
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara, dan suasana di dalam ruangan makam itu menjadi semakin tertekan dengan genangan dan aroma darah membuat orang mungkin akan menjadi gila.
Krek krek krek…
Tiba-tiba ada suara gesekan logam yang terdengar dan membuat jantung semua orang berdebar-debar, mereka semua segera menoleh untuk melihat.
Terlihat Herman yang menepuk-nepukkan tangannya ke dinding batu, dinding batu itu menjadi cekung dan dua kepala hewan seperti harimau muncul di dinding, dua matanya membulat dan manik-manik di dalamnya bercahaya dengan cahaya hijau yang terlihat sangat menakutkan.
“Akhirnya ketemu!” Herman berkata dengan raut wajah puas.
“Apakah yang ada di dalam matanya itu adalah Mutiara Malam?”
Tommy menatap cahaya hijau yang berasal dari dua mata yang terukir di atas kepala dan mengira itu adalah semacam permata, dia mengulurkan tangannya untuk mengambilnya.
“Jangan disentuh!”
Aron menarik tangan Tommy dan menghentikannya.
Namun semua orang yang melihat adegan ini langsung bergerak.
Perlu diketahui semua orang datang untuk pelatihan, harta karun akan menjadi milik orang yang pertama mendapatkannya, lebih baik menyerang dulu daripada menderita kemudian, itulah sebabnya kenapa Aron berada di urutan paling terakhir.
“Jangan ada yang bergerak…”
__ADS_1
Herman berteriak keras, tidak ada yang tahu perangkap macam apa yang ada di tempat ini, jika mereka menyentuhnya sembarangan dan memicu perangkapnya maka mereka akan berada dalam masalah.
Tapi perkataan Herman tidak didengarkan oleh mereka, di mata mereka hanya ada harta karun.
“Ketua Dewan Wiwanto, tidak boleh membiarkan mereka menyentuhnya sembarangan, untuk mencegah perangkapnya diaktifkan.”
Herman yang melihatnya segera berteriak pada Wiwanto.
“Berhenti kalian semua!”
Wiwanto yang mendengarnya seketika wajahnya memerah karena marah, dan aura di tubuhnya seketika meningkat, beberapa orang yang mencoba untuk mendapatkan harta karun itu terhempas oleh aura Wiwanto.
Kali ini, tidak ada yang berani bergerak karena orang yang memiliki kekuatan paling tinggi di tempat ini adalah Wiwanto.
Raut wajah Wiwanto menjadi tenggelam dan dia menyapu semua orang di sekelilingnya, tidak satupun dari mereka berani membantah.
Hanya Lion yang tersenyum mencibir, tapi Wiwanto mengabaikannya dia tidak ingin berurusan dengan pria gila ini sekarang.
“Herman, minta seseorang untuk memeriksanya…”
Wiwanto meminta Herman untuk mengutus seseorang dan memeriksa apa yang terjadi di sana.
Herman mengangguk, dia melambaikan tangannya dan menyuruh seorang murid Keluarga Umar untuk berjalan dengan hati-hati ke sana.
__ADS_1
Semua orang menjadi waspada, sementara murid dari Keluarga Umar itu mengulurkan tangannya dan mengambil permata hijau yang ada di atas ukiran kepala itu.
“Kepala keluarga, benda ini bukan permata, ini lunak!”
Murid itu membawa permata itu dan berjalan ke arah Herman.
Herman yang mendengarnya mengernyitkan keningnya dan berkata : “Cepat buang…”
Namun saat Herman baru menyelesaikan perkataannya, permata yang ada di tangan murid Keluarga Umar itu langsung meleleh, seperti genangan air yang mengalir dari tangan murid Keluarga Umar itu ke atas tanah, lalu air itu mengenai tanah marmer dan menimbulkan suara gemericik.
“Ah…”
Murid Keluarga Umar itu tiba-tiba berteriak kaget dan saat dia melihat tangannya, kepulan asap berwarna hijau muncul dan kulit tangannya meleleh dengan kecepatan yang terlihat oleh mata telanjang, hanya menyisakan tulangnya yang berwarna putih.
Tangan lainnya dari murid Keluarga Umar itu bergegas memegang pergelangan tangannya, dan energi di dalam tubuhnya seketika berkumpul di telapak tangannya, energi yang kuat itu muncul dari telapak tangan murid keluarga Umar yang hanya tersisa tulangnya, namun tetap tidak bisa menghentikan kepulan asap hijau itu.
Shh…
Murid dari keluarga Umar itu hanya merasakan kilatan cahaya di depan matanya.
Lalu telapak tangannya langsung dipotong dan terjatuh di tanah.
Setelah telapak tangannya dipotong, tidak ada tetesan darah yang keluar dari tangannya itu, hanya kabut hitam pekat yang mengelilingi lukanya.
__ADS_1