
Sebaliknya Eddyt berkata : “Tuan Aron, kamu baru saja menerobos ranah Master Guru, jangan terlalu meremehkan Keluarga Himawan, mereka adalah…”
“Saya tahu!” Aron mengibaskan tangannya dan memotong perkataan Eddyt : “Saya tahu ada langit di atas langit, ada orang yang lebih hebat di luar sana, saya berani berkata seperti ini bukan karena merasa saya hebat, tapi semua orang di Keluarga Himawan, harus mati…”
Eddyt masih ingin membujuk tapi Tuan Gino menghentikannya.
“Karena Aron ingin menantang Keluarga Himawan, maka biarkan saja dia, Eddyt, kamu buat surat tantangannya.”
“Saat Aron menantang Keluarga Himawan, keluarga dan klan bela diri lainnya dilarang ikut campur, kalau tidak jangan salahkan saya tidak segan-segan!”
Tuan Gino berkata pada Eddyt.
Tuan Gino tahu, Aron memiliki banyak musuh di Kota Dama, bukan hanya Keluarga Himawan.
Jika Aron terluka parah saat berhadapan dengan Keluarga Himawan, maka para keluarga dan klan bela diri lainnya akan menyerbu Aron seperti harimau ganas.
Tuan Gino sedang membantu Aron mengatasi kekhawatirannya!
“Terima kasih banyak Tuan Gino…”
Aron juga tahu kalau Tuan Gino sedang membantunya.
“Tidak perlu berterima kasih kepadaku, saya juga tidak sepenuhnya membantumu, saya juga sedang membantu diriku sendiri…”
Aron tidak tahu mengapa Tuan Gino berkata demikian, tapi Aron juga sangat berterima kasih karena usaha ekstra Tuan Gino untuk membantunya.
Setelah keluar dari Detasemen Perlindungan Hukum, Aron pergi untuk menyelidiki apa yang terjadi di Keluarga Himawan selama dua hari terakhir.
Dia ingin melihat siapa sebenarnya yang mengincar Keluarga Himawan!
__ADS_1
Di saat bersamaan, Eddyt melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuan Gino dan memposting berita tentang kembalinya Aron ke Kota Dama untuk menantang Keluarga Himawan di forum bela diri!
Dia juga memposting pengumuman Tuan Gino yang memperingatkan semua klan dan keluarga bela diri untuk tidak ikut campur saat Aron berhadapan dengan Keluarga Himawan.
Hal ini membuat komunitas bela diri Kota Dama kembali meledak.
Dua hari yang lalu Aron dinyatakan meninggal, namun hanya dalam tiga hari kemudian, Aron tiba-tiba kembali ke Kota Dama dan bahkan menantang Keluarga Himawan!
Meskipun tidak ada foto Aron sebagai lampiran bukti, tapi berita ini di posting oleh Detasemen Perlindungan Hukum, jadi ini tidak mungkin palsu.
Detasemen Perlindungan Hukum adalah perwakilan dari pemerintah, mana mungkin menyebarkan berita palsu.
Keluarga Himawan seketika menjadi sasaran opini publik untuk sementara waktu, dan mengatakan Satria membual, sengaja memalsukan foto dan sama sekali tidak membunuh Aron.
Sedangkan Satria yang membaca berita di forum bela diri hampir muntah darah karena marah.
Dia jelas-jelas sudah menghancurkan Dantian Aron, dan semua tulang di tubuh Aron bahkan sudah hancur.
Kenapa tiba-tiba kembali ke Kota Dama bahkan menantang Keluarga Himawan dengan cara yang begitu mendominasi?
“Tidak mungkin, ini pasti tidak mungkin, pasti berita palsu!”
Satria berteriak marah.
“Ayah, berita ini di posting oleh Detasemen Perlindungan Hukum, seharusnya tidak mungkin palsu, bukan?”
Kata Robi.
Satria melotot : “Apa maksudmu, mereka tidak menyebar berita palsu, jadi saya yang menyebar berita palsu?”
__ADS_1
“Tidak tidak tidak, bukan itu maksudku…”
Robi segera menggelengkan kepalanya.
Menghadapi ayahnya sendiri, Robi benar-benar merasa takut.
“Saya tidak percaya Aron masih hidup, walau masih hidup dia pasti sudah menjadi orang cacat!”
Satria sama sekali tidak percaya dengan berita di forum bela diri.
Dia mempercayai matanya sendiri.
“Lupakan saja masalah yang ada di forum bela diri, apakah dua wanita itu sudah ditemukan?”
Satria tidak peduli dengan apa yang beredar di forum bela diri, dan bertanya pada Robi.
“Kedua wanita itu sudah ditemukan, saya mengutus orang untuk menangkap mereka, tidak lama lagi pasti akan kembali…”
Kata Robi.
“Ya, nanti setelah menangkap mereka, saya pasti akan menelanjangi mereka dan melemparkan mereka ke jalanan untuk mempermalukan mereka…”
Satria menggertakkan giginya dengan keras.
“Setelah dua wanita itu tertangkap, ingat sisakan satu untukku, saya sudah lama tidak pernah menikmatinya…”
Saat ini, sebuah suara tua dan serak tiba-tiba muncul di benak Robi.
Robi terkejut dan raut wajahnya berubah, dia bergegas melihat Satria, mendapati Satria tidak memperhatikannya Robi baru merasa lega.
__ADS_1