan pergi dengan sendirinya, tapi satu jam sudah berlalu dan Rein masih duduk di sana.
“Tuan Muda, apakah saya harus mengusir mereka?”
Kepala pelayan Keluarga Himawan bertanya dengan suara pelan kepada Robi.
Robi mengibaskan tangannya : “Tidak perlu, karena Rein begitu tulus, maka saya akan menemuinya.”
Setelah selesai bicara, Robi merapikan pakaiannya lalu berjalan keluar.
“Saya tidak tahu Tuan Muda Rein yang terhormat bertamu ke sini, maaf tidak bisa menyambut…”
Robi berjalan ke ruang tamu dan berkata sambil tersenyum.
...****************...
__ADS_1
Salam Sehat dan Bahagia buat teman-teman Reader semua.. terima kasih komen like dan votenya.. mohon maaf saya tidak dapat balas satu persatu... sehat, sukses dan bahagia selalu buat teman-teman,... jgn sungkan memberikan kritik dan saran yang membangun...🙏🙏🙏