
Dia hendak mengandalkan orang-orang ini untuk menahan Audrey lalu membunuh Aron dengan cepat.
Mendapat perintah dari Ichiro Watanabe, beberapa pendekar itu mulai menghunuskan katana dan mulai menyerang anggota Detasemen Perlindungan Hukum dan prajurit yang dibawa oleh Audrey.
“Audrey, kamu hadapi saja para pendekar samurai itu, serahkan saja Ichiro Watanabe kepadaku…”
Aron berkata pada Audrey dengan terburu-buru.
Pasukan Audrey baru saja diracuni tadi dan baru dinetralisir, kekuatan mereka belum pulih, jika hanya mengandalkan Albert dan anggota Detasemen Perlindungan Hukum untuk melawan para pendekar samurai itu, Aron takut Albert dan yang lainnya akan berada dalam bahaya, oleh karena itu dia meminta Audrey untuk membantu.
Audrey menatap Aron lalu berteriak marah dan menerjang ke arah para pendekar samurai itu.
Sedangkan Aron menatap Ichiro Watanabe yang terlihat bangga dengan dingin : “Sekarang, saya juga akan membiarkan kamu mencoba rasa dari Teknik Pedang Sembilan Bayanganku…”
Setelah selesai bicara, aura di tubuh Aron meledak dan cahaya keemasan muncul seperti matahari di langit, sinarnya begitu menyilaukan, jauh lebih kuat daripada cahaya yang dipantulkan oleh tiga pria berjubah hitam itu.
“Jurus pertama, energi pedang bagaikan pelangi…”
Aron perlahan-lahan mengangkat Pedang Naga, pedang itu berdengung dan tubuhnya tiba-tiba terangkat ke udara, aura pedang yang mengerikan menutupi langit dan mengarah ke Ichiro Watanabe.
Ichiro Watanabe terkejut dan bergegas mengangkat pedangnya untuk menahan serangan.
Dang…
Dua pedang itu bertabrakan dan api membumbung tinggi ke langit.
__ADS_1
Ichiro Watanabe merasakan rasa sakit yang luar biasa dan pedang di tangannya hampir terjatuh.
“Jurus kedua, pedang membelah air…”
Aron kembali mengayunkan pedangnya dan kali ini dengan aura yang lebih menyilaukan dan kekuatan yang jauh lebih besar.
Raut wajah Ichiro Watanabe seketika menjadi sangat jelek, dia menggertakkan giginya dan menahan serangan itu lagi.
Bam…
Kali ini, Ichiro Watanabe merasakan pukulan berat pada tubuhnya dan retakan muncul pada pedang yang ada di tangannya, lalu pedang itu hancur…
“Bagaimana…bagaimana mungkin ini terjadi? Kenapa kamu bisa mengetahui tentang Teknik Pedang Sembilan Bayangan?”
Ichiro Watanabe menatap Aron dengan kaget, dan wajahnya penuh dengan ketidakpercayaan.
Setelah Aron berbicara, sosoknya tiba-tiba terbagi menjadi dua, lalu tiga, empat…
Bayangan Aron pada akhirnya terbagi menjadi enam dan akhirnya berhenti.
Enam sosok Aron yang sama persis berbaris dengan rapi di depan Ichiro Watanabe.
“Tidak mungkin, pasti tidak mungkin, bagaimana kamu bisa membagi bayanganmu menjadi enam?”
Ichiro Watanabe berteriak : “Kamu bisa membelah bayanganmu menjadi enam dalam waktu yang begitu singkat? Saya sudah berlatih selama dua puluh tahun dan baru bisa membagi menjadi empat bayangan, kamu bisa membagi menjadi enam bayangan dalam waktu tiga hari? Ini benar-benar mustahil…”
__ADS_1
Ichiro Watanabe menggeram, dia tidak berani mempercayai bahwa yang di depannya adalah kenyataan, karena bagi dia ini adalah pukulan yang sangat berat.
Meskipun bayangan ini tidak memiliki kekuatan menyerang, mereka hanyalah bayangan tapi mereka dapat digunakan untuk mengecoh lawan dan mereka bisa dikalahkan tanpa harus melakukan apapun.
Di atas ring, Ichiro Watanabe menggunakan bayangannya untuk menyerang dan hampir membunuh Audrey hidup-hidup karena kelelahan.
“Tidak ada yang tidak mungkin…”
Aron tersenyum tipis dan semua bayangannya kembali menyatu : “Kamu ingin bunuh diri, atau ingin saya yang turun tangan?”
Mata Ichiro Watanabe berkedut dan menggertakkan giginya : “Kamu kira saya akan menyerah hanya dengan seperti itu?”
Setelah Ichiro Watanabe berkata, dia menatap tiga pria berjubah hitam itu dan berkata : “Pengorbanan…”
Tiga pria berjubah hitam itu mendengar perkataan Ichiro Watanabe dan tercengang, rasa takut seketika terlihat di mata mereka.
“Tuan Muda Watanabe…”
Tiga pria berjubah hitam itu menatap Ichiro Watanabe dengan memelas.
“Kalian ingin memberontak? Pikirkan keluarga kalian…”
Ichiro Watanabe mengancam tiga orang itu.
Tiga orang itu bergidik dan saling menatap lalu pada akhirnya memukul dada mereka sendiri.
__ADS_1